Kanal

Ironisme Anak Jalanan

Muhammad Gazali - BPost Cetak

Oleh: Drs H MUHAMMAD GAZALI MPdI
Kepala SMA Negeri 10 Banjarmasin

Fenomena anak jalanan merupakan permasalahan sosial sekaligus potret terenggutnya hak-hak anak Indonesia. Seperti hilangnya hak untuk mendapatkan pendidikan, tidak mendapatkan kasih sayang yang layak dari orang tua, dan hak-hak lain yang sepatutnya didapatkan anak.

Mayoritas penyebab banyaknya anak jalanan itu karena kurangnya perhatian dari orang tua dan keluarga, faktor ekonomi, dan faktor lingkungan. Namun demikian, faktor masalah dalam keluarga tetap menjadi akar utama masalah maraknya anak jalanan.

Tajuk BPost (22/2/2016) yang berjudul Mereka Tak Seharusnya di Jalan menjadi pengingat sekaligus teguran khususnya bagi orang tua yang abai dengan anaknya. Mengapa orang tua? Karena ironisme anak jalanan muncul sebagai akibat keteledoran orangtua dalam mendidik, memperhatikan, dan menyayangi anak.

Masalah dalam keluarga
Pertama, rumah tangga broken home. Ha ini memunculkan dampak yang tidak menguntungkan pada perkembangan anggota keluarga, baik sebagian maupun keseluruhan. Dampak terbesar tentu sangat dirasakan oleh anak yang menjadi anggota keluarganya.

Anak akan mengalami disorientasi nilai dan gagal melakukan proses imitasi dan identifikasi pada lingkungan keluarga. Selanjutnya anak dihadapkan berbagai masalah yang tak kunjung usai, baik di lingkungannya sendiri maupun di lingkungan pergaulan. Padahal di sisi lain, keluarga mempunyai tanggung jawab besar dalam upaya memberikan perlindungan dan penanaman nilai-nilai dan norma.

Rozano dkk (2016) menyebut keluarga lah yang mengenalkan anak terhadap aturan agama, etika sopan santun, aturan bermasyarakat, dan aturan-aturan tidak tertulis lainnya yang diharapkan dapat menjadi landasan kepribadian anak dalam menghadapi lingkungan.

Lalu, Wirdhana dkk (2012) berpendapat setidaknya ada delapan fungsi keluarga dalam kehidupan yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan lingkungan. Artinya, apabila fungsi keluarga dijalankan sangat minimalis, maka sebagai imbasnya anak-anak lari ke jalanan untuk mencari jatidiri.

Guna menghindari atau mengembalikan kondisi keluarga broken home menjadi keluarga normal dan harmonis maka salah satu syarat wajibnya adalah mewujudkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Kedua, kesibukan orangtua. Dalam hal ini orang tua seharusnya menyadari bahwa kewajibannya tidak hanya memberikan makan dan uang jajan (materiil) saja, melainkan juga memberikan kasih sayang kepada anak, dan pendidikan yang baik pula terhadap anaknya.

Halaman
123
Editor: BPost Online
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Wanita Tewas Dalam Lemari Pernah Unggah Foto Bersama Pelaku, Sempat Usir dari Kos sebelum Dibunuh

Berita Populer