Opini Publik

Menimbang Pangeran Hidayatullah

Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Sosial sudah dua kali mengajukan Pangeran Hidayatullah sebagai pahlawan nasional dan belum berhasil.

Menimbang Pangeran Hidayatullah
Wikipedia
Pangeran Hidayatullah Museum Lambung Mangkurat 

Oleh: Ersis Warmansyah Abbas

Pengajar Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM/
Kepala Pusat Kajian Pengembangan dan Pelayanan Pendidikan ULM

Diskusi-diskusi tentang Pangeran Hidayatullah, terutama mengenai pengusulannya sebagai pahlawan nasional, menjadi topik menarik. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Sosial sudah dua kali mengajukan Pangeran Hidayatullah sebagai pahlawan nasional dan belum berhasil.

Kini, Balitbangda Pemprov Kalsel ”mengajak” sejarawan dan pengajar sejarah ULM guna mengkaji lebih dalam (peran) kepahlawanan Pangeran Hidayatullah agar pengusulan ketiga kalinya berhasil. Manakala gagal,bisa jadi, pengusulan menemui langkah akhirnya.

Saya teringat suasana menjelang pengajuan PM Noor sebagai pahlawan nasional yang menjadikan kami terlibat diskusi hangat. Saya menulis makalah PM Noor Pahlawan Nasional dan dipresentasikan bersama makalah Profesor Helius Sjamsuddin, Dr Abdurrahman, dan teman-teman yang didiskusikan bersama tokoh-tokoh Kalimantan Selatan. Pengusulan PM Noor sampai ditetapkan sebagai pahlawan nasional tidak mendapat kendala berarti.

Berbeda dengan pengusulan PM Noor sebagai pahlawan nasional, pengusulan Pangeran Hidayatullah lebih rumit, baik pada tataran kajian historis maupun administratif dalam arti, dan ini maaf, menyangkut ”bukti” kepahlawanan Pangeran Hidayatullah di masyarakat. Sekalipun demikian, sesungguhnya pengusulan tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil. Untuk itulah tim peneliti dibentuk.

Terminologi Menyerah

Hal paling menyulitkan keberterimaan Pangeran Hidayatullah sebagai pahlawan nasional adalah dokumen historis Belanda, Pangeran Hidayatullah menyerah. Term menyerah merupakan kata yang tidak akrab dengan kriteria pengusulan seseorang sebagai pahlawan nasional.

Dalam percakapan serius, jauh sebelum tim peneliti dibentuk, saya sudah sampaikan kepada Ogi Fajar Nuzuli kesulitan dan kerumitan yang akan dihadapi. Untuk itu pula, saya mendiskusikan secara mendalam dengan Prof Helius Sjamsuddin (sebelum sebagai anggota tim, lho).

Berita bagusnya, kajian historis yang berpatok metode sejarah, fakta historis dimaknai bukanlah sebagai vonis abadi. Sekalipun kemenyerahan Pangeran Hidayatullah dikutip Prof Idwar Saleh dan Prof Helius, paparan kajian perihal kemenyerahan Pangeran Hidayatullah, tetaplah bukanlah sesuatu yang final. Sebab, dalam kajian historis dimungkinkan adanya interpretasi baru, terlepas ditemukan novum baru atau tidak. Sejarah adalah ”pencarian dan pemaknaan” masa lalu yang tidak akan pernah selesai.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved