Tajuk

Mengawal si Putih

Melonjaknya harga bawang putih di pasaran saat ini menjadi salah satu topik yang hangat diperbincangkan di awal Ramadan tahun ini.

Mengawal si Putih
Banjarmasinpost
Banjarmasinpost Edisi Jumat (10/5/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Melonjaknya harga bawang putih di pasaran saat ini menjadi salah satu topik yang hangat diperbincangkan di awal Ramadan tahun ini.

Tak hanya di Kalimantan Selatan, meroketnya harga si putih bahkan hingga mencapai 200 persen lebih ternyata sudah menjadi isu nasional.

Khusus di Kalsel saja, biasanya harga bawang putih per kilogram berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu, saat ini harganya berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu. Bahkan di Kotabaru harganya mencapai Rp 80 ribu per kilogram.

Dampaknya, permintaan konsumen akan bawang putih otomatis menurun drastis. Para pedagang pun tak bisa membeli setok dalam jumlah besar karena tingginya harga, terlebih permintaan masyarakat berkurang.

Baca: Data Rekapitulasi Banjar Bermasalah, Rapat Pleno KPU Kalsel Diskors Hingga Pukul 02.30 Dinihari

Baca: Arsenal ke Final Liga Europa : Hasil Akhir Valencia vs Arsenal, Skor Akhir 2-4, Aubameyang Hattrick

Baca: Luna Maya Pernah Kuliah di Kampus Ini, Dosennya Sebut Mantan Reino Barack Beda dari Mahasiswa Lain

Memang ada kabar, dalam waktu dekat harga bawang putih akan mengalami penurunan. Tapi itu tak membuat pedagang menambah setok dagangan. Malah tidak sedikit pedagang yang takut menjual bawang putih untuk sementara ini.

Hal itu wajar, karena jika mereka membeli setok bawang putih dengan harga yang mahal, tapi ternyata belakangan harganya turun, tentu mereka bisa rugi.

Pemerintah mempunyai tanggungjawab mengupayakan, memastikan dan menjaga agar harga bawang putih kembali normal, begitu juga dengan komoditas lainnya.

Mengupayakan di sini adalah aktif berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar kiranya pasokan bawang putih untuk masyarakat Banua bisa terpenuhi.

Sedangkan memastikan, maksudnya adalah mengawal distribusi bawang putih ke Kalsel dan dipastikan lancar, sehingga tidak ada istilah kekurangan setok yang berdampak naiknya harga.

Sementara menjaga, maksudnya adalah ketika harga bawang putih turun dan kembali normal, pemerintah harus menjaga harga di pasaran tetap stabil. Pemerintah harus melakukan pengawasan ke pasar-pasar jangan sampai ada oknum pedagang atau agen yang berani memainkan harga.

Baca: Donor Darah di Bulan Ramadhan Ternyata Bermanfaat, Tetapi Harus Memperhatikan 4 Hal ini

Baca: Ini Doa & Anjuran Nabi Muhammad SAW Saat Sahur, Ini Niat Puasa Ke 5 Ramadhan 1440 H

Kemudian, ketika harga sudah normal nanti, pedagang atau agen hendaknya jangan curi-curi kesempatan memainkan harga untuk meraup keuntungan.

Tak kalah pentingnya, perlu dipikirkan bagaimana mengembangkan budidaya bawang putih di Banua dengan harapan nanti, kebutuhan bawang putih kita, sudah tidak bergantung lagi pada pasokan dari luar atau impor.

Artinya, bagaimana nanti, petani-petani Banua bisa menghasilkan sendiri bawang putih di lahan yang digarapnya. Tapi tentu ini harus memperhatikan banyak hal, mulai dari kecocokan iklim, tanah, hingga pengetahuan petani bagaimana membudidayakan bawang putih yang baik sesuai dengan iklim, tanah atau lingkungan yang ada. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved