Mereka Bicara

Refleksi Hari Buruh Internasional, Gerakan Buruh dalam Pusaran Politik Nasional

Pergerakan buruh di Indonesia muncul bersamaan dengan masa penjajahan Belanda. Seiring dengan hal tersebut perjuangan buruh sedikit banyak terpengaruh

Refleksi Hari Buruh Internasional, Gerakan Buruh dalam Pusaran Politik Nasional
Banjarmasinpost.co.id/jumadi
Apel gelar pasukan Polresta Banjarmasin dan Binma Polda Kalsel dalam pengamanan Hari Buruh Internasional atau May Day, Rabu (1/5/2019) hari ini. 

Oleh: Ahmad Amin Husein, Mediator Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tabalong

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pergerakan buruh di Indonesia muncul bersamaan dengan masa penjajahan Belanda. Seiring dengan hal tersebut perjuangan buruh sedikit banyak terpengaruh oleh semangat melawan penjajahan. Pada titik tersebut pergerakan buruh secara disadari atau tidak, bersinggungan dengan dunia politik, yaitu perjuangan kemerdekaan.

Pada mulanya gerakan buruh berawal dari solidaritas buruh yang menuntut upah layak terutama pada sektor pertanian atau buruh tani. Serikat buruh baru terbentuk pada jawatan kereta api di Jawa pada tahun 1905, itu pun lebih banyak menampung pekerja keturunan Eropa / Belanda, dengan segelintir anggota buruh pribumi.Munculnya ISCV ( Indische Sociaal Democratische Vereniging) yang didirikan Henk Sneevliet pada tanggal 9 Mei 1914, yang menjadi cikal bakal PKI (Partai Komunis Indonesia) menambah maraknya pergerakan buruh saat itu.

Paham komunis yang digagas oleh Karl Marx muncul bersamaan dengan revolusi industri di Eropa. Karl Marx mengkritisi ketimpangan sosial antara buruh dan majikannya sebagai akibat ketidakadilan dalam pengupahan, jam kerja yang tidak terbatas, lemahnya jaminan kesehatan dan keselamatan kerja sertaperjanjian kerja yang sewenang-wenang.

Di Indonesia (Hindia Belanda) penderitaan itu ditambah lagi dengan suasana masa penjajahan. Ada dua konsep pergerakan Marxisme yaitu revolusi sosial dan gerakan buruh. Melalui teori nilai lebih, Marx menyatakan keuntungan pengusaha didapat dari upah buruh yang dibayar jauh dari seharusnya (underpay), dimana pengusaha menjadi sangat makmur dengan memeras keringat buruh.

Kondisi ini tidak akan berubah kecuali ada campur tangan negara mengambilalih alat-alat produksi. Negara tampil sebagai pemain ekonomi tunggal menggantikan pengusaha/swasta,karena jika tetap dibiarkan berusaha akan menjadikan buruh sebagai alat menghasilkan keuntungan semata. Atas dasar pemikiran tersebut Karl Marx menghasut buruh untuk melawan pengusaha dengan melakukan demonstrasi dan mogok kerja, serta melawan pemerintah yang dianggap pro kapitalisme, yang sering berujung kekerasan dan korban jiwa. Revolusi Bolshevik yang melahirkan negara Uni Sovyet tahun 1917 menjadi simbol kemenangan komunisme saat itu.

ISDV mengubah namanya menjadi PKI pada Desember 1920, diketuai Semaun, menjadikan kelahiran Negara Uni Sovyet sebagai penyemangat pergerakannya. PKI melancarkan aksi-aksi massa buruh berubahmenjadi pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1926 di Jawa dan Sumatera yang dipadamkan hanya dalam seminggu. Setelah itu PKI mengalami kemunduran luar biasa karena kontrol yang ketat dari pemerintah Hindia Belandahingga datangnya tentara pendudukan Jepang tahun 1942.

Akhirnya kemerdekaan yang dicita-citakan berhasil pada 17 Agustus 1945. Akan tentara Sekutu yang hendak mengembalikan Indonesia kepada Belanda melalui NICA, mendapatkan perlawanan rakyat hingga terjadi revolusi fisik dari 1945 – 49. Di tengah-tengah suasana perang kemerdekaan, lagi-lagi PKI memberontak terhadap pemerintah Indonesia pada 1948 di Madiun yang dipimpin Musso. Kembali pemberontakan tersebut dapat dipatahkan, tetapi tidak tuntas karena kesibukan revolusi fisik.

Di era Orde Lama, seiring semangat pemilu 1955 muncul serikat-serikat buruh yang menjadi underbouw partai-partai politik, selain itu ada juga serikat buruh berbasis ideologis seperti Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) dan Gabungan Serikat Buruh Indonesia (Gasbiindo). PKI sebagai partai berbasis masyarakat kelas bawah khususnya buruh dan tani mendirikan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).

Serikat-serikat buruh di era Orde Lama berjuang dengan sekat-sekat ideologis atau politik aliran yang masih sangat mengakar pada saat itu, cenderung berjalan sendiri-sendiri mengikuti induk organisasi yang umumnya partai-partai politik.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved