Mereka Bicara

Orangtua Penggawa Literasi Keluarga

Tayangan TV dewasa ini, dinilai semakin tidak mendidik. Hampir 70 persen isinya adalah berupa drama atau sinetron.

Orangtua Penggawa Literasi Keluarga
THINKSTOCK.COM
keluarga bahagia 

OLEH: YOGYANTORO, Pendidik, Penulis Buku Literasi vs Hoaks sebagai Nominee Karya Terbaik Adi Acarya Award 2018

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dalam teori tabula rasa John Locke dan Francis Bacon dijelaskan bahwa jiwa anak-anak ibarat kertas putih yang akan diwarnai oleh apa yang mereka simak dan saksikan. Sekarang TV telah menjadi favorit jujugan anak-anak kita untuk pleasure dengan mudah karena TV menjangkau lebih dari 90 persen penduduk di negara berkembang. Anak-anak bisa menghabiskan waktu sampai 35 jam perminggunya untuk menonton TV.

Tayangan TV dewasa ini, dinilai semakin tidak mendidik. Hampir 70 persen isinya adalah berupa drama atau sinetron. Sinetron Indonesia banyak menawarkan tentang mimpi-mimpi gaya hidup yang serba mewah dan mengajarkan hedonisme.

Muatan yang terkandung sarat dengan balas dendam, rebutan pacar, rebutan warisan, keluarga yang tidak harmonis, hura-hura, ribut-ribut, marah-marah sampai melotot dan mengekspos adegan kekerasan seperti main pukul, pergaulan dan seks bebas. Intinya adalah menampilkan keburukan akhlak yang akan membangun naluri kekerasan yang terpendam pada setiap jiwa manusia.

Sungguh, tayangan TV mendidik dan bertema pendidikan, masih sangat kecil. Ironisnya, yang terkontaminasi tayangan tak mendidik ditayangkan pada jam tayang prima yang kurang tepat bagi anak, yaitu antara pukul 15.00 – 21.00.

Tayangan tidak mendidik akan meracuni otak anak-anak negeri para calon pemimpin bangsa di masa depan. Anak-anak cenderung meniru beberapa adegan yang sangat tidak sesuai dengan norma-norma pendidikan budi pekerti. Tayangan TV memang mendorong peniruan perilaku sosial bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan hiperealitas.

Dianjurkan agar para orangtua abad 21 mampu melindungi anak-anak dari serangan tayangan tidak mendidik yang muncul bertubi-tubi. Kesadaran orangtua sangat diperlukan untuk mendampingi dan mengawasi anak-anak ketika menonton TV.

Sebagai orangtua abad 21 harus bisa menilai mutu atau kualitas suatu tayangan dengan akurat. Orangtua dan masyarakat perlu memiliki komitmen bersama untuk menyatakan perang terhadap tayangan yang tidak mendidik. Jika kita cinta bangsa ini, kita perlu memboikot tayangan yang tidak mendidik bagi kita semua.

Anak-anak perlu diarahkan untuk mencari tayangan yang bersifat edukatif yang mampu menambah pengetahuan baik ekonomi, kesehatan, olahraga, pendidikan, budaya, dan teknologi yang mengedepankan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Selain itu, sebagai orangtua abad 21 perlu mengarahkan putra-putrinya mengikuti kegiatan yang bisa mengembangkan potensi mereka melalui kegiatan belajar kelompok, bermain console game, surfing internet, bermain dengan teman sebaya, melakukan riset-riset sederhana, ekstrakurikuler dan penumbuhan minat baca dalam keluarga. Hal ini akan menciptakan generasi intelek yang memiliki minat baca yang tinggi dan melek media atau literasi media.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved