Berita Banjarmasin

Prof Idiannor Beberkan Penyebab Pengurangan Jumlah Variasi Jenis Ikan di Kalimantan Selatan

Ada kecenderungan telah terjadi pengurangan jumlah variasi jenis-jenis ikan di perairan karena berbagai sebab satu masalah penangkapan.

Prof Idiannor Beberkan Penyebab Pengurangan Jumlah Variasi Jenis Ikan di Kalimantan Selatan
Istimewa/idiannor
Prof.Dr.Ir.H.Idiannor Mahyudin, MSi 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - JENIS ikan arwana merah ini digemari masyarakat sebagai ikan hias dan banyak orang memanfaatkan ikan ini sehingga permintaan tinggi maka harga mahal. Terus dicari bibitnya di alam sehingga ketersediaan populasinya semakin hari semakin berkurang bahkan langka.

Hal itu disampaikan Pakar Agrobisnis Perikanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru rof.Dr.Ir.H.Idiannor Mahyudin, MSi.

Menurut dia sementara itu penangkarannya sangat jarang hanya satu sampai dua orang saja di Kalimantan Selatan.

"Jadi upaya pemerintah daerah mengembalikan bibit alam yang terlanjur ditangkap adalah upaya pelestarian jenis ikan arowana merah di perairan Kalimantan Selatan, sekaligus mengatasi tekanan lingkungan terhadap pengurangan jumlah variasi jenis ikan di perairan," katanya.

Baca: Indukan Arwana Red Banjar Dilepasliarkan di Riam Kanan

Baca: Baznas Kalsel Biayai 25 Ibu Hamil Prasejahtera Selama 6 Bulan, 10 Sudah Melahirkan di Kandangan

Baca: Hanya Satu Orang Difabel Lulus CPNS di Pemprov Kalsel. Peneliti Disabilitas ULM Protes

Dia menyebutkan, ada kecenderungan telah terjadi pengurangan jumlah variasi jenis-jenis ikan di perairan karena berbagai sebab satu masalah penangkapan yang tidak ramah lingkungan. Kedua, permintaan yang yang tetap tinggi terhadap produksi perikanan, Ketiga kemungkinan perubahan lingkungan.

"Selain itu ikan konsumsi yang ditangkap pun ukurannya semakin kecil karena faktor-faktor sebagaimana yang saya sebut di atas tadi penangkapan ikan secara ilegal seperti setrum masih ada di perairan Kalimantan Selatan tidak hanya menggunakan aki tapi sudah menggunakan mesin listrik kapasitas besar," katanya.

Menurut dia, Ketika kita akan melakukan usaha budidaya di luar produksi alam maka hambatan yang pertama adalah ketersediaan benih yang cukup terutama untuk ikan lokal yang sekarang sudah mulai digandrungi Karena harganya yang mahal yaitu haruan dan papuyu

Karamba Jaring Apung di Riam Kanan adalah bisnis yang prospek sangat bagus sekali. Masyarakat sudah banyak yang sukses dalam bisnis ini tentu tidak terlepas dari pengalaman dan pembinaan pemerintah khususnya Dinas Perikanan dan Kelautan baik Provinsi Kalimantan Selatan maupun Dinas Perikanan Kabupaten Banjar.

Baca: Analisa Roy Suryo Sikapi Pengakuan Istri Andre Taulany, Erin Taulany Saat Disebut Hina Prabowo

Baca: Siswa SMPN 2 Pulau Sembilan dari Pulau Matasirih Kotabaru Syok Mendengar Tanah Longsor di Desanya

Baca: ULM Catat Sejarah Penantian 60 Tahun Akhirnya Lahirkan Doktor, Rektor : Tinta Emas Sejarah ULM

Komoditi nila, mas, patin, gurami. Hanya saja sekarang ini ada kesulitan atau pengurangan profit karena harga pakan yang naik mencapai 300 persen sementara cara menaikkan produksi ikan tidak dapat lebih dari 100 persen. Masalah kenaikan pakan terkait pengaruh naiknya nilai nilai dolar terhadap rupiah bahan baku pakan seperti tepung ikan dan lain-lain masih tergantung impor.

"Masyarakat menceritakan kepada saya baru baru ini kalaupun dollar turun tapi harga pakan tidak mungkin turun seperti semula memang ada upaya untuk mengurangi biaya produksi dari pakan melalui proses pengolahan pakan buatan, namun hal itu dilakukan oleh pebisnis yang sudah berpengalaman saja. Masyarakat berharap nilai rupiah menguat," ucap dia.

(banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved