Kanal

Lebih dari Militer

Ilustrasi - BPost Cetak

KABAR seorang siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang (Jawa Tengah), Krisna, yang tewas diduga lantaran dianiaya, kembali mencoreng dunia pendidikan di Tanah Air. Remaja ditemukan tewas jelang subuh di barak sekolahnya.

Ada luka di leher anak berusia 14 tahun ini. Polisi memang belum menyatakan kematian Krisna karena penganiayaan atau bukan meskipun ada indikasi kuat ke arah itu. Jika nanti benar dan terbukti Krisna dianiaya, kasus ini menambah panjang daftar kekerasan di institusi pendidikan di Indonesia.

Sebelumnya, hanya selisih kurang lebih dua bulan, tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta tewas saat mengikuti Diklatsar The Grand Camping (TGC) pada 13-20 Januari 2017. Syaits Asyam (19), Muhammad Fadli (19) dan Ilham Nurfadmi Listia Adi (20) diduga tewas akibat dianiaya seniornya. Kepolisian setempat telah menetapkan dua orang sebagai tersangka.

Bahkan, pada bulan yang sama, tepatnya pada 10 Januari 2017, Amirullah Aditya Putra merupakan Taruna Jurusan Nautika angkatan 2016 Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) tewas diduga dianiaya empat pelaku. Artinya, sejak Januari hingga Maret 2017, ada tiga kasus kekerasan di institusi pendidikan.

Kalau ditarik jauh ke belakang, lebih dari satu dekade terakhir, sejak 2000 hingga 2017, hampir tiap tahun ada kasus kekerasan di institusi pendidikan. Kebanyakan kasus di Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) atau kini menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), ada pula di kampus umum (Universitas Gunadharma dan UII), STIP dan terakhir di sekolah menengah atas (SMA).

Kasus di SMA Taruna Nusantara harus jadi titik tolak bagi pemerintah untuk melakukan reformasi pola pendidikan di institusi pendidikan, baik level universitas maupun SMA. Ini jadi petunjuk, kekerasan mulai menurun ke sekolah. Memang, selama ini sekolah pun tak luput dari adanya kekerasan. Seperti adanya tawuran antarpelajar. Namun, kasus tewasnya Krisna berada di lingkungan sekolahnya. Hal itu memperlihatkan ada sesuatu yang salah, mungkin dalam pola didik, pengasuhan hingga pembelajaran. Terutama terakit prilaku.

Dengan bukan maksud menyamaratakan, kekerasan yang terjadi di institusi pendidikan lebih dari satu dekade ini kebanyakan terjadi di institusi pendidikan yang menerapkan pendidikan ala militer. Lihat IPDN, STIP atau SMA Taruna Nusantara. Kejadian di Universitas Gunadharma pada 2001 dan UII pada 2017 pun setali tiga uang. Kegiatan kampus dibalut kekerasan ala militer.

Sebenarnya pendidikan ala militer tidak bisa disalahkan. Cukup banyak pola pendidikan militer di negeri ini yang sukses menjadi dasar pembentukan karakter. Bukankah latihan baris berbaris itu juga dasar pendidikan militer? Bahkan, di institusi pendidikan ala militer seperti sekolah calon bintara (Secaba), sekolah calon perwira (Secapa), Akademi Militer (Akmil) atau akademi kepolisian (Akpol), belum pernah terdengar makan korban jiwa.

Lantas, mengapa institusi pendidikan yang mengadopsi cara militer seakan berlakon seperti lebih militer dari kawah candradimukanya calon polisi atau calon tentara? Kemungkinan ada yang salah dari adopsi pola ini. Reformasi di sekolah atau kampus harus segera dilakukan. (*)

Editor: BPost Online
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer