Berita Tanahlaut

Pasokan Solar Subsidi Minim, Nelayan Kualatambangan Menjerit, Melaut  Jadi Tak Menentu

Akibar pasokan solar subsidi minim nelayan Desa Kualatambangan, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut, menjerit danmelaut jadi tak tentu

Penulis: BL Roynalendra N | Editor: Irfani Rahman
BPOST GROUP/ROY
KAPAL nelayan di Kualatambangan banyak yang sandar. Mereka kesulitan melaut karena minimnya jatah solar subsidi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Sejak sekitar tiga bulan terakhir hingga sekarang kalangan nelayan Desa Kualatambangan, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), kesulitan melaut.

Itu menyusul minimnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) solar subsidi dari pemerintah. Kepada banjarmasinpost.co.id, Jumat (16/6/2023), mereka mengatakan jatah solar subsidi yang didapatkan dari pihak penyalur sangat jauh dari kecukupan.

Mereka menyebut jatah solar tersebut rata-rata hanya cukup untuk dua kali melaut, padahal dalam sebulan ada 30 hari. Karenanya, ketika ingin melaut mereka terpaksa harus membeli solar eceran yang harganya selangit.

"Mahal sekali solar di eceran, seliternya Rp 13-an ribu atau sekitar dua kali lipat harga solar subsidi," ucap Husni, nelayan Kualatambangan.

Hal itu dikatakannya benar-benar membuat nelayan di kampungnya berada pada kondisi yang sulit. Pasalnya, dapur rumah tangga harus tetap mengepul.

"Sementara, kami di sini 95 persen murni nelayan. Satu-satunya penghasilan cuma dari hasil melaut," tandasnya.

Baca juga: Perluas Kepesertaan BPJS Naker, Disnakerind Tala Bakal Jamah Rukun Kematian

Baca juga: Rela Tempuh Perjalanan 2,5 Jam Kapolsek Ini Serahkan Bantuan ke Firmanto yang Alami Cacat Permanen

Ia menyebutkan sekali melaut memerlukan solar sebanyak 100 liter, ongkos sekali melaut sekitar Rp 1,3 juta. Dirinya biasa berangkat pukul 04.00 Wita dan sore baru pulang.

Belakangan ini, kata Husni, melaut kerap merugi akibat tingginya harga solar eceran. "Kayak kemarin, saya cuma dapat hasil Rp 600 ribu. Padahal ongkos melaut Rp 1,3 juta," sebutnya.

Karena itu dirinya serta nelayan lainnya menjadi sering libur melaut guna melihat kondisi di laut. Pasalnya jika meleset perhitungan, maka kerugian pasti dialami. Misal ketika kemudian terjadi hujan deras disertai gelombang.

"Harapan kami kepada instansi terkait di daerah ini bagaimana caranya supaya kami bisa mendapatkan jatah solar subsidi yang lebih memadai," timpal Hairi, nelayan Kualatambangan lainnya.

Ia mengatakan jika kondisi sulit saat ini terus berkepanjangan, dirinya dan nelayan lainnya di kampungnya terancam sekarat. "Lama-lama ibaratnya kami bisa gulung tikar jadi nelayan," tandas Hairi.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Banjarmasin Post

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved