Kanal

Saudi dan Perubahan

Mujiburrahman - bpost

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

“Ahlan wa sahlan wa marhaban!” Begitulah ungkapan selamat datang yang dikatakan orang Arab Saudi yang menyambut kedatangan kami. Seringkali ditambah lagi dengan “hayyakallah”. Ini adalah bagian dari budaya mujamalah, tatakrama, sopan santun dan keramahtamahan. Mungkin budaya ini sudah ribuan tahun usianya dan hingga kini tetap bertahan.

Namun, Saudi juga berubah. Ada kesinambungan, ada pula perubahan. Kunjungan singkat saya ke beberapa universitas dan lembaga akademis di negara kaya minyak ini menunjukkan bahwa orang Saudi berusaha menghadapi tantangan dunia modern dengan optimis sambil tetap mempertahankan nlai-nilai tradisi yang agung. Penggunaan sains dan teknologi tetap digandeng dengan nilai-nilai Islam.

Ungkapan “Ahlan wa sahlan” mungkin salah satu contoh tradisi yang patut dicermati. ‘Ahlan’ berarti keluarga. ‘Sahlan’ berarti mudah. Tamu dihormati sebagai bagian dari keluarga sehingga segalanya akan mudah. Bayangkan jika Anda bepergian di gurun sahara seratus tahun lalu. Setelah letih, Anda bertamu ke sebuah perkampungan dan diterima sebagai ‘ahlan’, keluarga. Anda tentu sangat bahagia.

Kalau di masa lalu demikian, bagaimana di masa sekarang? Apakah ungkapan itu hanya basa-basi? Saya kira tidak. Sejauh yang saya pahami dan alami, untuk bertamu dan bekerja sama di negeri pelayan dua kota suci ini, akan lebih mudah dan lancar jika kita dihubungkan oleh orang yang sudah dikenal dan dipercaya, lebih-lebih yang memiliki hubungan keluarga. Jalur formal birokratis cenderung sulit.

Apakah hal itu menunjukkan orang Saudi tertutup? Belum tentu. Dilihat dari tamu-tamu yang datang, Saudi adalah negeri yang sangat terbuka. Hampir semua bangsa mengunjungi negeri ini, baik untuk beribadah ataupun mencari penghidupan. Orang Saudi tentu sadar, para tamu itu datang membawa budaya masing-masing, yang kadang berbeda bahkan bertentangan dengan budaya setempat.

Karena itu, untuk mempertahankan nilai-nilai luhur tradisi, mereka perlu berhati-hati. Hal ini tercermin pula dalam pengelolaan perguruan tinggi. Beberapa perguruan tinggi, khususnya di bidang kajian Islam, terus mempertahankan tradisi keilmuan Islam yang telah berusia ribuan tahun. Di sisi lain, kajian-kajian sains dan teknologi boleh dikata sama dengan universitas-universitas modern di Barat.

Tentu saja, mereka berusaha memadukan nilai-nilai keislaman dan kemodernan. Seorang peneliti di King Saud University, Riyadh, mengatakan, tatakelola kampusnya mulai berubah sejak delapan tahun silam ketika dipimpin oleh seorang rektor alumni universitas Amerika. Visi, misi dan tujuan universitas dan lembaga-lembaga di bawahnya dirumuskan. Penelitian juga digalakkan. Fasilitas ditingkatkan.

Sebagai negara kaya, tidak sulit bagi universitas-universitas di Saudi untuk melengkapi segala fasilitas yang diperlukan dalam pembelajaran dan penelitian. Sebagai contoh, Saudi Electronic University, memiliki fasilitas pembelajaran yang serba komputer dan digital. Perkuliahan tatap muka dikurangi. Mahasiswa dituntut untuk belajar mandiri dan berhubungan dengan dosen secara elektronik.

Mayoritas matakuliah di Saudi Electronic University disampaikan dalam bahasa Inggris. Kebanyakan dosennya juga alumni perguruan tinggi Amerika. Namun, bukan berarti semuanya lantas menjadi Barat. Pakaian sehari-hari tetap berjubah, igal dan serban. Kurma tetap menjadi suguhan utama dalam menghormati tamu. Saat azan berkumandang, orang-orang berhenti bekerja untuk menunaikan salat.

Alhasil, perubahan memang tak terelakkan. Jika kita tidak menyesuaikan diri dengan irama perubahan itu, kita akan digilas zaman. Namun, bukan berarti segalanya harus berubah. Nilai-nilai luhur tertentu harus dipertahankan. Tugas berat manusia adalah menentukan mana yang harus diubah, mana yang perlu dipertahankan. Semua bangsa mengalami hal ini, tak terkecuali Saudi Arabia. (*)

Editor: BPost Online
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

VIDEO John Kei, Sosok Pembunuh Sadis Penghuni Sel Khusus Nusakambangan yang Kini Bertobat

Berita Populer