Mereka Bicara

Meraba Jejak UN(BK)

Timbul tenggelam dan terombang-ambing di tengah jagat pendidikan kurikulum baru kita dengan gagahnya tampil mengeluarkan jurus pamungkas

Meraba Jejak UN(BK)
Foto kiriman SMPN 9 Banjarmasin untuk Bpost
Sejumlah siswa di SMPN 9 Banjarmasin mengikuti gladi bersih untuk persiapan UNBK pada 22 April 2019 

OLEH: YOGYANTORO, Pendidik dan Peserta Program Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Negara Tujuan Jepang, Kemdikbud 2019

BANJARMASINPOST.CO.ID - Timbul tenggelam dan terombang-ambing di tengah jagat pendidikan kurikulum baru kita dengan gagahnya tampil mengeluarkan jurus pamungkas bernama penilaian otentik yang membidik aspek kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan berdasarkan portofolio. Kurikulum baru ini menekankan pada alat komunikasi untuk menyampaikan gagasan dan pengetahuan. Bertolak dari kurikulum lama yang menekankan pada pengetahuan melalui ulangan dan ujian.

Sebenarnya arah kurikulum baru merindukan standar kompetensi lulusan yang bukan saja cerdas modern akademik atau saintifikal, logosentrisme oksidental atau berbasis pada rasionalisme-materialistik, tetapi standar kompetensi lulusan yang menghasilkan revolusi mental.

Dengan mengacu pada ‘ujian’penilaian sikap yang meliputi ketekunan belajar, kedisiplinan, kerja sama, ramah dengan teman, hormat dengan orang tua, kejujuran, menepati janji, kepedulian, kerajinan dan tanggung jawab maka sejatinya standar kompetensi lulusan yang digadang-gadang para pakar pendidikan akan praktis terjawab.

Namun kini ujian nasional yang hadir didepan mata kita seperti mengebiri arti penting strategi belajar dibandingkan dengan hasilnya dan terasa makin kehilangan rohnya. Menilik kembali sejarah perjalanan pusat penilaian pendidikan, depdiknas yang ikut bertanggungjawab mengendalikan mutu pendidikan secara nasional telah beberapa kali memodifikasi ujian nasional.

Dimulai tahun 1950-1960-an yang pada waktu itu bernama Ujian Penghabisan dan selanjutnya tahun 1965-1971 berubah menjadi Ujian Negara. Tahun 1980-2002 disebut EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), kemudian berubah menjadi UAN ( Ujian Akhir Nasional) dan sejak tahun 2005 mengambil istilah UN (Ujian Nasional). Pada tahun 2014 muncul sebutan baru yaitu UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) yang memiliki dua bentuk yaitu CBT (Computer Based Test) dan PBT (Paper Based Test)

Nyatanya, itu bukan sekadar ganti baju. Dalam standar penilaian dikatakan bahwa soal evaluasi atau assessment dianggap memenuhi standar yang baik jika mampu membedakan mana siswa dengan level tinggi, sedang, dan rendah dengan jelas.

NEM dan NUN

Ketika masih bernama Ujian Negara atau EBTANAS yang menelorkan NEM ( Nilai EBTANAS Murni) masyarakat akan menganggap sebagai sebuah prestige siswa dengan NEM yang tinggi. Ini dikarenakan tingkat akurasi, validitas, objektivitas dan kemurniannya yang tinggi.

Ditinjau dari segi didaktik, EBTANAS memiliki kekuatan evaluasi yang dinilai lebih memenuhi fungsi pedagogis dan dengan pemberian nilai dan ijazah EBTANAS meng-cover fungsi kemasyarakatan. Nilai EBTANAS pun berkorelasi tinggi dengan hasil belajar siswa dengan semua komponen-komponen dalam proses belajar siswa yang bersangkutan mulai dari awal sampai akhir masa belajar siswa.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved