Kesehatan

Ponsel untuk Anak Setara dengan Sebotol Wine atau 1 Gram Kokain, Efeknya Sama ke Otak

Saat Anda memberikan tablet atau ponsel ke anak, itu seperti memberikan mereka sebotol wine atau segram Kokain.

Ponsel untuk Anak Setara dengan Sebotol Wine atau 1 Gram Kokain, Efeknya Sama ke Otak
Facebook Dachar Nuysticker Chuayduang via FeedyTV
llustrasi-Gadis kecil ini harus menjalani operasi mata di usia yang sangat muda karena kebiasaan buruknya bermain ponsel. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pengaruh buruk Gedget terhadap tumbuh kembang anak seolah dianggap biasa oleh orang tua.

Tidak heran, banyak orang tua yang memilih memberikan gedget dan memberiakan anak bermain dengan gedget.

Tak sedikit anak-anak yang kecanduan bermain gadget dan jadi malas bermain dan bergerak aktif.

Seorang terapis Kecanduan dari Inggris mengatakan, memberikan ponsel ke anak sama seperti "memberinya segram Kokain".

Baca: Live Streaming Resepsi Pernikahan Ammar Zoni dan Irish Bella, Ranty Maria dan Giorgino Abraham Ada?

Baca: Putra Nikita Mirzani Disebut Mirip Uya Kuya, Dipo Latief Ngotot Ingin Lakukan Ini untuk Anak Itu

Baca: Baru Umrah, Ayu Ting Ting Berbikini di Pantai Disorot, Teman Ivan Gunawan dan Ruben Onsu Sebut Ini

Waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengirim pesan di aplikasi percakapan atau membalas komentar di media sosial bisa menyebabkan Kecanduan pada anak remaja, seperti halnya Narkoba dan alkohol.

Mandy Saligari, spesialis kecanduan dari klinik rehabilitasi Harley Street London, mengatakan bahwa Kecanduan gadget seharusnya juga diatasi seperti halnya kecanduan Narkoba.

"Saya selalu mengatakan, saat Anda memberikan tablet atau ponsel ke anak, itu seperti memberikan mereka sebotol wine atau segram Kokain. Apakah kita siap membiarkan mereka dengan benda itu di balik pintu?" katanya.

Ia menjelaskan, penggunaan ponsel yang berlebihan memiliki dampak yang sama pada otak seperti halnya obat-obatan terlarang.

"Saat membicarakan perilaku kecanduan, biasanya orang langsung melihat pada zat berbahaya. Padahal, pola perilaku itu bisa mewujud dalam berbagai bentuk, misalnya obsesi pada makanan, melukai diri, atau mengirim teks bernuansa seks," katanya.

Di kliniknya, Saligari, mengatakan bahwa dua pertiga pasiennya adalah remaja berusia 16-20 tahun.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved