Opini

Menuntaskan Kenakalan Remaja Masa Kini

Berangkat dari kasus kenakalan remaja yang viral, seorang siswi SMP di Pontianak yang baru-baru ini menjadi korban pengeroyokan siswi SMA

Menuntaskan Kenakalan Remaja Masa Kini
kolase Instagram
Atta Halilintar hingga Hotman Paris beri dukungan untuk Audrey 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Berangkat dari kasus kenakalan remaja yang viral hingga saat ini, seorang siswi SMP di Pontianak yang baru-baru ini menjadi korban pengeroyokan siswi SMA, peristiwa semacam ini tentu sangat disayangkan oleh semua pihak, kejadian ini memicu petisi online ‘justice for Audrey’ bahkan tagar #JusticeForAudrey# sempai menjadi trending topic dunia pada hari selasa (9/4).

Berdasar kasus tersebut di atas, penulis akan mencoba memandang serta menganalisa melalui sudut pandang pola asuh, bagaimanapun juga pola asuh yang diterapkan oleh orangtua serta lingkungan para remaja tersebut sedikit banyaknya akan berdampak terhadap perilaku serta sikap sehari-hari.

Pola asuh adalah bagian terkecil dari sebuah pendidikan dan pola pengasuhan menjadi sebab terjadinya kenakalan remaja, sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Arini Mukhlis dkk, yang dipublikasikan pada Jurnal Lentera Pendidikan Vol. 21 No. 1 Juni 2018.

Baca: Ramadan dan Harga Bawang

Baca: Cinta Buta Reino Barack Untuk Syahrini, Mantan Luna Maya Tetap Kagumi Meski Begini

Baca: Reaksi Tak Terduga Putra Maia Estianty, Al & Dul Atas Jaminan Penangguhan Penahanan Ahmad Dhani

Senada dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2004) juga menyebutkan bahwa, pengasuhan orang tua memberikan pengaruh terhadap munculnya gejala kenakalan remaja sebesar 19.4 persen.

Pengasuhan yang ditanamkan oleh orangtua berfungsi sebagai kontrol emosional antara orang tua dan anak, apabila ditelaah lebih dalam lagi cukup banyak kesalahan orang tua dalam menerapkan pola pengasuhan terhadap anak misalnya, orangtua beranggapan bahwa dengan cara memarahi, mencela, serta memberikan hukuman fisik semaunya orang tua itu adalah bentuk yang lazim dari pendidikan anak, padahal itu jelas merupakan tindakan yang salah.

Dalam teori Psikologi Perkembangan Anak disebutkan bahwa, pertumbuhan dan perkembangan anak diisi oleh pendidikan yang dialami dalam hidupnya, baik dalam keluarga, masyarakat dan sekolah.

Dalam teori tersebut digambarkan bahwa, anak yang didik dan dibesarkan dengan kasih sayang maka anak tersebut kelak akan tumbuh menjadi orang yang penuh kasih sayang, sebaliknya anak yang dididik dan dibesarkan dalam kekerasan dan tekanan maka anak tersebut kelak akan tumbuh dengan jiwa keras dan penantang.

Prophetic Parenting
Pendidikan anak ala Rasulullah SAW, saat ini lebih populer dengan sebutan Prophetic Parenting. Prophetic Parenting sebuah konsep yang menawarkan pola asuh anak yang berlandaskan serta berkiblat kepada Rasulullah SAW dalam mendidik anak-anak serta para sahabat beliau. Hal yang terpenting dalam konsepsi Prophetic Parenting ini adalah pola keteladanan (Uswatun Hasanah) yang terpancar dalam diri Rasulullah SAW.

Konsep Prophetic Parenting yang mendasar dimulai pada saat proses pemilihan calon Bapak dan calon Ibu untuk anak. Dalam proses pemilihan calon Ibu sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang Artinya : perempuan itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung. (Hr. Bukhari)

Begitupula dengan seorang calon Bapak sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya :
Jika (seorang lelaki) datang (untuk meminang anak perempuan kamu) dan kamu berpuas hati dengan agamanya serta akhlaknya, nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kamu). Jika hal itu tidak kamu lakukan maka akan terjadi fitnah di (muka) bumi.” (Hr. Abu Hurairah)

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved