Kanal

Hiburan Malam Tahun Baru

Mujiburrahman - BPost cetak

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Mungkin karena saya tergolong santri, saya tidak pernah merayakan tahun baru dengan pesta pora, apalagi begadang semalam suntuk. Biasanya saya melewatkannya di rumah saja, dan tidur sebelum jam peralihan tahun. Karena itu wajar jika saya tidak senang dengan aneka kebisingan tahun baru seperti tiupan terompet, panggung musik hingga teriakan heboh menyertai ledakan kembang api di udara.

Dalam anggapan saya, perilaku perayaan tahun baru seperti itu adalah kesia-siaan, bahkan membawa kepada kemaksiatan. Sering kita membaca berita di media bahwa di malam tahun baru, khususnya di kota-kota besar, polisi menangkap sejumlah orang yang pesta narkoba. Belum lagi perkelahian antar pemuda, tauran antar kelompok, hingga pergaulan bebas di kalangan yang tua ataupun muda.

Namun, saya pun khawatir, jangan-jangan saya ini merasa saleh dan suci sendiri, sementara orang-orang di luar sana saya anggap pendosa semua. Padahal, siapalah saya ini? Apa hak saya menghakimi orang lain? Jika menyampaikan kebaikan dan mencegah kemaksiatan adalah suatu kewajiban, saya pun harus tetap rendah hati. Bukankah yang benar-benar tahu kualitas ketakwaan seseorang hanyalah Allah?

Karena itu, akan lebih bijak jika saya tidak menggeneralisasi bahwa semua orang yang merayakan tahun baru itu telah berbuat maksiat. Boleh jadi, sebagian dari mereka sekadar ingin melepas lelah, menghibur diri di antara himpitan dan beban hidup yang makin berat. Mereka memang perlu hiburan, dan perilaku mereka tidak sampai melampaui batas. Mungkin pula, mereka hanya ingin menikmati liburan saja.

Pada 31 Desember 2017 kemarin, kami sempat berbincang dengan penduduk Desa Rampa, Kotabaru. Orang-orang desa itu adalah Suku Bajau yang tinggal berjejer di tepi laut. Pekerjaan mereka turun-temurun adalah nelayan. Sekarang terdapat 2000 kepala keluarga di desa ini. Cukup banyak dari mereka yang masih tinggal di rumah tradisional yang besar, yang menampung beberapa kepala keluarga.

“Apakah nanti malam, orang-orang sini akan merayakan tahun baru?” tanya isteri saya kepada ibu-ibu yang tengah menggarami ikan-ikan. “Ya, kami akan ke Pantai Sarang Tiung malam ini, naik perahu motor ramai-ramai. Makanya, kami menyiapkan makanan sebagai bekal untuk malam ini,” kata seorang ibu. Namun, seorang ibu yang sudah tua berkata,”Saya tidak ikut. Malam ini, saya di rumah saja.”

Hidup dari hasil laut yang tak seberapa, dengan kegiatan rutin yang melelahkan barangkali memang perlu jeda. “Sekarang ini, menangkap ikan di malam hari lebih mendatangkan hasil ketimbang di siang hari, sehingga kami para lelaki tidak bisa beristirahat di malam hari. Belum lagi biayanya juga besar. Bahan bakar solar cukup mahal, sementara harga ikan tidak selalu mahal,” kata seorang Bapak.

Dalam perjalanan pulang ke Banjarmasin, saya termenung. Hidup manusia memang kadangkala berat. Cara manusia menjalaninya juga beragam. Boleh jadi, bagi orang-orang seperti mereka, hiburan tahun baru adalah rehat semata. Jika hidup ibarat kalimat, jeda itu adalah tanda koma, ketika orang berhenti sebentar, menarik nafas, untuk kemudian meneruskan, hingga kalimat itu sempurna.

Entahlah. Saya tidak mengikuti hiburan malam itu bersama mereka. Saya pulang ke Banjarmasin dan tidur di rumah tanpa merayakan pergantian tahun. Bagi saya pribadi, rasanya lebih baik jika jeda tahun baru itu tidak diisi dengan hiburan, tetapi renungan tentang apa yang telah diperbuat di masa lalu, dan apa yang kelak akan dilaksanakan. Yang buruk dari masa lalu ditinggalkan, dan yang baik ditingkatkan.

Namun, rupanya hidup manusia itu rumit. Perilakunya tidaklah muncul tiba-tiba, tetapi dibentuk dan didorong oleh keadaan lingkungan, pendidikan dan kondisi hidup yang mencengkeramnya. Karena itu, alih-alih menghakimi mereka yang larut dalam hiburan massal di tahun baru, bagi kaum santri mungkin akan lebih baik jika berusaha memahami dan turut serta memikirkan kesejahteraan lahir-batin mereka.

Alhasil, kita tentu perlu saling menasihati. Namun, agar nasihat itu kena di hati, kita terlebih dahulu harus saling memahami dan peduli. (*)

Editor: BPost Online
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Berita Populer