Kronika

Pilu Pascapemilu

TIDAK ada pemilu terbesar di dunia seperti di Indonesia. Juga tak pernah terjadi di jagad mana pun pemilu damai yang memakan korban sampai 225 orang.

Pilu Pascapemilu
Tribun-video.com/Monica
Hasil survei elektabilitas terbaru Jokowi-Ma'ruf Amin vs Prabowo-Sandi enam hari jelang pemungutan suara Pilpres 2019 dari berbagai lembaga survei. 

Oleh: Pramono BS

TIDAK ada pemilu terbesar di dunia seperti di Indonesia. Juga tidak pernah terjadi di jagad mana pun pemilu damai yang memakan korban sampai 225 orang meninggal dan sakit 1.470 orang, itu pun hari-hari belakangan masih bertambah. Mirip bom bunuh diri saja.

Pemilihan presiden/wapres dibarengkan dengan pemilihan anggota legislatif, mulai DPR, DPD, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota memang baru yang pertama kalinya.

Ribuan nama tertera dalam kertas suara yang harus dicoblos sesuai nuraninya oleh pemilih yang ngerti ataupun tidak, melek huruf atau buta huruf, priyayi sampai petani, ibu-ibu sosialita sampai emak-emak.

Alhamdulilah semua berjalan lancar. Memang ada lebih 2.000 TPS yang harus melakukan pemilu ulang atau susulan karena berbagai faktor mulai teknis sampai kesalahan panitia dalam memasukkan data.

Para petugas di TPS tidak hanya kerja keras tapi harus bekerja di luar kemampuan fisik sebagai manusia. Kerja lembur bukan satu dua jam tapi sampai menginap di TPS. Mereka bukan ahli-ahli statistik yang setiap hari bergulat dengan angka, tapi para sukarelawan dari kampung-kampung yang tak semua paham soal grafik, internet dll.

Sedang hasil coblosan yang harus dihitung begitu banyak dan njelimet, tidak hanya menyangkut capres/cawapres tapi juga hasil pilegnya dengan nama-nama caleg di bawah tanda gambar masing-masing. Ini membuktikan bahwa pekerjaan yang diembannya terkait pemilu sangat berat. Bukan pekerjaan ringan, diawasi oleh jutaan orang, belum lagi tekanan perasaan yang tak bisa dielakkan.

Penghitungan hasil pilpres mungkin yang paling menekan perasaan. Calonnya cuma dua pasang tapi semua perhatian tertuju ke situ. Ada pasangan yang tenang, ada yang "memaksa" harus menang. Hitungan belum selesai sudah sujud syukur, padahal hasil di TPS-TPS justru sebaliknya. Mereka menyatakan hitungan internalnya yang paling benar, hasil di luar itu dianggap salah dan curang. Bagaimana keringat dingin tidak mengucur terus.

Di dunia mana pun tidak ada penghitungan suara yang dilakukan sendiri menjadi penentu kemenangan pemilu. Ini bisa menjadi ancaman bagi KPU manakala nanti hasil akhirnya tidak sesuai keinginan pasangan calon yang sudah mendeklarasikan kemenangan berkali-kali. Apalagi sebelum pemilu pun mereka sudah mengancam akan turun ke jalan jika KPU curang. Kata curang ini yang menjadi senjata mereka.

Beda dengan pileg, banyak caleg tapi tak bisa protes. Mereka cuma stres, duit habis tapi tidak lolos. Ada yang gila, bahkan ada yang telanjang bulat lari-lari di jalan umum. Ada pula yang minta sembakonya dikembalikan. Yang masih lumayan waras pergi ke dukun minta ketenangan. Banyak lagi kisah menyedihkan yang dialami oleh para caleg yang gagal. Mereka orang-orang yang tidak siap dengan kekalahan, harta ludes, jiwanya terguncang. Tapi tidak ada yang memproklamirkan diri sebagai anggota dewan. Rumah Sakit Jiwa kini banyak yang membuka pintu untuk menampung mereka.

***

Tampaknya banyak yang sepakat, sistem pemilu/pilpres yang bersamaan perlu ditinjau kembali. Sebab terlalu banyak mudaratnya. Belum lagi kalau menghadapi calon yang ngeyel.

Misalnya pilpres sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum atau setelah pileg, karena ini menyangkut simbol negara. Sehingga tidak perlu ada dagang sapi seperti saat Joko Widodo mencari calon wapres. Tarik ulur tak terelakkan dan calon yang sudah diunggulkan dan ditunggu rakyat, pada saat terakhir dicoret, diganti figur lain yang tidak lebih baik. Tenaga dan pikiran habis hanya untuk bermain petak umpet mencari calon wapres, padahal logikanya energi habis untuk mencri capres yang harus teruji dan terpuji.

Pileg itu pun sebaiknya dipisah saja, antara DPR/DPD untuk pusat dengan DPRD Propinsi/Kabupaten/Kota untuk daerah. Sehingga pemilih tidak terlalu bingung menentukan siapa yang bakal dicoblos. Apalagi kalau ratusan caleg yang tertera dalam kertas suara tak satu pun yang mereka kenal, bisa-bisa asal coblos saja.

Sedang untuk pemilu daerah, karena wilayahnya kecil maka bisa dilakukan bersamaan dengan pilkada sehingga menguatkan otonomi daerah. Ada yang menyebut ini sebagai pemilu lokal, sedang yang di pusat pemilu nasional. Tak masalah, di Amerika Serikat pun presiden tidak dipilih bersama-sama semua anggota badan legislatif seperti DPR, senat dan DPR negara bagian, sehingga rakyat bisa konsentrasi dalam menentukan pilihan. Jangan terulang pemilu meninggalkan pilu seperti sekarang. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved