Tajuk

Amanah Alam

Seorang ibu dan bayinya tertimbun tanah longsor di Pulau Matasirih, Desa Teluk Sungai RT 6 Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Kotabaru

Amanah Alam
Kiriman Warga Pulau Matasirih
Sebanyak 8 rumah rusak total dan 3 rumah rusak ringan akibat longsor di Pulau Matasirih, Kotabaru, Rabu (24/4/19) sekitar pukul 08.00 wita. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seorang ibu dan bayinya tertimbun tanah longsor di Pulau Matasirih, Desa Teluk Sungai RT 6 Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Kotabaru. Hingga Kamis (25/4) pencarian dilakukan. Bencana di kawasan tepi pantai itu juga merusak sekitar 11 rumah warga.

Tanah longsor terjadi menyusul hujan deras. Hujan deras terus mengguyur kendati berdasar Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau mulai berlangsung April ini.

Bagi mereka yang mengeluhkan banjir termasuk di Banjarmasih dan mengharapkan kemarau segera datang jangan senang dulu. Karena menurut Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Indra Gustar, kemarau yang datang lebih awal berpotensi menimbulkan kekeringan lebih tinggi. Jadi serbasalah.

Oleh karena serbasalah itulah kita harus memikirkan ulang apa yang telah kita perbuat terhadap alam ini. Pada edisi Senin 22 April 2019, BPost menampilkan headline mengenai nasib bekantan yang makin terjepit pembangunan.

Habitat mereka tergerus oleh penebangan hutan, perluasan permukiman dan perkembangan perkebunan kelapa sawit. Padahal bekantan merupakan maskot Kalimantan Selatan. Bahkan monyet berhidung mancung dan berambut cokelat ini dijadikan maskot Dunia Fantasi (Dufan) Jakarta.

Nasib bekantan kami angkat untuk memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April. Untungnya masih ada sejumlah orang sadar dan peduli seperti Sahabat Bekatan Indonesia (SBI) dan Bekantan Warrior.

Memperingati Hari Bumi, sejumlah aktivis lingkungan di Kalsel juga turun ke perempatan Jalan Lambung Mangkurat-Pangeran Samudera Banjarmasin dan membentangkan spanduk “Save Meratus”. Pegunungan Meratus terancam perambahan hutan. Padahal di sinilah paru-paru Kalsel.

Aksi Save Meratus makin giat setelah korporasi mulai merambah hutan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Padahal selama ini hutan di HST menjadi benteng terakhir dari serbuan pengusaha batu bara. Soalnya hampir seluruh kabupaten di provinsi ini telah dirambah oleh mereka.

Semua ini tentunya berkat bantuan dan izin pemerintah. Ada yang difasilitasi pemerintah daerah, ada pula yang berbekal izin pemerintah pusat. Pemerintah mengeluarkan izin dengan alasan guna menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Padahal akhirnya justru sebaliknya. Banjir dan longsor masih kerap terjadi.

Presiden dan para wakil rakyat yang baru tentunya juga harus memikirkan masalah ini. Bukan sebaliknya membalas jasa pengusaha yang mendukung mereka dengan memberikan konsesi yang makin merusak lingkungan. Selamat bekerja dan menyandang amanah yang juga harus dipertanggungjawabkan kepada alam. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved