Tajuk

Memintarkan Calon Nasabah Online-online

Bagi sebagian orang (dan bisa jadi sebagian besar), pesan pendek dari orang atau lembaga fintech (atau semacam fintech) ini sangatlah mengganggu

Memintarkan Calon Nasabah Online-online
net
Pelayanan online 

BANJARMASINPOST.CO.ID - PERTANYAAN satir ini sering diajukan beberapa orang, karena pesan pendek yang masuk ke HP kita layaknya alarm tanda bangun tidur, atau tanda harus minum obat TB. Setiap hari selalu masuk dan bahkan jamnya pun seringkali (namanya seringkali, bisa jadi ada penyimpangannya) tetap.

Bagi sebagian orang (dan bisa jadi sebagian besar), pesan pendek dari orang atau lembaga fintech (atau semacam fintech) ini sangatlah mengganggu. Karena mereka benar-benar tidaklah membutuhkan pinjaman.

Namun, bagi sebagian (kecil) lainnya, SMS ini bisa menjadi dewa penolong. Di saat sedang perlu uang dan gagal atau tidak bisa mengakses lembaga keuangan konvensional, tawaran ini akan menjadi harapan dan solusi pada kesulitannya.

Karena hadir di tengah kegundahan atau bahkan di akhir harapan hidupnya, SMS dari lembaga fintech atau semacam fintech ini seringkali ditanggapi si penerima pesan dengan mengabaikan kehati-hatian.

Wal hasil, ketika dalam proses mengajukan pinjaman online-online, ia abai pada beberapa hal penting dan mendasar. Misalnya, soal legalitas platform peer to peer (P2P) Lending calon kliennya, syarat yang sangat merugikan atau bunga yang tidak masuk akal, atau ketentuan lainnya yang merugikan peminjam.

Wal hasil, ketika angsuran tersendat muncullah masalah yang sebelumnya tidak pernah dipahami oleh si peminjam, meski secara legal sudah disepakatinya saat proses akad.

Karena itulah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) seharusnya lebih gencar melakukan pemintaran masyarakat agar cerdas menanggapi promo pinjaman serta tahu secara sadar tentang proses pengajuan pinjaman dan akad termasuk bisa mengantisipasi jebakan batman.

OJK memang sudah membuat aturan tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, sebagaimana tertuang pada keputusannya Nomor 77/POJK.01/2016. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) juga telah membuat aturan etik (code of conduct).

Ketentuan-ketentuan tersebut sangatlah mulia karena dimaksudkannya untuk mewujudkan industri fintech yang sehat, bertumbuh, bertanggung jawab, dan melindungi kepentingan masyarakat/konsumen.

Namun, bila dibandingkan jumlah penerima SMS promo pinjaman, hanya sangat-sangat sedikit orang (calon konsumen) yang paham tentang ketentuan-ketentuan itu.

Demikian juga jumlah orang (warga bangsa) yang tahu 99 lembaga-lembaga fintech resmi dan 635 lembaga peminjaman online-online yang ilegal, bisa dibilang sangat-sangatlah kecil.

Jadi, mari pintarkan para calon nasabah online-online, yang bisa jadi jumlahnya akan semakin besar di kemudian hari. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved