Tajuk

Tidak Wajib Tes Calistung Penerimaan PPDB

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengeluarkan peraturan terbaru tentang Penerimaan Peserta Didik Baru

Tidak Wajib Tes Calistung Penerimaan PPDB
edi nugroho
Ratusan lulusan SMP memadati SMAN 1 Banjarmasin di kawasan Mularman saat PPDB online zonasi, Senin (25/6/18) siang lalu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - ADA yang berbeda pada Penerimaan Peserta Didik Baru untuk siswa Sekolah Dasar tahun ini.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengeluarkan peraturan terbaru tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) melalui Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018.

Mengutip dari akun instagram resmi Kemendikbud @kemdikbud.ri dan Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018, beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai syarat masuk Sekolah Dasar (SD) untuk sekolah yang dikelola pemerintah daerah dalam PPDB 2018 diantaranya: Tidak wajib “Calistung”.

Dalam Permendikbud diatur calon siswa kelas 1 SD atau sederajat tidak dilakukan tes membaca, menulis, dan berhitung dalam proses PPDB.

Apa itu calistung? Calistung adalah singkatan dari membaca, menulis, dan berhitung. Banyak orangtua yang menyekolahkan dan memaksa anak harus bisa calistung saat duduk di prasekolah, namun ternyata hal itu tak baik bagi kondisi anak. Bahkan orangtua bisa melewatkan masa perkembangan anak yang penuh warna dengan bermain.

Ada keterampilan-keterampilan pendahuluan yang harus dimiliki anak sebelum akhirnya bisa calistung.

Keterampilan pendahuluan diberikan pada masa golden age. Yakni usia 0–6 tahun.

Pada masa ini, sebetulnya otak anak sedang mudah-mudahnya menyerap informasi yang dilihat dan dipelajari. Untuk usia 2–3 tahun, anak bisa mengikuti kelas toddler dan diajarkan bagaimana cara bersosialisasi, bermain, dan memang konsepnya belum untuk belajar.

Kelas berikutnya, usia 3 tahun, anak sudah diperkenalkan warna, angka 1–5, bentuk-bentuk datar, segi tiga, dan sebagainya. Ketika anak 4 tahun, mulai masuk Taman Kanak-kanak (TK) A serta masih diperkenalkan nama kendaraan transportasi, nama, bagian tubuh, sekolah, kesehatan, pantai, dan laut.

Setahun kemudian, TK B, metode belajarnya juga tidak jauh dengan TK A. Namun, dengan kesulitan yang berbeda. Jadi anak-anak usia 0–6 tahun ini diajarkan bermain dengan teman-temannya untuk bersosialisasi supaya anak tidak jadi pemalu. Jika masa keemasan anak ini sudah dilewati, barulah anak masuk ke tahapan perkembangan kemampuan calistung.

Anak bisa belajar membaca dan menulis di usia 6–7 tahun, karena di usia ini anak baru mencapai kematangan sensorik dan motorik.

Pada akhirnya semua anak pasti bisa membaca dan menulis, hanya waktunya yang mungkin berbeda-beda.

Jadi jangan khawatir bila anak lain sudah menguasai keterampilan tertentu, sementara anak Anda belum.

Lihat kisaran usianya saja, jangan memaksa belajar membaca terlalu dini.

Apabila dipaksakan untuk membaca dan menulis pada waktu belum siap, anak akan memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan serta muncul penolakan.

Kini pemerintah sudah mengambil langkah baru dengan tidak mewajibkan tes calistung untuk calon siswa SD. Jangan paksa anak melakukan sesuatu di luar kemampuan mereka. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved