Tajuk

Teringat Arab Springs

Klaim sebagai pemenang antara kedua belah pihak pendukung capres-cawapres Nomor urut 01 maupun Nomor urut 02 membuat ‘hawa panas’ politik Tanah Air.

Teringat Arab Springs
Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan
Hasil Quick Count Pilpres 2019 Mulai Pukul 15.00 WIB, Ikuti Hasil Litbang Kompas di Link Berikut! 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menunggu pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengenai hasil rekapitulasi akhir perhitungan suara Pilpres dan Pileg 2019 terasa sangat lama. KPU baru akan melakukan rekapitulasi perhitungan suara secara real count dan manual.

Rekapitulasi itu dilakukan pada 18 April 2019 - 22 Mei 2019, kemungkinan, KPU baru mengumumkan pada Selasa 22 Mei 2019 karena KPU memberikan waktu kepada pihak yang ingin menggugat hasil Pilpres jika sesuai jadwal menyelesaikan sengketa itu pada 23 Mei 2019 - 15 Juni 2019.

Klaim sebagai pemenang antara kedua belah pihak pendukung capres-cawapres Nomor urut 01 maupun Nomor urut 02 membuat ‘hawa panas’ politik Tanah Air memanas, apalagi di media sosial.

Perang opini di antara kedua pendukung kembali ramai di media sosial setelah sempat tenang sehari pascakeluarnya pengumuman hasil quick count dari sejumlah lembaga survei yang diverifikasi KPU. Saat itu, semua lembagai survei mengumumkan hasil quick count dengan keunggulan sementara ada di pihak capres-cawapres 01.

Namun, setelah pihak capres 02 mengeluarkan pernyataan klaim menang dan tidak percaya hasil quick count, dunia media sosial kembali ramai. Kedua pendukung saling memposting klaim kemenangan. Hingga ada menyebut KPU tidak fair atau situs KPU tak aman, sehingga muncul tagar (#) masif #INAelectionObserverSOS di media sosial untuk meminta bantuan hacker muslim Rusia untuk membantu perhitungan suara yang benar versi yang diinginkan oleh pihak pembuat atau pendukung tagar.

Walaupun seringkali ramai di media sosial belum tentu sama dengan di dunia nyata, tapi pada beberapa kasus, kehebohan di media sosial bisa jadi pemicu tindakan anarkistis di dunia nyata. Apalagi, jika ada pihak-pihak yang memang berencana tidak baik, membangun opini negatif di media sosial demi terjadinya kericuhan massal di dunia nyata.

Iran pernah mengalami kejadian suram pada Januari 2018. Demonstrasi berujung tindakan anarkistis terjadi di beberapa wilayah negeri itu dipicu oleh infomrasi-informasi tak benar di media sosial. Akibat rusuh, puluhan orang baik demonstran maupun aparat pemerintah tewas. Pemerintah Iran bahkan sampai menutup akses aplikasi Instagram dan Telegram.

Ingat pula istilah Arab Spring, yakni kejatuhan sejumlah pemerintahan di jazirah Arab mulai dari Tunisia, Mesir, Suriah Irak dan Yaman, mulai sekitar 2010, juga dipicu oleh pernyataan atau kabar dari media sosial. Dampak negatifnya, kondisi semua negara tersebut jadi tak menentu, muncul kekerasan dan anarkisme, pemerintahan yang tidak stabil hingga krisi multidimensi.

Jika melihat fenomena tersebut, kedua belah pihak baik pasangan capres dan cawapres maupun pendukung masing-masing patut menahan diri. Rekonsiliasi nasional harus segera dilakukan sebelum KPU mengumumkan hasil perhitungan suara akhir.

Jangan sampai pertemuan hanya wacana. Cawapres 02 Sandiaga Uno menyatakan siap bertemu dengan Cawapres 01 KH Ma’ruf Amin. Sebaliknya, Capres 01 Joko Widodo dan Capres 02 Prabowo Subianto juga harus bertemu demi mendinginkan suasana dan tensi yang memanas, terutama di media sosial. Siapapun pemenang Pilpres 2019, kita adalah satu, bangsa Indonesia. Jangan sampai bernasib sama dengan negara-negara Arab tersebut. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved