Berita Banjarbaru

Bandar Dapat Kuesioner, Tim Peneliti Ambil Data Karakteristik Narapidana Kasus Narkotika

Peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia (BALITBANGKUMHAM) didampingi Tim Peneliti Kantor Wilayah Kementerian

Bandar Dapat Kuesioner, Tim Peneliti Ambil Data Karakteristik Narapidana Kasus Narkotika
Foto kanwil kemenkumham
Pengisian kuesioner 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia (BALITBANGKUMHAM) didampingi Tim Peneliti Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Kalsel jadikan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus narkoba sebagai koresponden.

Bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Banjarbaru dan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Martapura, pengambilan data lapangan melalui pengisian kuesioner kepada para WBP kasus Narkoba sebagai koresponden.

Sebagai upaya dalam mendukung penegakan hukum pidana khususnya dalam kejahatan narkotika untuk itu dilakukan Penelitian Karakteristik Narapidana Kasus Narkotika dengan tujuan untuk memetakan narapidana narkotika di seluruh Indonesia dan mencari keterkaitan faktor kriminogen dengan peningkatan jumlah narapidana narkotika.

Peneliti Balitbangkumham, Tri Sapto Wahyudin Nugroho dan Kepala Bidang HAM Kalsel, Rosita Amperawati serta Kepala Sub Bidang Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Hukum dan HAM, Lusia Lali Wunga selaku Tim Peneliti Kanwil Kemenkumham Kalsel melakukan pengambilan data lapangan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banjarmasin.

Baca: Daftar Kekejaman Pelaku Mutilasi Vera Oktaria, Kasir Indomaret, Jenazah Korban Nyaris Dibakar

Baca: Rekaman CCTV Saat Vanessa Angel dan Rian Digerebek dalam Kasus Prostitusi Artis Bikin Janggal?

Baca: Cara Mengisi Malam Nuzulul Quran Ramadhan 1440 H, Ini Ibadah yang Dilakukan Rasulullah SAW

Baca: Kesibukan Andre Taulany Setelah Menghilang dari Televisi, Sule Pun Ikut Berkomentar

"Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling probabilitas dengan metode multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode penyebaran kuesioner sesuai dengan jumlah responden yang telah ditentukan, Responden merupakan Narapidana Kasus Narkotika," ungkap Peneliti Balitbangkumham Tri Sapto Wahyudin Nugroho, Jumat (17/5).

Sementara itu, Kepala Bidang HAM, Rosita Amperawati menyampaikan tim akan mengambil data lapangan selama empat hari dari tanggal 14-17 Mei 2019 pada Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan Pelaksanaan Penelitian Karakteristik Narapidana Narkotika mencakup responden yang terdiri dari para pengguna, pengedar, dan bandar yang ada di Rumah Tahanan (Rutan) atau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang tersebar di 33 Kantor Wilayah se-Indonesia termasuk UPT di Kalsel.

Menurut dia, penyalahgunaan narkotika di Indonesia telah diklasifikasikan sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime).

Pemerintah sudah lama memprioritaskan pemberantasan penyalahgunaan narkotika.

Usaha pemberantasan telah ditingkatkan seperti memperketat pengamanan di daerah perbatasan, titik transit transportasi seperti bandara dan pelabuhan, dan reformasi internal aparat penegak hukum.
Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa jumlah narapidana kasus narkotika sangat besar.

Pada akhir tahun 2018 jumlah narapidana kasus narkotika mencapai 115.289 (95% dari total narapidana khusus yang ada di Indonesia). Angka ini jauh lebih tinggi dari jumlah narapidana kasus korupsi (5.110), illegal logging (890), terorisme (441), maupun pencucian uang (165).

(banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved