Jendela

Uzlah Politik

Usai sudah masa kampanye Pemilu 2019. Kini kita memasuki masa tenang. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia disebutkan, kata ‘tenang’

Uzlah Politik
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Usai sudah masa kampanye Pemilu 2019. Kini kita memasuki masa tenang. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia disebutkan, kata ‘tenang’ berdekatan maknanya dengan diam, reda, hening, senyap, sepi, damai, tenteram, teduh, sejuk, dan sabar. Semua kata ini bermakna positif.

Tenang berarti kembali ke asal yang sejati, laksana laut tak bergelombang. Tenang berarti menjauhkan diri dari keributan, keriuhan dan kebisingan politik yang gegap gempita selama beberapa bulan terakhir. Dalam kebisingan, kita sesungguhnya tidak mendengar apa-apa. Ada banyak suara, tetapi tidak jelas artikulasi dan maknanya. Dalam keributan, tiap orang hanya ingin didengarkan, bukan mendengarkan.

Manusia memang makhluk pribadi dan sosial sekaligus. Tiap orang adalah pribadi yang unik, khusus dan istimewa. Tidak ada dua manusia yang seratus persen sama meskipun kembar. Namun, manusia juga anggota masyarakat, lingkungan sosial yang mempengaruhi dan dipengaruhinya. Tidak ada manusia yang tumbuh tanpa bantuan manusia lain kecuali dalam kisah fiktif Hayy bin Yaqzhan atau Tarzan.

Berbincang tentang pertarungan politik seringkali menarik karena ia adalah salah satu sisi dari kedirian kita sebagai makhluk sosial. Dalam politik, yang muncul adalah diri sosial kita. Emile Durkheim menyebut diri sosial kita sebagai ‘penghadiran kebersamaan’ (collective representation) melalui simbol-simbol. Teori ini semula dia terapkan untuk agama, tetapi juga pas untuk politik, apalagi jika keduanya digabung.

Menurut Durkheim, agama hadir atau dihadirkan melalui simbol-simbol yang mempersatukan manusia. Misalnya, ada salib bagi orang Kristen atau Ka’bah bagi orang Islam. Politik juga demikian. Ada beringin untuk Partai Golkar atau garuda untuk Gerindra . Orang akan terserap oleh kekuatan magnetik simbol kebersamaan itu. Lama-lama, kebersamaan itu, kata Durkheim, menjadi sakral, bahkan menjadi Tuhan!

Tetapi kebersamaan yang dihadirkan melalui simbol-simbol itu tidak akan mampu merangkul manusia jika tidak menawarkan sesuatu yang sesuai dengan kepentingan pribadinya. Kepentingan tiap orang tentu berbeda-beda, dari yang sangat duniawi hingga nilai-nilai moral yang tinggi. Ketika berbagai kepentingan itu bisa dipertemukan, maka simbol kebersamaan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Di sisi lain, andai simbol kebersamaan itu hanya satu, adu suara tidak akan sampai gegap gempita. Yang terdengar mungkin suara-suara yang berbeda, tetapi masih dalam tangga nada yang sama. Kegaduhan akan mudah terjadi ketika muncul simbol-simbol yang tidak hanya berbeda tetapi bertarung untuk kepentingan yang beragam pula. Inilah tampaknya yang terjadi dalam keriuhan politik kita.
Karena itu, dalam keheningan kesendirian, patut kiranya kita merenung tentang kepentingan diri di satu sisi, dan kebersamaan di sisi lain. Kaum Sufi mengajarkan tentang pentingnya uzlah, yakni mengasingkan diri dari keramaian. Uzlah bukanlah eskapisme, lari dari kenyataan hidup. Uzlah adalah tindakan sadar untuk menutup segala gangguan dari luar diri agar diri bisa melakukan introspeksi dan konsentrasi.

Masa tenang laksana masa uzlah, yakni uzlah dari keributan politik, menarik diri dari keramaian untuk merenung tentang apa yang telah terjadi. Mengapa sebagian dari kita mau bertengkar habis-habisan bahkan sampai putus persahabatan hanya gara-gara pilihan politik yang berbeda? Mengapa sebagian dari kita mudah percaya bahkan sengaja menyebarkan berita bohong? Apa kepentingan pribadi kita?

Melalui introspeksi itu, kita mungkin akan menemukan kembali diri pribadi kita sekaligus kebersamaan kita sebagai bangsa. Melalui uzlah itu, kita kiranya dapat menyadari kekurangan dan kelebihan calon yang kita pilih, karena kita dan para calon itu pada hakikatnya adalah sama, yakni sama-sama sebagai manusia. Calon idola kita bukanlah malaikat, lawan calon idola kita bukan setan. Kita semua manusia.

Alhasil, meminjam istilah Sufi, dalam masa uzlah politik ini, kita diharapkan bisa menyaksikan yang satu di dalam yang banyak, yang banyak di dalam yang satu; diri kita sebagai individu, sekaligus diri sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Hanya dengan cara itu, kita akan kembali memanusiakan diri kita! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved