Opini

Menjadi Kartini yang Literat

Saya baru mengikuti Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional yang diadakan di Jakarta

Menjadi Kartini yang Literat
net
SMA Banua Kalsel

RISA LISDARIANI MPd
Guru Bahasa Indonesia
SMAN Banua Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - Beberapa minggu lalu saya baru mengikuti Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional yang diadakan di Jakarta oleh Pusat Perbukuan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Kegiatan yang sangat padat dengan materi-materi serta praktik baik berliterasi dilaksanakan oleh seluruh peserta yang terdiri atas peserta guru, pegiat literasi, dan penyuluh bahasa. Selama seminggu kegiatan berlangsung dan berakhir dengan harapan-harapan ke depan mengenai kelanjutan program berliterasi.

Yang menarik, dari jumlah peserta sekitar seratusan lebih, hampir 75 persennya adalah dari kalangan perempuan, baik itu pegiat, guru, maupun penyuluh bahasa. Ada apa ini? Sejenak pemikiran saya mengarah pada peran perempuan sekarang.

Baca: KPU Sebut Jumlah Petugas KPPS Meninggal 90 Orang, Jokowi Ucapkan Duka Cita

Baca: Viral Fadli Zon Disebut Tak Lolos Senayan, Yunarto Wijaya Ungkap Ini di Akun Twiternya  

Kecenderungan yang menurut saya menarik dan patut dibanggakan. Mengutip sebuah tulisan Bambang Trim yang berjudul Ketika Perempuan Penulis Mengalahkan Lelaki. Tulisan ini mengangkat fenomena kemampuan menuliskan sesuatu yang dirasa, dibaca dan dipikirkan oleh perempuan mampu mengalir sepanjang zaman.

Kartini adalah seorang penulis meskipun hanya menulis dalam bentuk kumpulan surat. Belakangan, marak bermunculan penulis-penulis perempuan yang menulis dalam genre yang bervariasi sampa-sampai mengalahkan jumlah penulis lelaki.

Literasi Abad ke-21
Literasi abad ke-21 menjadi isu menarik dalam kegiatan ini. Abad ke-21 memperlihatkan kepada kita bahwa begitu banyak perubahan drastis terjadi dari tahun ke tahun. Perubahan penting terjadi akibat kemajuan di bidang teknologi informasi yang mendorong kemudahan bagi setiap orang untuk berkomunikasi serta mengakses informasi dari mana pun dan kapan pun. Banjir informasi pun tidak terelakkan pada masa kini.

Hal ini berpengaruh pada siapa saja, tak terkecuali para perempuan. Lingkup kecil saja, saya akan mengedepankan perempuan di Indonesia. Perempuan Indonesia memang memiliki segudang cerita mulai dari yang cemerlang dengan segala keberhasilannya, sampai pada yang gagal dengan perjuangan dan atau menjalani kehidupan biasa-biasa saja tanpa ada inovasi.

Ketika kita mengenal sosok Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia yang berdampak sampai sekarang, tentu kita berbicara mengenai kemampuan seperti apa yang harus dimiliki perempuan ketika mampu membawa perubahan.

Perempuan dan kemajuan generasi yang akan datang merupakan hal yang tak dapat saling terpisahkan. Perempuan yang mampu menjadi sosok panutan, teladan dan motivator tentu bukan perempuan sembarangan, minimal untuk keluarganya. Kaitannya dengan abad ke-21 ini, perempuan harus mampu berpikir kritis dalam menyikapi segala hal. Jangan memakai kaca mata kuda! Buka wawasan sepenuhnya untuk pribadi dan terlebih jika berdampak bagi orang lain.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved