Kanal

Cinta Narsis dan Sufi

Mujiburrahman -

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

DALAM legenda Yunani diceritakan, seorang pemuda tampan bernama Narsisus berjalan di tepi sebuah telaga. Tiba-tiba matanya melihat bayangan dirinya di air telaga itu. Dia pun terpana dan jatuh cinta pada keelokan parasnya sendiri. Sejak itu, setiap hari dia berlutut di tepi telaga untuk memandangi ketampanannya. Suatu hari, dia terpeleset jatuh dan tenggelam di telaga hingga mati.

Setelah itu, para dewi hutan datang. Mereka terkejut. Ternyata air telaga yang tawar berubah menjadi asin karena air mata. Para dewi bertanya pada telaga, “Mengapa kau menangis?” “Tentu karena Narsisus mati,” jawab telaga. “Kau beruntung karena kau dulu tiap hari bisa melihat keelokan parasnya,” kata para dewi. “Tidak begitu. Aku justru melihat keelokan diriku sendiri di bola mata Narsisus!” kata Telaga.

Cerita tentang Narsisus di atas, sebagaimana ditulis Paulo Coelho dalam Prolog novelnya yang terkenal, Sang Alkemis, menunjukkan bahwa cinta diri merupakan kecenderungan alamiah manusia dan alam semesta. Kegemaran orang sekarang mengirim foto, tulisan dan video di media sosial adalah pantulan dari cinta diri itu. Manusia memang memiliki hasrat untuk dikenal, diperhatikan, dihargai dan dikagumi.

Salahkah cinta diri itu? Ya dan tidak. Seperti Narsisus, cinta diri menjadi petaka ketika dia hanya melihat dirinya melalui telaga. Akibatnya, dia hanya melihat dirinya sendiri, sementara manusia-manusia lain dianggap tidak ada. Padahal, melihat diri sendiri tanpa bantuan orang lain sama artinya dengan tidak melihat. Dia merasa melihat padahal buta. Dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dia bodoh kuadrat!

Sebaliknya, cinta diri akan positif jika ditemukan melalui orang lain. “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya,” sabda Nabi. Melalui orang lain sebagai cermin, manusia akan menemukan kesamaan sekaligus perbedaan, kekurangan sekaligus kelebihan dirinya dan orang lain. Cinta diri semacam ini akan melahirkan kerendahan hati karena dia bisa melihat dirinya sebagaimana adanya.

Karena itu, cinta diri tidak harus berarti cinta egoistik, mementingkan diri sendiri dan mengorbankan orang lain. Cinta diri yang sejati justru akan membangkitkan cinta kepada sesama manusia. Sabda Nabi SAW,“Tidak beriman seseorang kecuali dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” Inilah dasar dari aturan emas: perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.

Cinta diri bahkan dapat melahirkan cinta kepada Tuhan. “Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya,” kata sebuah hadis. Orang yang sungguh-sungguh merenung tentang siapa dirinya, darimana dia berasal dan kemana akan kembali, akhirnya akan sampai kepada Tuhan. Semakin sadar betapa besar rahmat dan nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya, dia pun akan semakin mencintai-Nya.

Sufi terkenal, Fariduddin Attar (w. 1230) menulis satu karya berjudul Manthiq al-Thair (Logika Burung atau Musyawarah Burung). Ini adalah kisah simbolik perjalanan spiritual jiwa manusia menuju Tuhan. Diceritakan, ada tiga puluh burung dari berbagai jenis terbang mencari Sang Raja. Di akhir perjalanan, para burung itu terkejut melihat Sang Raja yang disebut ‘Simurgh’ mirip dengan diri mereka sendiri.

Simurgh kemudian berkata, karena burung-burung itu berjumlah tiga puluh, maka Simurgh pun terlihat seperti tiga puluh burung (si-murgh dalam bahasa Persia berarti 30). “Tetapi aku lebih dari tiga puluh burung. Aku hakikat Sang Simurgh yang sejati itu sendiri. Maka leburkan diri kalian dalam diriku dengan jaya dan gembira, dan dalam diriku kalian akan menemukan diri kalian sendiri,” kata Simurgh.

Alhasil, kisah Narsisus dan Simurgh menunjukkan bahwa cinta diri dapat menghancurkan diri sendiri, tetapi dapat pula menumbuhkan pribadi yang mencintai sesama manusia dan Sang Pencipta. Lantas, manakah cinta diri yang berlaku ketika kita bermedsos?

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Video Sel Asli Setya Novanto Diunggah Najwa Shihab, Nazaruddin Ikut Tepergok di Dalamnya

Berita Populer