Kanal

Takdir dan Ikhtiar Menag

Mujiburrahman - BPost cetak

OLEH: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Apakah sejarah itu berulang? Apakah jejak-jejak waktu sebenarnya tidak memanjang lurus tetapi berputar melingkar? Apakah hidup ini pilihan manusia atau ketetapan Tuhan, atau kedua-duanya?

Inilah berbagai pertanyaan yang menggoda saya ketika bersiap-siap menyambut kedatangan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, hari ini ke Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin.

Lukman Hakim Saifuddin, yang akrab dipanggil Pak Lukman adalah anak ke-10 (bungsu) dari KH Saifuddin Zuhri yang juga menjabat Menteri Agama pada 1962-1967. Roda sejarah terus berputar dan ternyata putaran itu kembali ke anak beliau.

Kalau dicermati lebih jauh, khususnya terkait dengan kunjungan Pak Lukman ke UIN Antasari, makna putaran roda sejarah itu ternyata lebih dalam.

Sejarah mencatat, IAIN Antasari diresmikan pada 20 November 1964 oleh Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri. Adapun Ketua Panitia Persiapan Pembentukan IAIN di Banjarmasin itu adalah Gubernur Kalsel, Abrani Sulaiman.

Hal ini tertera dengan jelas dalam Piagam Pendirian IAIN Antasari yang ditulis tangan di atas sebuah kertas lebar dan besar. Piagam ini masih terpelihara dengan baik dalam bingkai yang indah.

Saifuddin Zuhri berjuang agar IAIN tidak hanya ada di Yogyakarta dan Jakarta, tetapi juga di berbagai provinsi di Indonesia. Baginya, IAIN penting “untuk mewujudkan agama sebagai unsur mutlak dalam nation building.”

Beliau akhirnya berhasil mendirikan IAIN di Banda Aceh, Surabaya, Ujung Pandang, Padang, Palembang, Jambi dan Banjarmasin dengan nama tokoh atau ulama di daerah masing-masing.

Terobosan lain dari Menteri Agama Saifuddin Zuhri adalah penerjemahan Alqur’an ke dalam bahasa Indonesia. Pada akhir 1962, dia mendirikan Lembaga Penerjemahan Alqur’an yang diisi oleh para ulama dan cendekiawan.

Setelah bekerja sepanjang 1963-1965, lembaga ini berhasil menyelesaikan terjemahan itu. Namun, karena keterbatasan dana, baru 10 juz pertama (jilid I) yang bisa diterbitkan pada 1966.

Dua hal di atas tampak berlanjut hari ini. Jika sang ayah meresmikan IAIN Antasari, sang anak membantu perubahannya menjadi UIN, dan hari ini meresmikan gedung baru serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Jika sang ayah mengharapkan IAIN menjadikan agama sebagai basis nation building, sang anak menginginkan IAIN/UIN menjadi sumber paham Islam moderat yang terintegrasi dengan kebangsaan.

Begitu pula, jika sang ayah menggagas penerjemahan Alquran ke dalam Bahasa Indonesia. Kini, sang anak melanjutkan dengan penerjemahan Alquran ke berbagai bahasa daerah, termasuk Bahasa Banjar.

Pada 20 Desember 2017 lalu, Pak Lukman telah meluncurkan terjemahan Alquran ke Bahasa Bali, Ambon, dan Banjar. Hari ini beliau akan meluncurkan terjemahan Alquran ke Bahasa Banjar versi aplikasi digital.

Selain itu, Saifuddin Zuhri juga dikenang sebagai sahabat karib Idham Chalid, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Kalimantan Selatan. Pada periode 1956-1962, Saifuddin Zuhri menjadi Sekretaris Jenderal mendampingi Idham Chalid sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU. Pada masa Orde Baru, keduanya juga berkiprah di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Singkatnya, mereka adalah teman seperjuangan.

Dalam bukunya Berangkat dari Pesantren (1987: 504), Saifuddin Zuhri bercerita bahwa dia sempat ragu menerima tawaran Presiden Soekarno untuk dijadikan Menteri Agama. Dia lantas berkonsultasi dengan para kiyai. Kemudian, kepada Idham Chalid dia bertanya, “Apa manfaatnya jika aku menjadi Menteri Agama? Idham justru balik bertanya, “Apa mudaratnya jika kamu tidak mau menjadi Menteri Agama?”

Akhirnya, jabatan itu diterima Saifuddin Zuhri. Kelak dia menulis, “Menduduki jabatan menteri bukanlah kemauanku. Aku menduduki jabatan yang bukan pilihanku itu dengan sikap yang dingin saja. Tapi, setelah tidak bisa menghindari dari kenyataan bahwa jabatan Menteri Agama itu benar-benar diletakkan di atas pundakku, aku tidak bisa main-main. Aku harus bekerja dengan betul-betul. Bismillah!”

Alhasil, hidup rupanya adalah perpaduan antara kesinambungan dan perubahan, kesengajaan dan kebetulan, takdir dan ikhtiar, nasib dan tanggung jawab. (*)

Editor: BPost Online
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Ditemukan Tewas di Sawah, Mahasiswi Aceh Ternyata Dibunuh Pacar karena Alasan Ini

Berita Populer