Cetak Bpost

Hakikat Buruh

SETIAP 1 Mei dikenal sebagai Hari Buruh Internasional atau May Day. dan diperingati oleh ‘para buruh’ dengan turun ke jalan

Hakikat Buruh
Surya
Ribuan buruh yang berasal dari sejumlah serikat buruh saat menuju pusat kota Surabaya untuk menggelar aksi memperingati Hari Buruh, Selasa (1/5). Dalam aksinya mereka menyeruhkan sejumlah tuntutan, salah satunya menolak TKA di Jawa Timur. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP 1 Mei dikenal sebagai Hari Buruh Internasional atau May Day. dan diperingati oleh ‘para buruh’ dengan turun ke jalan dengan jumlah cukup banyak, ditimpali dengan orasi ditutup dengan long march. Secara umum selalu begitu.

Kata buruh dalam konotasi negatif adalah kaum yang termarjinalkan. Pekerjaannya kasar (memerlukan tenaga dan fisik) sementara upah yang diterima pas-pasan bahkan bisa kurang jika ukurannya standar hidup enak. Padahal, sejatinya buruh adalah semua pekerja. Baik yang menggunakan fisik maupun otak.

Salah jika mendeskreditkan buruh sebagai pekerjaan kelas dua atau rendahan hanya gunakan otot bukan otak. Sebab UU Nomor 13 Tahun 2003 bab 1 Pasal 1 ayat 2 menjelaskan pengertian tenaga kerja bahwa setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

Baca: KalselPedia - Daftar Objek Wisata di Kabupaten Tabalong, Dari Wisata Alam Hingga Religi

Baca: Ramadhan 1440, Siti Badriah Ketiban Job Sinden, Begini Perasaanya Gantikan Dewi Perssik

Baca: The Gunners Jaga Kans ke Final Liga Europa, Hasil Akhir Arsenal VS Valencia 3 - 1

Federasi Serikat Pekera Pulp dan Kertas Indonesia pernah melansir bahwa secara umum buruh dibagi menjadi dua, yakni buruh kasar yang lebih banyak menggunakan otot dan buruh profesional yang lebih banyak menggunakan otak.

Oleh karena itu, hakikat buruh harus ditegaskan bahwa semua pekerja pada dasarnya adalah buruh sehingga tidak ada lagi pengkotakan pekerjaan kasar (buruh) bukan pekerja kasar (tidak buruh). Pengkotakan ini malah merugikan bagi pekerja dan buruh berkait hak-hak mereka.

Pemerintah harus cepat mengakomodir suara buruh karena para pekerja ini adalah soko guru dalam percepatan pertumbuhan ekonomi yang diidamkan bisa mendekati atau sejajar dengan negara maju.

Di sisi lain, buruh juga harus bisa memahami, dalam kondisi ekonomi dunia yang berat oleh persaingan dan perang dagang negara besar, pekerjaan buruh yang menggunakan otot saja tidak cukup untuk bersaing dengan negara maju. Perlu skill lain.

Baca: Nikita Mirzani Sebut Nama Anaknya, Tanpa Dipo Latief Tetapi Cantumkan Nama Mawardi , Ini Alasannya

Baca: Bukti Luna Maya Bantu Syahrini dan Reino Barack Berjodoh Hingga Menikah? Lihat Fakta Ini

Apalagi dalam perdagangan bebas, tenaga buruh menjadi dominan. Jika tidak memiliki kemampuan lebih, maka akan tereleminasi dan menjadi penonton di negeri sendiri.

Peran pemerintah untuk mempersiapkan sarana agar buruh otot maupun otak untuk dapat bersaing dengan pekerja luar. Sementara peran buruh dan organisasinya adalah menata diri agar menjadi pilihan utama tenaga kerja di negerinya sendiri.

Suatu saat pasti Hari Buruh diperingati secara ceria. Wajah-wajah senang dan penuh kepuasan berkumpul sembari menikmati hari libur bersama keluarga dan rekan kerja, bukan lagi jadi hari tempat luapan ketidakpuasan. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved