Mereka Bicara

Puasa dan Daya Tahan Emosi

Dalam batinnya bergejolak kuat karena merasa diperlakukan tidak adil oleh mitranya. Dia sudah mencoba bekerja secara profesional

Puasa dan Daya Tahan Emosi
ilustrasi canva/tribun kaltim
Amalan Malam Nisfu Sya'ban 2019 dan Niat Puasa Syaban 1440 Hijriyah. 

Oleh: KH Cholil Nafis

BANJARMASINPOST.CO.ID - ALKISAH, pada bulan Ramadan, ada dua orang mitra bisnis yang bertikai sengit di sebuah perkantoran karena masalah bisnis mereka sedang down. Masing-masing menyampaikan argumen keras, sehingga tidak ada titik temu untuk mencari jalan keluar.

Lalu tiba-tiba seorang dari mereka menyalahkan dan mengeluarkan kata-kata dan tuduhan yang tidak pantas. Sementara kawannya mencoba menahan diri, meski rasa sakit hati memuncak.

Dalam batinnya bergejolak kuat karena merasa diperlakukan tidak adil oleh mitranya. Dia sudah mencoba bekerja secara profesional, namun rupanya mitranya menuduh secara sepihak.

Karena dia sadar sedang berpuasa, lalu ia berkata, “Maaf teman, tuduhan kamu itu tidak benar. Saya cukup mengatakan ini dan tidak mau melayani amarahmu karena saya sedang berpuasa.” Sikap orang yang dituduh tersebut sungguh sangat mulia.

Ia sebenarnya sangat marah karena dituduh oleh mitranya tanpa bukti yang relevan dan kuat. Namun, sikap dan responnya menunjukkan sebagai pribadi yang matang. Ia tidak merespons emosi balik, tetapi ia menunjukkan akhlaknya sebagai seorang yang berpuasa.

Sikap tersebut sejalan dengan spirit sebuah Hadits Qudsi yang ditakhrij oleh Imam Bukhari, yaitu: Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Puasa itu benteng, maka janganlah berkata keji dan jangan berbuat bodoh. Jika seseorang menentang atau memakinya, maka hendaklah ia berkata: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” --dua kali.

Contoh kasus di atas juga memiliki makna yang sama dengan sebuah Hadits lain yang cukup populer: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, selalu mengerjakannya dan tidak meninggalkan kebodohan, maka Allah tidak akan memberikan pahala atas puasanya.” (HR al-Bukhari).

Narasi kedua Hadits di atas sesungguhnya ingin menegaskan puasa itu hakikatnya adalah “al-imsak” atau mengendalikan diri. Puasanya seseorang tanpa pengendalian diri yang baik, puasanya akan sia-sia seperti yang pernah dikatakan Rasulullah saw: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi ia tak mendapatkan apapun dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR Ahmad).

Banyak kita jumpai pada bulan Ramadan seperti sekarang ini begitu banyak orang yang sedang berpuasa, tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan suami-istri, bahkan mereka membaca Alquran dan rajin shalat sunnah, tetapi pikirannya, perasaannya, dan mulutnya tetap berburuk sangka, membicarakan aib orang lain (ghibah), menuduh kawan tanpa alasan yang benar, berkata kotor, dan lain-lain.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved