Opini Publik

Indonesia Butuh Pengadaan Terapi Sel Punca

Karena kemampuannya dalam memperbaharui dan meregenerasi jaringan maupun organ yang rusak, terapi ini dianggap sebagai terapi masa depan.

Indonesia Butuh Pengadaan Terapi Sel Punca
TAUSYAH.WORDPRESS.COM
Ilustrasi organ tubuh manusia 

Oleh : KHAULA NURRUL HAKIM SSI
Peneliti dari Alumni S1 Jurusan Biologi SITH ITB

Bagi beberapa orang Indonesia, terapi stem cell atau sel punca bukanlah hal yang baru. Karena kemampuannya dalam memperbaharui dan meregenerasi jaringan maupun organ yang rusak, terapi ini dianggap sebagai terapi masa depan.

Penyakit degenerative yang selama ini tidak dapat disembuhkan melalui pegobatan biasa, seperti diabetes melitus, gagal ginjal, dan kerusakan saraf, dipercaya dapat diatasi dengan menggunakan terapi sel punca ini.

Melihat potensinya yang sangat menjanjikan, beberapa kalangan di Indonesia sudah mulai mengaplikasikan jenis terapi ini. Mulai dari artis ibukota seperti Krisdayanti yang mendapatkan terapi sel impor dari Jerman untuk kecantikan, hingga pejabat tinggi, Novel Baswedan, yang menjalani pengobatan untuk mata kirinya di Singapura.

Dengan fenomena tersebut, timbul pertanyaan apakah untuk dapat menikmati pelayanan terapi sel punca, kita harus ke luar negeri? Dan mendapatkan sumber sel dari luar negeri?. Tidak bisakah terapi ini dilakukan dan diaplikasikan secara murni di Indonesia saja?

Perkembangan dan Regulasi
Penyelenggaraan terapi sel punca dapat dilakukan dengan transplantasi sel dan juga terapi produk turunan sel seperti secretome. Transplantasi bertujuan untuk mengganti sel yang rusak berkaitan dengan sifat plasticity sel punca untuk dapat berdiferensiasi atau berubah menjadi sel lain. Sementara secretome diketahui mengandung faktor pertumbuhan (growth factor), sitokin, dan protein yang bermanfaat untuk kesembuhan bagian tubuh yang rusak.

Jenis terapi yang diberikan dapat berupa terapi autologous, yakni sumber sel punca berasal dari pasien itu sendiri dan dapat pula secara alogenik yakni sumber sel punca didapatkan dari donor. Untuk dapat dikategorikan ke dalam obat, tentunya produk sel punca dan produk turunannya harus mengikuti kaidah keberterimaan yang berlaku di Indonesia, yakni dengan tunduk pada aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pengolahannya pun harus mengikuti kaidah Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

Sayangnya, ketiadaan regulasi yang secara teknis mengatur detil keberterimaan produk sel punca dan produk turunannya sebagai obat biologis menyebabkan hingga saat ini belum ada produk sel maupun secretome yang sudah mendapatkan sertifikat dari BPOM. Bandingkan dengan negara-negara Asia lain. Dikutip dari data MFDS (Ministry of Food and Drug Safety) Korea, sejak tahun 2011-2016, setidaknya Korea sudah mengeluarkan 4 produk terapi sel punca yang telah mendapat lisensi kemanan.

Produk tersebut diantaranya: 1) Pharmicell (Autologus-Sel punca turunan sumsum tulang belakang), 2) Medipost (Alogenik-Darah tali pusat), 3) Anterogen, dan 4) Corestem (Autologus- sel punca turunan sumsum tulang belakang). Di tahun 2016, Jepang juga sudah memiliki JCR dari STEMCELL ®HS untuk terapi secara alogenik dari sel punca sumsum tulang belakang.

Mengadaptasi aturan BPOM terkait izin obat, sebelum dapat dipasarkan ke khalayak umum, suatu produk harus terlebih dahulu lulus uji evaluasi. Diantaranya adalah hal-hal yang berkaitan dengan safety (keamanan) dan efficacy (khasiat), serta evaluasi jaminan mutu yang berkenaan dengan proses produksi sesuai standar CPOB, spesifikasi produk, dan stabilitas. Suatu obat harus dapat dipastikan keamanan dan khasiatnya dengan cara dilakukan uji pre-klinis melalui uji in vitro dan in vivo serta Uji Klinis (Fase I, II, dan III).

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved