Tajuk

Buruh di Era 4.0

HARI ini, tepat 1 Mei, para pekerja atau buruh di Indonesia dan seluruh dunia memperingati Hari Buruh.

Buruh di Era 4.0
Surya
Ribuan buruh yang berasal dari sejumlah serikat buruh saat menuju pusat kota Surabaya untuk menggelar aksi memperingati Hari Buruh, Selasa (1/5). Dalam aksinya mereka menyeruhkan sejumlah tuntutan, salah satunya menolak TKA di Jawa Timur. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - HARI ini, tepat 1 Mei, para pekerja atau buruh di Indonesia dan seluruh dunia memperingati Hari Buruh. Di Indonesia, penetapan hari buruh memiliki kisah panjang. Bahkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, May Day diidentikkan dengan ideologi komunisme yang saat itu sangat dilarang keberadaannya. Karena itu, penetapan hari buruh internasional pada 1 Mei pada masa Orde Baru sempat ditiadakan.

Sikap pemerintah tidak berubah di masa pemerintahan setelahnya di era reformasi. Hingga akhirnya pada tahun 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) resmi menandatangani Peraturan Presiden yang menetapkan bahwa 1 Mei sebagai hari libur nasional bersamaan dengan perayaan hari buruh yang diperingati seluruh penduduk dunia.

Dari sejarahnya, Peringatan 1 Mei sebagai hari buruh internasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan May Day sangat lekat dengan peristiwa mogok kerja yang terjadi di lapangan Haymarket, Chicago, Illinois, Amerika Serikat (AS) pada 4 Mei 1886.

Tentu di masa satu abad setelahnya May Day tak harus diwujudkan dalam bentuk aksi demo atau mogok kerja, tetapi bagaimana buruh memaknainya sebagai bentuk kebangkitan dan bentuk penyadaran. Utamanya penyadaran diri atas kesejahteraan, jaminan kesehatan dan jaminan masa depan.

Ada dua hal terkait jaminan masa depan. Yaitu jaminan kehidupan di hari tua atau pensiun, serta peningkatan kapasitas diri menghadapi era digital.

Tantangan ke depan bagi buruh tidaklah ringan. Apalagi di era Revolusi Industri 4.0, buruh tak lagi bersaing dengan tenaga kerja asing ataupun aseng, – yang dalam beberapa kasus justru menyeret buruh ke ranah politis –, tetapi buruh kini harus bersaing dengan robot dan berhadapan dengan Artificial Intelligence (AL) alias kecerdasan buatan yang melekat pada kerja spesifik.

Contoh atau indikasinya paling kentara yang mulai terlihat yaitu pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 50 ribu karyawan bank di Indonesia sejak 2016 yang dinilai karena akumulasi beberapa faktor di antaranya efisiensi dan disrupsi teknologi.

Mesin telah mengambil sebagian peran dari manusia, dengan beban dan jam kerja yang bisa melebihi standar tanpa perlu membayar lembur, dan bahkan tanpa istirahat.

Bahkan dalam salah satu riset Mckinsey Global Institute yang berjudul Jobs lost, jobs gained: Workforce transitions in a time of automation (2017), setelah meneliti karakteristik 800 jenis profesi di 46 negara, mereka menemukan bahwa seperlimanya bisa dikerjakan oleh mesin dengan lebih efisien, lebih cepat dan lebih murah. Artinya di 2030 mendatang akan ada sekitar 800 juta pekerja global yang menganggur karena tergantikan oleh robot.

Tentu bukan bersifat menakut-nakuti, tetapi inilah realita yang muncul di era digital. Buruh harus bangkit, tak semata bangkit dalam memperjuangkan hak-haknya maupun berserikat dan berkumpul, tetapi buruh juga harus bisa menjawab tantangan zaman. Buruh tak semata berkumpul untuk mogok kerja, tetapi juga berkumpul untuk meningkatkan skill dan kemampuan teknologi.

Apalagi, di tengah kebangkitan start up di Tanah Air, SDM tak hanya dalam posisi menjadi pencari kerja semata, tapi mereka juga dapat ditempatkan sebagai pencipta lapangan kerja. Selamat Hari Buruh, bagi seluruh pekerja di Indonesia. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved