Berita Regional
Diduga Korban Kekerasan Saat MOS, Wiko Jerianda Siswa SMA Taruna Indonesia Meninggal
Wiko Jerianda (16 tahun), korban penganiayaan orientasi SMA Taruna Indonesia meninggal dunia, Jumat (19/7/2019) sekitar pukul 20.10.
BANJARMASINPOST.CO.ID, PALEMBANG - Setelah akhir pekan tadi dirawat di rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri, Korban penganiayaan Masa Orientasi Sekolah (MOS) SMA Taruna Indonesia, Wiko Jerianda (16 tahun),dikabarkan meninggal dunia, Jumat (19/7/2019) sekitar pukul 20.10.
Wiko menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit RK Charitas pada pukul 20.10 WIB.
Informasi ini diperoleh dari Firli, pengacara keluarga Wiko.
"Iya, Wiko sudah meninggal,"ucapnya singkat saat dihubungi Tribunsumsel.com.
Dikatakan Firli, saat ini pihak keluarga sedang bersiap untuk mengurus kepulangan jenazah ke rumah duka.
Baca: Warganya Diamankan Densus 88 Karena Terduga Teroris, Ketua RT di Padang Ini Mengaku Tak Curiga
Baca: Gali Makam dan Bawa Pulang Jasad Ayah, Alasan Sang Anak untuk Menemani Adik
Baca: Nunung dan Suami Ditangkap Pakai Narkoba, Terungkap Alasan Gunakan Sabu
Baca: Akibat Abrasi, Rumah Wargadi Banjarmasin Selatan Ini Rusak Berat dan Jadi Puing di Sungai
"Iya, kami sedang siap-siap. Jenazah akan kami bawa pulang,"ungkapnya.
Wiko merupakan siswa SMA Taruna Indonesia yang beberapa hari taksadarkan diri sejak diduga menjadi korban kekerasan orientasi sekolah akhir pekan tadi.
Ia beberapa hari sempat tak sadarkan diri.
Tim dokter sempat membentuk tim khusus dari berbagai ahli untuk menangani kondisi kesehatan Wiko.
dr Justinus yang menangani ini belum mau merinci sakit yang dialami Wiko.
Dia beralasan bahwa hal tersebut merupakan rahasia keluarga dan tidak bisa diungkapkan tanpa izin mereka.
KPAI Minta Dievaluasi
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indoensia (KPAI), Retno Listyarti mendesak agar Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan mengevaluasi menyeluruh SMA Taruna Indonesia, baik dari program, manajemen keuangan, fasilitas dan lain sebagainya.
Menurutnya, dari hasil pemantauan KPAI secara umum sebagai sekolah berasrama pengawasan dinilai kurang oleh Dinas Pendidikan, terlebih dari sisi fasilitas tidak memadai padahal biaya untuk masuk ke sekolah ini tidaklah murah.
"Dari orang tua yang saya wawancarai, biaya masuk saja Rp 22 juta. Perbulan Rp 1,5 juta dan untuk biaya semester Rp 3 juta. Ini adalah hal yang cukup mahal. Kondisi sekolah juga tidak laik kelas tanpa jendela sehingga pencahayaan kurang," jelasnya, Rabu (17/9/2019).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/wiko-saat-kritis.jpg)