Berita HST

Tuna Aksara di Pengungan Meratus Tetap Gunakan Hak Pilih, Diberi Bantuan Anggota KPPS

Warga Pegunungan Meratus yang memiliki hak pilih tak semuanya paham dengan tata cara, aturan, dan cara memilih anggota legislatif, DPD, dan presiden.

Tuna Aksara di Pengungan Meratus Tetap Gunakan Hak Pilih, Diberi Bantuan Anggota KPPS
banjarmasinpost.co.id/eka pertiwi
Petugas KPPS membantu warga di Pegunungan Meratus HST, untuk melakukan pencoblosan, di TPS, Rabu (17/4/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Warga Pegunungan Meratus yang memiliki hak pilih tak semuanya paham dengan tata cara, aturan, dan cara memilih anggota legislatif, DPD, dan presiden dan wakilnya.

Buktinya, pada pemilihan Rabu (17/4/2019) di kawasan Gunung Meratus di Desa Kiyu dan Desa Atiran Kecamatan Batang Alai Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah, pemilih harus didampingi oleh anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

Alih-alih mengerti pada saat pencoblosan, warga justru kebingungan melihat surat suara asli. Sebab, untuk pemilihan legislatif baik tingkat kabupaten hingga tingkat nasional, tidak ada gambar calon.

Di Desa Kiyu misalnya, hampir semua pemilih memerlukan bantuan anggota KPPS untuk memilih calon yang mereka dukung. Sebab, hampir 75 persen warga Kiyu merupakan tuna aksara.

Baca: Ini Penjelasan Komisioner KPU Kalsel Terkait Molornya Proses Pencoblosan Pemilu 2019 di Lapas

Mili (20) warga Desa Kiyu, mengaku tak paham cara mencoblos. Bahkan, di bilik suara, Mili memerlukan bantuan petugas KPPS. Tak hanya itu, untuk membuka, mencoblos, dan melipat kembali Mili memerlukan waktu hingga 20 menit.

Parahnya hingga memasukan surat suara Mili juga tak paham sehingga perlu diarahkan oleh petugas KPPS.

"Namanya juga buta huruf. Dulu hanya sekolah TK, belum bisa baca tulis. Bahkan, tadi saat memasukan surat suara berdasarkan warna saya tidak paham," katanya.

Dibeberkan Mili, petugas KPPS hanya membantu menunjukan calon yang ingin ia pilih. "Saya maunya yang ini. Dia tunjukan saya yang coblos," katanya.

Hal serupa juga terjadi pada Maslian (30), warga Desa Kiyu ini juga tak paham dengan proses pemilihan. Bahkan, ia tak tahu jika surat suara yang diberikan anggota KPPS kelebihan.

"Orang nyoblos lima kali saya enam kali. Lima dimasukan, satunya tidak sah," bebernya.

Baca: Ini Penjelasan KPU Banjar Satu DPT Satu TPS Dalam Lapas Perempuan Kelas II A Martapura

Tak hanya itu, Warga Atiran, Undi (80) juga buta huruf. Banyaknya permintaan dampingan dari petugas KPPS di Pegunungan Meratus menambah daftar banyaknya tuna aksara di pedalaman.

"Membaca aja kada bisa (membaca saja tidak bisa, red)," cetusnya.

Menurutnya, yang penting ia sudah memberikan kontribusi suaranya pada pemilu kali ini.

Di Batang Alai Utara ada 5.188 pemilih dengan total 28 tempat pemungutan suara. (Banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi)

Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved