Kanal

Al Amin

KH Husin Naparin - dok BPost

Oleh: KH Husin Naparin
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan

MUHAMMAD SAW sang pembawa Islam lahir hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah (20/22 April 571 M). Ayahnya bernama Abdullah yang meninggal sewaktu usia sang bayi berumur 2 bulan dalam kandungan sang ibu. Pada usia 6 tahun, ibunya, Aminah meninggal. Selanjutnya ia dipelihara oleh Abdul Muthallib, kakeknya. Usia 9 tahun kakeknya meninggal, lalu dipelihara oleh Abu Thalib, pamannya.

Penduduk Makkah menjuluki Muhammad SAW, Al Amin (yang jujur). Dari mana mereka tahu Muhammad seorang yang jujur? Hal ini terbukti pada rentang kehidupannya semasa remaja sampai dewasa. Di waktu remaja Muhammad mengembala kambing. Muhammad berkecimpung dalam dunia bisnis, selama 28 tahun.

Jiwa bisnisnya semakin kuat, karena sejak usia 12 tahun ia telah ikut dalam perjalanan bisnis pamannya ke Syam. Ia melihat sektor perdagangan cocok untuk Makkah yang kering dan gersang.

Ketika menginjak dewasa, Muhammad mulai berdagang sendiri di Makkah. Ia menjalankan bisnis sejak kecil dalam skala kecil, membeli sejumlah barang dari satu pasar, lalu menjualnya ke orang lain. Terkadang ia bekerja untuk mendapatkan upah dan menjadi agen beberapa pebisnis kaya Makkah.

Said bin Ali seorang mitra kerjanya, mengakui kejujurannya. Khadijah, seorang konglomerat perempuan tertarik bekerja sama dalam bisnis (syirkah) dengan sistem upah ataupun bagi hasil (mudharabah). Terkadang ia menjadi pengelola (mudharib) dan Khadijah sebagai mitra non aktif (shahibul maal). Muhammad banyak melakukan perjalanan bisnis regional, yaitu ke Suriah, Yaman, Bahrain dan Yordania dengan modal dari Khadijah.

Usia 35 tahun, Muhammad tidak lagi melakukan bisnis. Ia banyak tahannuts (menyendiri beribadah mengikuti agama Nabi Ibrahim AS) di Gua Hira, Jabal Nur sampai ia mendapat wahyu pertama, “Iqra” di usia 40 tahun. Lebih tiga tahun ia menyiarkan Islam secara sembunyi-sembunyi. Kemudian turun surah Asy-Syu’ara ayat 214 yang memerintahkannya agar ia memberi peringatan kepada para kerabat dekatnya diturunkan, beliau pun berdiri di bukit Shafa memanggil penduduk Makkah.

Setelah penduduk Makkah banyak yang berkumpul, beliau pun bersabda yang artinya, “Wahai penduduk Makkah, apakah kalian percaya kepadaku, jika aku katakan di balik gunung sana ada pasukan berkuda hendak menyerang kota Makkah?”

Serentak mereka menjawab “Ya, kami percaya, karena kami tidak pernah menemukan kamu berbohong.” Rasul pun bersabda, “Baiklah, aku beritahukan bahwa telah diutus menjadi Rasul Allah untuk menyampaikan berita. Nanti di kemudian hari akan ada azab yang dahsyat, siapapun tidak ada yang bisa selamat kecuali mengatakan kalimat tauhid la ilaha illallah. Katakanlah oleh kalian la ilaha illallah niscaya kalian selamat.”(HR. Ahmad).

Semua mereka terdiam. Tidak ada seorangpun yang menyatakan Muhammad bohong. Hanyalah Abu Lahab yang berkata; “Hanya untuk inikah wahai Muhammad kami kau kumpulkan,” seraya menunjuk wajah Muhammad, tabban laka ya muhammad, artinya, “celaka kau wahai Muhammad.”

Apa artinya? Abu Lahab tidak mengatakan Muhammad bohong, tetapi hanya meremehkannya. Turunlah surah Al-Lahab, dimana Allah SWT membela Nabi, “bukan Muhammad yang celaka, tetapi Abu Lahab dengan tangannya menunjuk Nabi, itu yang celaka, dan bahkan sungguh celaka (tabbat yadaa abii lahb, watabb).

Mengapa mereka meremehkan Muhammad, yang berlanjut dengan penolakan ajaran Islam? Ternyata, hal ini bukan masalah benar tidaknya ajaran Islam. Penolakan dan tantangan datang dari para hartawan, pejabat dan penguasa Makkah, karena dengan diterimanya ajaran Islam oleh masyarakat Makkah, mereka khawatir akan kehilangan kedudukan dan kekuasaan mereka.

Bahkan mereka takut kehilangan bisnis, seperti riba, pelacuran, kezaliman, patung dan lain sebagainya yang merupakan sumber ekonomi bagi mereka. Mereka pun menghasut para buruh, karyawan, budak-budak dan masyarakat untuk menentang Nabi.

Inilah yang berlaku sampai sekarang. Islam ditantang, dimusuhi, bahkan ingin dihapuskan dari kehidupan. Disamping itu, mereka sangat dengki, mengapa pangkat kenabian diberikan Allah kepada Muhammad, bukan kepada para tokoh Quraisy Makkah. Di lain pihak, mereka takut akhirat, karena ajaran Islam mengingatkan adanya kebangkitan dan pengadilan akhirat. (Haikal, Hayatu Muhammad) (*)

Editor: BPost Online
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Ditemukan Tewas di Sawah, Mahasiswi Aceh Ternyata Dibunuh Pacar karena Alasan Ini

Berita Populer