Mereka Bicara

Kompetensi Guru Hadapi Era Revolusi 4.0

Menyimak Banjarmasin Post, terbitan hari Sabtu, 27 April 2019, pada halaman 10, dengan judul “Kompetensi Menjadi Persoalan Utama"

Kompetensi Guru Hadapi Era Revolusi 4.0
Ilustrasi guru mengajar 

Oleh: Maslani, Pendidik di UPTD SMPN 1 Bajuin, Tanahlaut

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menyimak Banjarmasin Post, terbitan hari Sabtu, 27 April 2019, pada halaman 10, dengan judul “Kompetensi Menjadi Persoalan Utama”, dan subjudul “Forum Profesi Guru Gelar Rembug Nasional”.

Menurut Ketua Magister Manajemen Pendidikan ULM Banjarmasin Prof Ahmad Suriansyah adalah kompetesni guru. Tak kalah menjadi perhatian masih kecilnya profesionalisme. Jika seluruh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se –Indonesia menghasilkan lulusan sebanya 25 ribu orang, yang bisa dinyatakan profesional hanya 25 persen saja.

Keberadaan guru profesional memang menjadi impian yang merupakan bagian terpenting dan strategis bagi peningkatan mutu generasi muda dan masa depan bangsa tercinta ini. Tidak berlebihan kiranya, bahwa sosok guru yang menjadi idaman dan tumpuan harapan bangsa ini adalah guru yang berjiwa pendidik sejati, yang mengedapankan idealisme dalam kehidupan kepribadiannya dan sikap profesional dalam melaksanakan tugasnya, serta berkerpibadian sederhana dalam sikap, perilaku, dan perbuatannya.

Guru yang Berkualitas

Perekrutan guru CPNS /ASN diharapkan akan mendapatkan guru yang berkualitas, baik dari segi pendidikannya maupun profesinya. Persyaratan pendidikan terakhir bagi seorang guru, minimal strata 1 atau S1, merupakan’ harga mati’ yang mengisyaratkan kualifikasi akademik mumpuni dan terdidik. Dengan kualitas pendidikan yang tinggi, maka secara formal kemampuan dan keilmuan sudah mendekati sosok guru yang ideal. Sedangkan proses profesionalisme akan tumbuh dan berkembang seiring dengan perjalanan karir dan kegiatan pendidikan dan pelatihan yang diikuti selama menjadi guru. Idealnya, makin lama berkarier lama dan banyak mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berhubungan dengan profesinya, maka makin profesional guru dalam bidangnya.

Selanjutnya, peningkatan jenjang pendidikan S1 yang diwajibkan kepada guru pada semua jenjang pendidikan, diharapkan menjadi dasar yang kokoh bagi upaya peningkatan profesionalisme dari sisi intelektualitasnya, karena jenjang S1 merupakan gelar akademik yang menunjukkan kualitas formal intelektualitas yang relatif tinggi.

Gelar akademik S1atau bahkan ada yang sudah S3 memang belum menjadi jaminan yang kokoh terhadap profesionalisme guru, namun dengan gelar S1, S2 atau S3 diharapkan menjadi pemicu diri untuk bersikap dan berjiwa profesional menjalankan profesi sebagai guru. Dengan gelar akademik yang tinggi tentunya menunjukkan jiwa intelektual yang lebih baik serta memiliki kematangan emosional dan mental yang lebih baik lagi.

Menurut Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yaitu :“ Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi”.

Guru profesional, pada intinya adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Oleh sebab itu, membedah aspek profesionalisme guru, berarti mengkaji kompetensi yang harus dimiliki seorang guru.

Pendekatan dan Pengenalan Karakter

Salah satu kompetensi yang wajib dimiliki oleh pedagogik yang dalamnya mensyaratkan kemampuan guru mengenali karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural,emosional, dan intelektual sebagaimana yang tercantum dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Pendekatan dan pengenalan karakter peserta didik ini yang menjadi penting sebagai dasar utama dalam meniti karir sebagai guru profesional. Ketika seorang guru tidak memiliki kemampuan mengenal karakteristik peserta didiknya maka kemungkinan besar ia tidak mampu mengelola kelas menjadi medium pembelajaran yang menyenangkan.

Karakter peserta didik menjadi titik awal bagaimana menentukan langkah stretegi, pendekatan, dan metode yang akan dilakukan oleh sang guru dalam menyampaikan materi pembelajaran yang diampunya. Tatkala seorang guru tidak mampu mengenali karakter peserta didiknya maka itu berarti langkah awalnya membangun suasana dan kondisi pembelajaran di kelasnya terancam gagal.

Pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian secara global, karena guru memiliki tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era hiperkompetisi. Tugas guru adalah membantu peserta didik agar mampu melakukan adaptasi terhadap berbagai tantangan kehidupan serta desakan yang berkembang dalam dirinya. Tugas mulia itu menjadi berat, karena bukan saja guru harus mempersiapkan generasi muda memasuki era revolusi 4.0, melainkan harus mempersiapkan dirinya agar tetap eksis, baik sebagai individu maupun sebagai profesional. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved