Jendela

Politik Kebenaran

Apakah arti kebenaran? Apakah ukuran yang digunakan untuk menentukan dan membedakan antara yang benar dan palsu, khususnya dalam kajian ilmiah?

Politik Kebenaran
Mujiburrahman 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUDAH hampir seminggu pencoblosan Pemilu 2019 berlalu, tetapi hiruk-pikuk jagat politik belum juga reda. Hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei menujukkan kemenangan Jokowi-Ma’ruf, tetapi kubu Prabowo-Sandi juga mengklaim kemenangan berdasarkan hasil hitungan internal mereka. Akhirnya, semua dihimbau untuk menunggu hasil hitungan manual KPU sambil tetap menjaga persatuan nasional.

Inilah dinamika politik negeri kita. Kasus ini, yang dulu juga terjadi pada Pemilu 2014 dengan dua calon presiden yang sama, mendesak kita untuk merenung secara lebih mendalam tentang makna kebenaran dalam kaitannya dengan hasil hitung cepat itu. Apakah arti kebenaran? Apakah ukuran yang digunakan untuk menentukan dan membedakan antara yang benar dan palsu, khususnya dalam kajian ilmiah?

Dalam KBBI disebutkan, kata ‘benar’ antara lain berarti betul, lurus, sungguh-sungguh, dapat dipercaya dan sesuai sebagaimana adanya. Dalam bahasa Arab, benar atau kebenaran disebut al-haqq yang berarti benar sekaligus nyata, dan lawannya adalah bâthil. Dua kata ini juga diserap dalam bahasa Indonesia (hak dan batil). Selain itu, kata ‘hak’ juga berarti kewenangan atau kekuasaan yang dimiliki seseorang.

Menurut pakar filsafat Ilmu, Jujun S. Suriasumantri (2017), kebenaran ilmiah adalah kebenaran rasional dan empiris. Rasional artinya masuk akal. Empiris artinya dapat dibuktikan oleh pancaindera. Kebenaran rasional lahir dari pola pikir deduktif, yakni dari umum ke khusus. Semua manusia akan mati. Ali adalah manusia. Maka Ali akan mati. Jika A=B dan B=C, maka A=C. Matematika juga sarana berpikir deduktif.

Kebenaran rasional makin kuat jika didukung oleh kenyataan empiris. Di sinilah diperlukan pola pikir induktif, dari kasus-kasus khusus ditarik kesimpulan umum. Jika kita ingin tahu, apakah seorang calon legislatif akan mendapat dukungan atau tidak, kita perlu menanyai sejumlah calon pemilih. Kemudian hasilnya diolah melalui statistika sebagai sarana berpikir ilmiah untuk menarik kesimpulan induktif.

Hasil hitung cepat (quick count) adalah hasil akhir dari analisis statistik terhadap data yang dikumpulkan dari sejumlah sampel yang telah ditentukan. Karena itu, hitung cepat, jika dilakukan sungguh-sungguh dengan metodologi yang benar, jelas dapat diandalkan. Terbukti, selama ini hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei tidak jauh berbeda dengan hasil hitungan manual KPU. Inilah kebenaran ilmiah.

Kebenaran ilmiah memang tidak mutlak, tetapi kemungkinan besar benar (probability). Akal dan indera kita jelas memiliki keterbatasan, tetapi dalam banyak hal, hidup kita tergantung pada keduanya. Tuhan memberi kita akal dan indera agar kita dapat menyerap dan mengembangkan ilmu. Ilmu berkembang antara lain karena alam dan kehidupan ini diciptakan dalam keteraturan yang dapat dipelajari.

Apakah mereka yang menolak hasil hitung cepat berarti menolak kebenaran ilmiah? Bisa ya, bisa tidak. Ya, jika mereka menganggap hasil kajian ilmiah hanya omong kosong. Lebih parah lagi jika, akibat media sosial, mereka terkena wabah pasca kebenaran (post-truth). Sesuatu hanya dianggap benar jika sesuai dengan keinginan pribadi dan emosi belaka. Logika, nalar dan bukti tidak perlu diperhatikan lagi.

Apalagi, nalar politik dan nalar ilmiah seringkali tidak sejalan. Nalar politik adalah menang-kalah, sedangkan nalar ilmiah adalah benar-salah. Dalam pertarungan politik, orang ingin benar dan menang, atau yang penting menang, meskipun salah? Jika pilihannya adalah yang penting menang, maka orang akan mudah menyangkal kebenaran, termasuk kebenaran ilmiah. Yang muncul emosi atau kuat-kuatan.

Tetapi bisa juga, mereka bukannya tidak percaya pada kebenaran ilmiah, melainkan pada semua orang di luar kelompoknya. Garis pemisah antara aku dan kamu, kita dan mereka, begitu tebal, dan jurangnya begitu luas dan dalam. Berita dan propaganda politik memang cenderung hitam-putih dan membelah. Kecurigaan bahkan kebencian pada pihak lawan, jika tidak ditapis jernih, bisa sampai ke ubun-ubun.

Alhasil, politik bisa membuat kebenaran dipalsukan dan kepalsuan dibenarkan. Akibatnya, hilanglah kepercayaan. Padahal, kebenaran dan kepercayaan adalah modal dasar bagi kehidupan bersama. Kita berharap, kelak hasil hitung manual KPU akan diterima semua pihak sebagai kebenaran sehingga kita kembali saling percaya. Jangan sampai ketidak-saling-percayaan yang justru terus-terusan dipelihara! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved