Berita Batola

Dampak Ambruknya Jembatan Mandastana, Empat Desa Terisolasi, Petani Batola Dirugikan

Ambruknya jembatan Mandasatana di Desa Bangkit Baru, Kecamatan Mandastana, sejak 17 Agustus 2017 silam sangat merugikan petani di Desa Tanipah.

Dampak Ambruknya Jembatan Mandastana, Empat Desa Terisolasi, Petani Batola Dirugikan
capture/banjarmasin post
Banjarmasin Post Edisi 25 April 2019 Halaman 9. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Ambruknya jembatan Mandasatana di Desa Bangkit Baru, Kecamatan Mandastana, sejak 17 Agustus 2017 silam sangat merugikan petani di Desa Tanipah, Desa Bangkit Baru dan desa-desa lainnya.

“Ada banyak desa di sekitar Jembatan Mandasatana yang semua warganya berprofesi sebagai petani.

Dengan ambruknya jembatan Mandastana ratusan petani sangat dirugikan,” kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Batola, Ali Sadikin.

Menurut Ali, petani saat ini sangat memerlukan Jembatan Mandastana untuk mengangkut sarana produksi (saprodi) pertanian, seperti benih, pupuk dan pestisida. Jadi pengangkutan saprodi pertanian Desa Bangkit Baru dan Tanipah saat ini sangat terganggu.

“Kami dari HKTI sangat mendukung jika Jembatan Mandastana segera dibangun. Kepentingan petani harus diutamakan. Kasihan petani mengangkut benih pakai sepeda saat ini. Mobil pikap tak bisa masuk melalui jembatan alternatif dari kayu karena sangat sempit,” katanya.

Baca: Jembatan Mandastana Akan Dibangun Lagi, Pemkab Batola Tunggu Proses Sidang Rampung

Dijelaskan Ali, Jembatan Mandastana sangat vital untuk penghubung antardesa, penghubung antarkecamatan dan penghubung antaradesa dengan kota atau kabupaten. Angkutan pertanian jika mengandalkan lewat jalur sungai sangat repot karena biayanya sangat mahal.

“Nah, ini harusnya menjadi pertimbangan aparat penegak hukum agar kasus jembatan Mandastana segera tuntas dan jembatan runtuh bisa segera dibangun kembali oleh Pemkab Batola,” katanya.

Ali menjelaskan kalau semua petani di sekitar Jembatan Mandastana ditanya soal ambruknya jembatan tersebut, pasti mereka mengeluh dan minta jembatan segera dibangun agar tranportasi pertanian segera lancar kembali.

“Tidak seperti sekarang ini, biaya produksi pertanian menjadi tinggi karena roda empat tak bisa lagi lewat jembatan. Kalau mengangkut hasil pertanian harus pakai sepeda motor atau kelotok, biayanya jadi mahal,” katanya.

Baca: Antisipasi Bencana Banjir, Babinsa Anjir Serapat Kapuas Ajak Masyarakat Bersihkan Sungai

Anang, salah satu warga RT 01, Desa Tapinah, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Batola, menyatakan warga saat ini punya harapan yang sangat besar sekali kepada pemkab setempat agar Jembatan Mandastana sesegera mungkin dibangun.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved