BPost Cetak

BI Urusi Bawang karena Dorong Inflasi

Kerap mahalnya bawang termasuk bawang puting yang terjadi sekarang membuat Kalimantan Selatan berupaya untuk mandirI

BI Urusi Bawang karena Dorong Inflasi
Banjarmasinpost
Banjarmasinpost Edisi Jumat (10/5/2019) 

Wawancara Ekslusif
Herawanto
Kepala BI Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kerap mahalnya bawang termasuk bawang puting yang terjadi sekarang membuat Kalimantan Selatan berupaya untuk mandiri. Upaya membudidayakan bawang putih dan bawang merah dilakukan. Di Tapin bawang merah dikembangkan dengan pola klaster. Sedangkan bawang putih dikembangkan di lahan demplot. Itu dilakukan petani dengan dukungan Bank Indonesia.

Berikut wawancara BPost dengan Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Kalsel Herawanto me­ngenai membudidayakan bawang di daerah ini.

Apa yang mendasari BI turut membudidayakan bawang?

Menyikapi kenaikan komoditas tersebut, BI melakukan beberapa pendekatan. Pertama, BI turut mengupa­yakan peningkatan produksi bawang merah di klaster binaan (Tapin) melalui berbagai upaya, di antaranya pengaturan pola tanam, pembuatan gudang penyimpanan dan lain-lain. Upaya tersebut dilakukan bekerja sama dengan Pemkab Tapin.

Kedua, sebagai bagian dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), BI memetakan bahwa komoditas bawang merah dan bawang putih merupakan komoditas yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Masukan dari BI yaitu agar stok di Kalsel selalu terjaga, baik yang diperoleh dari daerah lain maupun melalui upaya swasembada di Kalsel sendiri, di antaranya peningkatan produksi di Tapin. Jika pasokan sudah mencukupi maka kelancaran distribusi perlu dipastikan pula.

Mengapa kedua komoditas ini kerap penyumbang inflasi di Kalsel?

Inflasi tentuanya terkait dengan keseimbangan tingkat permintaan dan penawaran. Bawang merupakan komoditas utama yang dikonsumsi masyarakat, sebagaimana halnya beras. Dikarenakan komoditas utama maka tingkat permintaannya pun cukup tinggi. Tingkat permintaan tidak selalu diimbangi dengan suplai yang mencukupi. Masalah suplai, faktor pemenuhan bawang dari luar Kalsel cukup mempengaruhi. Jika terdapat gangguan di daerah pemasok (misalnya gagal panen) atau gangguan saat pendistribusian (misalnya keterlambatan kapal) maka terjadi kerentanan kenaikan harga.

Program apa saja yang sudah dan akan dilakukan?

Kami memiliki program klaster binaan. Prioritas adalah klaster di bidang ketahanan pangan atau komoditas pemicu inflasi. Kontribusi yang diberikan pada klaster adalah dalam bentuk bantuan teknis dan bantuan sarana prasana melalui program sosial BI. Pada masing-masing program tersebut kami menetapkan target peningkatan produksi tiap periode tertentu.

Berikutnya, kami menginisiasi pengembangan Rumah Pangan Lestari/ RPL (pemanfaatan lahan pekarangan untuk tanaman pangan) yang tidak sebatas pekarangan rumah tetapi pekarangan kantor. RPL tersebut juga tidak hanya dimanfaatkan untuk menanam tanaman pangan tetapi juga memelihara ternak/ ikan. Kami telah memiliki proyek percontohan di lahan aset Rumah Tungku BI yang dimanfaatkan untuk RPL tanaman pangan dan pemeliharaan ikan di kolam terpal. Program RPL tersebut sekiranya dapat direplikasi di instansi lain. Selanjutnya, hasil produksi dari RPL diharapkan dapat berkontribusi memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Pola klaster ini wilayah mana saja?

Klaster adalah proyek percontohan agar masyarakat yang lain bisa mencontoh cara budidaya yang telah dibuktikan berhasil baik. Saat ini, kami sedang fokus pada klaster bawang merah di Tapin dan klaster ikan air tawar di Hulu Sungai Tengah. Kedua kelompok komoditas tersebut merupakan kontributor inflasi. Target utama kami adalah peningkatan produksi yang dilakukan melalui pengembangan teknik tertentu di antaranya pengaturan pola tanam, penanaman secara organik, mekanisasi pertanian, dan pembuatan gudang penyimpanan di klaster bawang merah; dan teknik pembudidayaan ikan di klaster ikan air tawar.

 (naa)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved