Berita HSS

Rumah Adat Banjar Balai Balaki di Tibung HSS, Sering Dikagumi Wisatawan Luar Negeri

Rumah bersejarah milik pribadi mantan Gubernur Kalsel HM Said tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya, sekitar tahun 2000-an lalu.

Rumah Adat Banjar Balai Balaki di Tibung HSS, Sering Dikagumi Wisatawan Luar Negeri
banjarmasinpost.co.id/hanani
Salah satu sudut rumah banjar Balai Laki di Jalan Sudirman, Tibung Raya, Kandangan, Kabupaten HSS 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Salah satu cagar budaya, berupa rumah adat Banjar, Balai Balaki di Jalan Jenderal Sudirman, Tibung Raya, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan sampai sekarang masih lestari dan terawat dengan baik.

Rumah bersejarah milik pribadi mantan Gubernur Kalsel HM Said tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya, sekitar tahun 2000-an lalu.

Pemeliharaannya, di bawah tanggungjawab  Pemkab HSS, melalui juru pelihara Saidi, warga Desa Amawang. Di samping rumah Banjar tersebut, pemilik rumah membangun penginapan, atau wisma Amawang, yang sering kedatangan tamu mancanegara.

 “Ketika ada program Visit Indonesia Year dulu, banyak tamu asing yang berkunjung ke Loksado, dan memilih menginap di Wisma Amawang, dan sering bersantai di ruang tamu rumah banjar ini. Mereka antara lain dari negara Kanada, Amerika, Singapura, Thailand, China serta Arab Saudi dan Hadral Maut,”kata Saidi yang menjadi penjaga dan memelihara rumah adat tersebut sejak berusia 17 tahun, hingga sekarang berusia 45 tahun.

Baca: Peringatan Ustadz Abdul Somad ke Saksi TPS, Roy Kiyoshi Ramal Pilpres 2019, Prabowo atau Jokowi?

Rumah Adat Banjar Balai Laki sendiri terletak di pinggir jalan raya arah ke Amawang, dengan halaman parkir yang cukup luas. Saidi mengatakan, semua bagian bangunan masih asli, meski ada beberapa penggantian bahan seperti pengecatan, serta penambahan bagian dapur di bagian belakang.

Rumah tersebut memilik empat jendela di ruang tamu yang tinggi dan lebar-lebar. Di dalam rumah, juga terdapat sejumlah perabotan yang masih asli, seperti meja dan kursi makan, lemari etalase benda kuno, lampu hias.

Rumah Banjar Balai Laki dibangun 15 September 1930, jauh sebelum kemerdekaan RI. Dibangun semasa pemerintahan kolonial Belanda, dan memiliki sertifikat pemerintah Simpur, yang zaman dulu menjadi kota Kabupaten, sebelum Kandangan.

Rumah Banjar Bubungan Tinggi di Desa Habirau Kecamatan Daha Selatan, HSS
Rumah Banjar Bubungan Tinggi di Desa Habirau Kecamatan Daha Selatan, HSS (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Menurut Saidi, HM Said merupakan generasi ketiga yang menempati rumah tersebut. Sedangkan pemilik asal adalah kakeknya bernama, Ompon bin Isnin.

Baca: Foto Raline Shah Digunakan Media Korea Terkait Kasus Prostitusi Libatkan Seungri BIGBANG

Cagar Budaya itu juga pernah dijadikan tempat syuting pembuatan film perjuangan sejarah kerajaan banjar, dan sekarang banyak yang meminta izin untuk berfoto prewedding. Saat ini, keluarga pemilik rumah, yaitu HM Said tinggal di Jakarta. Perawatan dan pemeliharaan sepenuhnya diserahlan pada Saidi

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdik HSS, Sri Wiyono kepada banjarmasinpost.co.id membenarkan, Rumah Adat Banjar Balai Laki di bawah pemeliharaan Pemkab HSS meluli Bidang Kebudayaan, yang dananya dianggarkan d APBD. DIsebutkan, di HSS ada 22 Cagar Budaya, terdiri rumah adat Banjar, makam bersejarah, masjid, monument perjuanganserta Situs Hamuk ANtarukung.

Rumah Banjar Gajah Manyusu, di Desa Karang Jawa Kandangan, HSS
Rumah Banjar Gajah Manyusu, di Desa Karang Jawa Kandangan, HSS (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Khusus untuk rumah Banjar, ada empat yang dijadikan cagar budaya, yaitu Balai Laki, di Tibung Raya, Rumah Banjar Gajah Manyusu di Desa Karang Jawa,Kandangan, Rumah BAnjar Palimasan di Desa Durian Rabung Kecamatan Padang Batung serta Rumah Banjar Bubungan Tinggi, di Desa Habirau Kecamatan Daha Selatan.

Namun, yang pemeliharaannya di bawah pemerintah pusat hanya dua yaitu Gajar Manyusu di Karang Jawa dan Bubungan Tinggi di Daha Selatan.

Baca: Gunana Teknologi Sistem Solar Cell, Ikan Bisa Hidup di Air IPAL RSU Al Mansyur Medika

Sebagai cagar budaya, konsekwensinya pemilik rumahpun tak boleh mengubah bangunan. “Jika ada penggantian atau rehab, harus mendapat izin dari pemerintah pusat di bawah Kemendikbud,”kata Sri Wiyono.

Salah satu sudut rumah banjar Balai Laki di Jalan Sudirman, Tibung Raya, Kandangan, Kabupaten HSS
Salah satu sudut rumah banjar Balai Laki di Jalan Sudirman, Tibung Raya, Kandangan, Kabupaten HSS (banjarmasinpost.co.id/hanani)

DIakui, keempat rumah adat cagar budaya tersebut statusnya milik pribadi. Pemerintah kesulitan membeli, karena pemilik rumah rata-rata mengajukan tarif yag terlampau tinggi, miliaran rupiah. Solusinya, tetap dimiliki secara pribadi, namun diberi biaya pemeliharaan dan harus meminta izin jika ada penggantian bahan maupun mengubah sesuatu dari aslinya. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved