Ramadhan 1440 H

Makanan Berbuka Puasa Harus Diwaspadai, Ini Kata Ahli Gizi

Diharapkan cerdas memilih makanan. Sebab, selama berpuasa terjadi perubahan pola makan sehingga terjadi pula perubahan kerja lambung.

Makanan Berbuka Puasa Harus Diwaspadai, Ini Kata Ahli Gizi
banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti
Ahli Gizi Klinik RSUD Ulin ,Wahyu Hadi Prasetiyo 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ibadah puasa yang kini tengah dijalani oleh umat muslim juga harus disertai dengan pengetahuan tentang kondisi lambung dengan makanan yang dikonsumsi.

Mereka yang menjalankan puasa diharapkan cerdas memilih makanan. Sebab, selama berpuasa terjadi perubahan pola makan sehingga terjadi pula perubahan kerja lambung. Karenanya dengan kondisi tersebut perlu adaptasi penyesuaian terhadap makanan yang dikonsumsi.

"Cerdas disini maksudnya, mengingat pada awal puasa terjadi perubahan pola waktu makan. Setidaknya mereka berhadapan dengan bagian saluran pencernaan untuk menerima makanan," jelas Ahli Gizi Klinik RS Ulin Banjarmasin, Wahyu Harfi Prasetiyo, Sabtu (12/5/2019).

"Selama puasa kita dihadapkan dengan perubahan pola waktu makan, tapi dalam konteks besar disebutkan makan sahur dan makan berbuka," tambahnya.

Wahyu menyebut, konsumsi makan berbuka berkisar 55 sampai 60 persen dari 100 persen total kalori dan makan sahur 40 hingga 50 persen dari total kalori. Ditambah makan utama sahur 30 persen dan15 persen selingan setelah makan.

Baca: Luna Maya Kembali Tiru Gaya Syahrini yang Dinikahi Reino Barack, Diduga Sindiran Untuk Inces?

Baca: Hasil Blusukan Jokowi Mencari Pengganti DKI Jakarta, Ini Tiga Daerah Calon Ibu Kota Baru?

Baca: Hadapi Cuaca Panas Saat Berpuasa, Begini Cara Terhindar Dehidrasi dan Atasi Rasa Haus

Makanan berbuka yang diprinsipkan (tentu tidak lepas dari gizi seimbang) , aman, higienes serta dengan komposisi makan utama berbuka. Meliputi makanan pokok atau penukar, lauk hewani dan lauk nabati, sayur dan buah.

Sedangkan komposisi pelengkap untuk suplai kalori juga dapatkan dari makanan pembuka berkisar 10 persen dari total kalori orang atau individu perkali makan ( boleh terkandung sumber tenaga, sumber pembangun, sumber pengatur).

"Ingat tidak ada bahan makanan berdiri sendiri lengkap akan nilai gizi bahan makanan tersebut. Sehingga untuk kelengkapan makanan harus ditunjang dengan bahan makanan yang lain sebagai pelengkap," ungkpanya.

Beberapa hal yang menjadi perhatian sebut Wahyu, yaitu jangan makan makanan pembuka dengan jumlah besar (banyak).

Makanan pembuka hanya bersifat memberi rangsangan tubuh, sehingga diutamakan makanana pembuka adalah cairan atau air (air putih) boleh air yang mengandung sedikit gula. Ditambah dengan kue sepotong atau buah segar.

Halaman
12
Penulis: Isti Rohayanti
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved