Jendela

Cermin Media Sosial

Bahkan boleh jadi, Anda pernah mengalami perundungan, dikritik habis-habisan hingga dicaci maki.

Cermin Media Sosial
IST
Rektor UIN Antasari Mujiburrahman

Prof Dr H Mujiburrahman SAg MA, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - PERNAHKAH Anda merasa kesal dengan pernyataan seseorang di media sosial? Sangat mungkin. Bahkan boleh jadi, Anda pernah mengalami perundungan, dikritik habis-habisan hingga dicaci maki.

Mungkin Anda merasa sakit hati karenanya. Tetapi mungkin pula Anda banyak mendapat pelajaran darinya.

Joy Roesma dan Nadia Mulya (2018) mengatakan, jika ada orang yang suka menyerang Anda bahkan menyerang siapa saja di media sosial, sangat mungkin orang tersebut hidupnya tidak karuan. Artinya, dia sendiri membenci hidupnya. Kemuakan terhadap diri sendiri itu tumpah ruah menjadi kebencian terhadap orang lain. Karena itu pula, dia sangat suka membagikan berita buruk dan negatif.

Jika kita setuju dengan teori di atas, maka kita tidak boleh panik dan marah ketika menerima komentar kasar atau makian orang di media sosial, apalagi membalasnya setimpal atau lebih kasar, karena orang yang memaki itu sesungguhnya lebih pantas untuk dikasihani ketimbang dimarahi. Dia membenci dirinya sendiri sebelum membenci Anda. Cercaannya sesungguhnya adalah cercaan terhadap dirinya sendiri.

Sudah beribu tahun kaum bijak bestari mengatakan, perilaku kita adalah cermin dari suasana batin kita. Jika hati kita damai-bahagia, perilaku kita, tutur kata dan sikap kita, akan mencerminkan kebahagiaan dan kedamaian pula. Kata-kata kotor dan kasar tidak akan keluar dari hati yang damai. Kita tidak bisa memberi kecuali apa yang kita miliki. Seorang yang hatinya penuh benci tak mungkin memberi cinta.

Dalam pandangan Islam, fitrah manusia, yakni hakikat kejadian dan kecenderungan alamiahnya, adalah baik, tidak jahat. Sebagai makhluk yang diberikan kebebasan moral untuk memilih antara yang baik dan yang buruk, manusia memang selalu dihadapkan pada godaan keburukan dan dosa. Tetapi hakikat sejati dirinya adalah baik. Karena itu, ketika berbuat jahat, manusia menyangkal hakikat dirinya yang baik itu.

Dengan demikian, perilaku buruk, termasuk dalam bermedia sosial, adalah penyimpangan dari kedirian manusia yang sejati, sehingga mengakibatkan penderitaan. Firman Allah, “Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka-lah yang menzalimi diri sendiri” (QS 16:33); “Jika kalian berbuat baik, maka kebaikan itu untuk diri kalian sendiri, dan jika kalian berbuat jahat, kejahatan itu untuk diri kalian pula” (QS 17:7).

Baik-buruk itu menyangkut moral. Selain hukum alam, manusia hidup dalam kerangka hukum moral. Intinya, kebaikan adalah kebahagiaan dan keburukan adalah penderitaan. Menurut Fazlur Rahman, Allah-lah yang menciptakan hukum moral itu. Tugas manusia adalah tunduk kepadanya. Ketundukan itu disebut Islâm, dan perwujudannya dalam kehidupan disebut ‘ibâdah, pengabdian kepada Allah.

Tentu saja, tidak membalas keburukan dengan keburukan, apalagi memaafkan dan melupakan tidaklah semudah mengatakannya. Di sini orang menghadapi perjuangan moral yang berat. Gandhi mengatakan, “Mereka tidak bisa merampas kehormatan kita, jika kita tidak memberikannya kepada mereka.” Eleanor Roosevelt mengatakan,” Tidak ada orang yang bisa menyakitimu kecuali kamu menyetujuinya.”

Bagi Gandhi dan Roosevelt, boleh jadi orang yang mencaci Anda adalah orang yang dengki pada Anda. Dengan caciannya itu, dia ingin Anda menderita. Alangkah ruginya Anda jika menuruti keinginannya itu! Tetapi mungkin pula, ada kebenaran dalam cercaan itu. Pembenci adalah orang yang paling melihat aib orang yang dibencinya. Jika demikian, terimalah cercaan itu sebagai nasihat untuk perbaikan diri Anda.

Wahai pembaca, janganlah Anda kira, saya sudah sebijak dan seteguh Gandhi dan Roosevelt. Saya pun seperti orang kebanyakan yang gampang terganggu oleh komentar kasar dan tidak bersahabat di media sosial. Seperti kebanyakan orang, saya pun terus mengalami pergumulan moral dalam menjalani hidup seperti diajarkan agama, bahwa hanya orang baik yang bahagia, dan orang jahat pasti menderita.

Alhasil, bahagia sejati itu memang tidak mudah diraih. Manusia harus benar-benar berjuang melawan hawa-nafsunya sendiri. Perilaku kita di media sosial adalah salah satu cermin dari berhasil tidaknya perjuangan moral kita untuk menjadi manusia yang baik/bahagia. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved