Mereka Bicara

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Hardiknas dalam Pusaran Sejarah

Siapa sebenarnya tokoh dibalik Hardiknas di tanah air, terlepas dari penetapan yang secara administratif sudah dilakukan pemerintah.

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Hardiknas dalam Pusaran Sejarah
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Gebyar Hardiknas dihadiri Irjen Kemendikbud 

OLEH: SARI OKTARINA MPD, Kepala SMAN 9 Banjarmasin dan Ketua MGMP Sejarah SMA Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - REKONSTRUKSI sejarah senantiasa tunduk kepada hukum kepentingan. Siapa yang merekonstruksi, maka tentu ada kepentingan dibaliknya, berdasarkan latarbelakang kehidupannya, apalagi tokoh politik.

Sama halnya dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Siapa sebenarnya tokoh dibalik Hardiknas di tanah air, terlepas dari penetapan yang secara administratif sudah dilakukan pemerintah.

Perjalanan sejarah yang sudah baku mulai dahulu hingga saat ini, pahlawan yang memperjuangkan pendidikan nasional adalah Ki Hadjar Dewantara, sebagai tokoh sentral di balik Hari Pendidikan Nasional. Meskipun selain dan sebelum Ki Hadjar Dewantara, ada tokoh Muhammadiyah yang dibidani oleh Kiyai Haji Achmad Dahlan yang berjuang dan konsisten sejak awal untuk dunia pendidikan di tanah air.

Mari kita buka buku menarik, berjudul ”Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe: Sejarah Sosial 1880-1930”, sejarawan senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Abdurrachman Surjomihardjo, menyebutkan bahwa berdirinya organisasi Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan adalah pada 8 November tahun 1912. Berdirinya Muhammadiyah adalah wujud dari keprihatinan K.H. Achmad Dahlan terhadap maraknya berbagai lembaga sekolah. Ia kemudian mendirikan perguruan Muhammadiyah yang Islami.

Ki Hadjar dan Filosofi Pendidikan Nasional
Tanggal 2 Mei, almanak tahun 1889 lahir tokoh sentral ini, dengan nama kecil: Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Lahir di Yogyakarta Hadiningrat, dan berasal dari keturunan keraton Yogyakarta.

Tokoh sentral yang menjadi ikon Pendidikan Nasional ini mengenyam pendidikan untuk kaum ningrat pribumi, dan melanjutkan ke sekolah Belanda bernama STOVIA atau Sekolah Dokter Bumiputera namun tidak sampai lulus. Ki Hadjar sakit dan tidak menyelesaikan pendidikan dokternya.

Dari perjalanan profesinya, mula mula bekerja sebagai wartawan di beberapa media cetak. Diantaranya, Surat Kabar Midden Java, Sedyotomo, Oetoesan Hindia, De Express, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Perpindahan ini berhubungan dengan kecenderungannya pada politik keredaksian yang dibangun semenjak awal yaitu bahwa ia tidak berkompromi dengan pemerintahan Belanda. Profesi ini dijalani hingga Indonesia merdeka, ketika ia berusia sekitar 55 tahun.

Keberadaan Ki Hadjar juga tidak terlepas dari Taman Siswa. Merunut sejarah, pada tanggal 3 Juli 1922, organisasi Taman Siswa didirikan karena adanya ketidakpuasan terhadap sistem Pendidikan yang ada di masa itu. Waktu itu tentu saja pemerintahan Belanda masih menguasai Indonesia dan sistem pendidikannya.

Pemerintahan Belanda tidak membebaskan semua rakyat Indonesia untuk bersekolah. Hanya anak bangsawan, konglomerat, dan kalangan keluarga kerajaan saja yang boleh bersekolah. Padahal, semua rakyat Indonesia sangat membutuhkan pendidikan agar bisa segera merdeka dan bebas dari penjajahan. Namun tentu saja upaya itu mendapat tantangan keras dari penjajah.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved