Kanal

Harga Sebuah Kejujuran

KH Husin Naparin - Kaltrabu

Oleh: KH HUSIN NAPARIN

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

Penulis terkesan tulisan Fachrur Rozi, seorang dosen dan pemerhati masalah sosial, berjudul Inteligensi versus Moralitas (BPost, 22 Maret 2018), ia menulis “Dalam kehidupan sosial, moral dan etika seseorang bisa menutupi kekurangan IQ atau kepintaran, namun IQ atau kepintaran bagaimanapun tingginya, tidak akan bisa menolong etika moral dan integritas yang buruk.”

Dia mengisahkan ada seorang perempuan (Indonesia) yang berhasil study di sebuah fakultas/perguruan tinggi ternama di Paris, nilai tinggi. Ia melamar pekerjaan di negeri itu, namun mengherankan selalu ditolak. Ia menuduh negeri itu rasis tidak mau menerima warga asing, apalagi kulit berwarna.

Perempuan itu penasaran, lalu mencari keterangan pada Departemen Tenaga Kerja Perancis; mengapa semua perusahaan menolaknya. Ternyata ditemukan pada data base, ia pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik kendaraan umum.

Manager berkata, “Anda dimaafkan, namun anda tertangkap dua kali lagi setelah itu. Kami yakin anda telah melakukan penipuan ratusan kali sebelum tertangkap.” Si perempuan tetap ngotot menyatakan itu perkara kecil.

Manajer menjawab “Tidak, itu masalah besar, membuktikan anda orang yang tidak mau mengikuti peraturan yang ada dan anda tidak bisa dipercaya sehingga anda tidak bisa diterima bekerja di negeri ini, bahkan di seluruh Eropa tidak ada yang mau menggunakan jasa anda.”

Perempuan itu merasa perbuatannya selama ini (4-5 tahun) di negeri itu, tidak diketahui oleh siapapun, karena menurutnya sistem transportasi menggunakan sistem otomatis (self service) yang berlaku di negeri itu bisa dikelabui; didukung oleh pendapat pribadinya, ia seorang miskin dan harus mengirit, sehingga boleh berbuat tidak jujur.

Dalam kehidupan ini, suatu kejahatan yang dilakukan oleh seseorang, kendati menurut pelakunya tidak diketahui oleh orang lain, sebenarnya tetap direkam abadi oleh dirinya sendiri. Kita ingat sabda Nabi SAW, istafti qalbak artinya,“Tanya dirimu sendiri.” (maksudnya hati sanubarimu akan berkata, ini benar atau ini salah) (HR Ahmad bin Hanbal dan Addarimi).

Organ-organ tubuh seseorang merekam secara otomatis dan akan menjadi saksi yaitu lidah, tangan, kaki, telinga (pendengaran), mata (penglihatan) dan kulit. Ketika organ-organ tubuh seseorang nantinya berbicara di hadapan Tuhan, orang itu marah,” Mengapa kamu bersaksi.”

Organ-organ tubuh itupun menjawab, ”Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata, telah membuat kami pandai berbicara” (QS Fushsilat 20-21). Sementara itu, benda-benda di sekeliling kita yaitu; tanah (bumi), malam dan siang (waktu), harta (barang-barang); termasuk para malaikat, merekam peri perbuatan kita dan menjadi saksi pula. Hal ini diajarkan (Islam) kepada manusia, yaitu kepercayaan adanya akhirat sebagai akibat peri perbuatan didunia, itulah dia pengadilan Tuhan yang menentukan adanya ganjar dan siksa (reward and funishment).

Beruntunglah (selamat) orang-orang yang mau mempercayainya (beriman) dan mengamalkannya (taat), sehingga mereka berbuat jujur. Fakta berbicara, berapa banyak orang beriman tetapi tidak mentaatinya, lalu mereka berbuat tidak jujur sehingga tidak bisa dipercaya. Banyak orang yang tidak beriman, tapi berbuat jujur sehingga bisa dipercaya.

Orang yang bisa dipercaya hanyalah orang yang jujur, inilah yang dilakoni oleh Baginda Rasulullah SAW sejak kecil dan diwariskan kepada kita umat beriman. Di negeri-negeri maju banyak orang memberlakukan (mengamalkan) warisan Rasulullah SAW ini, kendati mereka tidak beriman. Sebaliknya, orang-orang yang tidak memberlakukan (tidak mengamalkan) warisan Rasulullah SAW ini, tidak akan maju kendati mereka beriman. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Aldi Novel Adilang Hanyut hingga ke Jepang: Saya Hanya Berdoa, dan Hiu Itu Pergi

Berita Populer