Kanal

Melawan Hoaks

Tajuk Bpost - BPost Cetak

DIREKTORAT Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, menggulung sindikat penyebar hoaks ujaran kebencian, yang mengusung nama Muslim Cyber Army (MCA), Selasa (27/2).

Pengungkapan itu diawali penangkapan terhadap empat tersangka, masing-masing adalah orang dengan inisial ML ( Tanjung Priok, Jakarta), RSD (Pangkal Pinang, Kepulauan Riau), RS (Bali), dan Yus (Sumedang, Jabar). Menyusul kemudian, ada sejumlah nama yang juga ditangkap. Total sudah ada 14 orang yang diamankan.

Meski jumlah tersangka yang diamankan sudah terbilang banyak, namun polisi masih menyebut ada ribuan orang yang terlibat dalam jaringan ini. Tentu, keterlibatan ribuan orang itu dalam tingkat yang berbeda-beda. Mulai dari ‘hanya’ penggembira hingga para pihak yang ikut terlibat secara langsung dalam proses produksi konten hoaks.

Karena masih banyak orang yang ‘terlibat’ dan tidak turut diamankan, tentu pengungkapan ini patut momentum bagi bangsa Indonesia untuk memerangi penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Sebab, bisa jadi mereka yang saat ini menjadi penggembira dan lolos dari tangkapan polisi, pada suatu saat akan menjadi produsen.

Langkah-langkah perang terhadap hoaks yang paling mudah bisa dilakukan oleh semua orang adalah, dengan tidak langsung percaya pada kabar yang sumber dan penyebarnya tidak jelas.

Bila yang membawa kabar adalah ‘orang’, patutlah kita memastikan bawah orang tersebut jelas identitas, kredibilitasnya dan tentu saja memang layak menyampaikan berita. Sedangkan bila si penyebar adalah kumpulan orang alias lembaga yang tidak jelas identitasnya, patutlah kita mempertanyakan kabar itu.

Sebagaimana MCA, meski menggunakan label ‘muslim’, kita patutlah melakukan verifikasi terhadap kelompok ini sebelum menerima informasi yang disebarkan. Setidaknya, kita perlu tahu orang yang menjalankan akun ini. Bila orang-orang di balik akun ini tidak berani menunjukkan identitasnya, apakah kita pantas mempercayai apapun yang disampaikan?

Karena itu, pantaslah bila Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin pun menyayangkan ulah sekelompok orang yang telah menggunakan agama sebagai lembaga penyebar berita bohong.

Upaya yang bisa dilakukan semua orang untuk terlibat perang terhadap hoaks adalah, dengan membiasakan melakukan telaah dan verifikasi terhadap kabar yang berhembus melalui beragam media.

Di zaman yang sudah sangat terbuka akses informasi ini, tentunya tidak terlalu sulit bagi siapa saja untuk memastikan bahwa berita itu benar atau salah. Dengan membandingkan materi berita dari sumber satu dan sumber lainnya, kita bisa tahu bahwa kabar itu benar atau salah.

Dan, ketika kita telah memastikan kebenaran kabar, otak kita sudah pasti hanya merekam informasi benar. Di kebenaran memori itu kemudian kita kabarkan pada pihak lain, objek informasi kita pun akan menerima kabar yang benar.

Tentu, kondisi itu berlaku sebaliknya. Di saat kita menerima dan merekam berita salah, kita juga akan menjadi penyebar berita salah. (*)

Editor: BPost Online
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Gubernur Tampar Suporter PSMS Medan hingga Videonya Viral, Beri Penjelasan di Instagram

Berita Populer