Kanal

Balada Perempuan Pekerja

Mujiburrahman - BPost cetak

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Pagi kemarin, Minggu, 30 April 2017 di Bandara Internasional Hong Kong. “Mau nasi, Pak? Ada nasi campur. Ada juga nasi rawon,” katanya. Saya dan istri sempat agak kaget karena perempuan setengah baya itu menawarkan nasi sambil mendorong tas bagasi layaknya penumpang pesawat lainnya. Rupanya nasi dagangannya disimpan di tas itu!

“Nanti setelah check in ya,” kata saya. Kebetulan kami belum sarapan tadi pagi. Sesuai janji, usai check in, penjual nasi itu mendekati kami. Saya membeli nasi campur, istri memilih nasi rawon. “Makannya di mana nih?” tanya saya. “Tuh di situ,” katanya sambil mengajak kami ke tempat duduk penumpang yang sudah dipenuhi perempuan Indonesia. Saya duduk di troli saja. Istri duduk di bangku bersama mereka.

Sambil makan, kami ngobrol. Si ibu yang jualan nasi ternyata sudah 20 tahun lebih di Hong Kong. Adapun para perempuan yang juga makan bersama kami, mereka punya cerita dan gaya masing-masing. Ada yang bercadar tetapi paling banyak bicara. Ada yang berjilbab dan ada pula yang tidak. Ada yang bersuami, ada pula yang bujangan. Mereka tampak gembira. Meski baru bertemu, kami cepat akrab.

“Biasanya orang Indonesia yang berwisata atau ada acara di sini, enggan berbicara dengan kami. Mereka suka melecehkan dan sombong,” kata yang bercadar. “Senang ya pulang ke Indonesia,” kata istri saya.

“Iya lah. Terutama rindu pada anak-anak,” kata yang lebih tua. Dia mengaku bahagia kerja di Hong Kong. “Di sini aman. Hak-hak kami dijamin. Organisasi yang membantu pekerja juga banyak,” katanya.

Mereka semua datang ke Hong Kong sebagai pekerja domestik alias pembantu rumah tangga melalui agen resmi. Kontrak kerja umumnya dua tahun. Gaji yang diterima per bulan lumayan besar: $ 4.310 (dolar Hong Kong). “Saya senang kerja di sini. Rumah orang sini kan kecil kaya kotak (apartemen). Satu jam selesai saya rapikan. Sisa waktu bisa saya gunakan untuk ibadah dan menelepon keluarga,” katanya.

“Bagaimana caranya Anda bisa disayang sama majikan?” tanya istri saya. “Saya menyayangi anak mereka seperti anak sendiri. Bahkan anak yang saya asuh itu lebih dekat dengan saya ketimbang orangtuanya. Saya sudah mengasuhnya dari kecil hingga usia empat tahun. Kadang dia mendengar saya membaca selawat atau berdoa, dia menirukan. Mau makan dia juga baca Bismillah,” katanya tertawa.

“Bagaimana Anda mendapatkan makanan halal di sini?” tanyaku. “Saya makan tempe dan tahu saja Pak. Pasti halal kan. Kalau ada daging di supermarket yang berlabel halal, baru saya berani. Selain itu, yang penting ada sambal, cabai yang pedas. Itu sudah nikmat buat saya. Memang ada juga makanan halal yang dijual orang Islam, baik Indonesia atau yang lain. Tapi kalau di rumah, tempe-tahu sudah cukup.”

Tak terasa nasi yang kami makan habis. Waktu berangkat makin dekat. Kami pun berpisah. Setelah pemeriksaan imigrasi, seorang perempuan muda dengan gugup mendatangi istri saya. Dia bicara dalam bahasa Jawa. Rupanya dia tidak paham ke mana menuju pintu keberangkatan. Saya kasih tahu dia berdasarkan boarding pass-nya, dan dia segera berlalu. Dia tampaknya baru pulang dan sendirian.

Di pesawat, kami duduk di samping pekerja perempuan Indonesia juga. Dia bercerita banyak. “Hidup di kampung susah. Suami ke sawah. Saya tak bisa membantu banyak untuk biaya hidup. Akhirnya saya ke sini dan bisa membiayai anak-anak sekolah. Tahun ini anak tertua sudah tamat SMK. Saya tawari kuliah, dia tidak mau. Katanya ingin kerja saja. Kasihan sama ayah dan ibu yang terus berpisah.”

“Ibu sering menelepon keluarga?” selaku. “Ya, tentu. Saya sering sekali menelepon mereka, terutama anak-anak. Saya tanya sudah makan apa belum. Sudah mandi apa belum. Sekolahnya hari ini bagaimana Meski saya jauh, saya berusaha memantau anak-anak. Untungnya, sekarang komunikasi mudah dan murah. Kalau pas pulang ini senang. Tapi nanti sedih lagi karena harus berpisah,” katanya lirih.

Saya sungguh terharu dan kagum pada para perempuan ini. Ada kurang lebih 150 ribu orang Indonesia di Hong Kong, dan kebanyakan mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Merekalah pahlawan keluarga dan devisa. Mari tundukkan hati kita untuk mereka di Hari Buruh Internasional ini! (*)

Editor: BPost Online
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Beredar Isi Percakapan Asusila Kepsek SMAN 7 Mataram yang Menyeret Baiq Nuril

Berita Populer