BUMN Semakin Kuat dan Kokoh, Kini Jumlahnya Bertambah Jadi 143

Tidak hanya itu, BUMN juga aktif dalam peningkatan kesejahteraan rakyat melalui penyaluran KUR senilai Rp 113,9 triliun kepada 4,3 juta nasabah.

BUMN Semakin Kuat dan Kokoh, Kini Jumlahnya Bertambah Jadi 143
banjarmasinpost.co.id/kompas.com
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Indonesia pernah mengalami masa kelam di bidang ekonomi karena badai krisis tahun 1997-1998.

Saat itu neraca pembayaran pincang dan berdampak sistemik ke berbagai sektor ekonomi lainnya, mulai dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang jatuh, tingkat inflasi tinggi, harga barang dan bahan pokok meroket serta utang korporasi yang berlipat-lipat sehingga bank-bank nasional terpuruk.

Mengutip laporan tahunan Bank Indonesia (BI) tahun 1998, jumlah kredit macet di perbankan nasional mencapai hingga Rp 10,2 triliun.

Alhasil, ratusan perusahaan pun bertumbangan dan angka pengangguran melonjak hingga 20 juta orang.

Situasi tidak mengenakkan tersebut juga dialami unit usaha milik negara.

Baca: Telat Menjalani Perekaman KTP-el, Puluhan Napi Lapas Karangintan Tak Bisa Gunakan Hak Pilih

Baca: Grogi Luna Maya Berjumpa Ariel NOAH di Panggung, Suami Nagita Slavina, Raffi Ahmad Lakukan Ini

Baca: Mengulik Cerita Para Pengajar Wanita di Lapas Banjarbaru, Semangat Warga Binaan Jadi Motivasi

Dengan pengelolaan yang kurang transparan dan tidak profesional, mereka pun ikut tersapu badai krisis karena tidak memiliki cadangan modal atau aset yang cukup untuk menutupi kenaikan biaya operasional ataupun biaya produksi.

Oleh karena dirasa peran BUMN terhadap keuangan negara sangat signifikan, pemerintah kemudian membentuk Kementerian BUMN pada 13 April 1998, pembenahan total langsung dilakukan cepat.

Pembenahan pun dilakukan cepat melalui penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance, lalu penetapan strategi bisnis yang lebih terfokus sesuai fungsi dan tugas masing-masing BUMN, baik untuk jangka pendek, menengah maupun panjang.

Tak hanya itu, pengelolaan ketenagakerjaan pun dirombak habis dengan mengutamakan aspek kemampuan dan profesionalisme, bukan lagi atas dasar perkawanan atau hubungan keluarga.

Proses transformasi BUMN tersebut kini terus menuai hasil yang jelas, sebagai agen pencipta nilai, agen pembangunan, perintis kegiatan usaha serta mengutamakan ekonomi kerakyatan, semuanya dijalankan dengan baik.

Halaman
1234
Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved