Kanal

Menjadikan SMK Bernilai Tambah

Siswa SMK Islam Sabilal Muhtadin kreatif memanfaatkan barang bekas menjadi bermanfaat. - istimewa

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendi menghendaki sekolah kejuruan (SMK) di daerah-daerah membentuk badan usaha komersial berbentuk perusahan atau pabrik. Tentunya apa yang diinginkan sang menteri ini bukan sekadar ilusi semata.

Setidaknya keprihatinannya itu didasari fakta begitu banyaknya lulusan sekolah menengah kejuruan yang menganggur.

Berdasar data Badan Pusat Stastik per Agustus 2017, dari 7,04 juta pengangguran di negeri ini, 11,41 persennya adalah lulusan SMK. Banyaknya lulusan SMK yang menganggur ini tentu sangat unik. Kenapa? Secara akademik, justru lulusan SMK adalah tenaga-tenaga siap pakai di dunia kerja. Faktanya, justru lulusan SMK menyumbang angka tersebesar dari jumlah pengangguran di negeri ini.

Dari fenomena ini tentu kita bertanya-tanya, apanya yang salah sebenarnya dari penerapan pengajaran di bangku sekolah? Atau penerapan aplikatif keahlian (skill) yang tidak inheren dengan realitas di dunia kerja? Logika sederhana rasanya sulit untuk mengatakan sekolah tidak memberikan bekal (keahlian/skill) sesuai jurusan atau bidang-bidang yang diajarkan.

Lantas di mana letak ketidak-inherenan kemampuan yang dimiliki lulusan dengan dunia kerja? Dari kondisi ini jujur kita harus katakan bahwa kesempatan dan terbatasnya lapangan kerja yang tersedia adalah persoalan yang lazim di negeri ini.

Dan, cara paling rasional menghadapi itu adalah berwiraswasta. Toh, ini pun tidak mudah mehitamputihkan situasi itu begitu saja. Taro kata, lulusan SMK memiliki keahlian tertentu yang diyakini bisa mejaminnya menjadi mandiri. Suka tidak suka, keahlian menjadi percuma tanpa ditunjang kemampuan finansial alias modal untuk membangun sebuah usaha.

Rasanya percuma kalau lulusan selalu diberikan ‘angin sorga’ untuk bisa mandiri, tanpa peran riel dari pengampu kebijakan di daerah. Dan, ini yang harus jujur kita katakan, masih kurang (peduli)!

Kembali ke soal keinginan Mendikbud. Kita tentu menyambut baik langkah tersebut jika memang arah dan tujuannya benar-benar memberikan nilai positif bagi sekolah dan siswa.

Dengan begitu, sekolah kejuruan bisa memaksimalkan kemampuan secara manajerial mengelola sekolah yang memiliki nilai tambah. Di sini tentunya peran manajer atau kepala sekolah yang tidak lagi perlu terpaku pada proses belajar mengajar semata, tapi juga mengaplikasikan kemampuan manajerialnya dalam mengelola sebuah unit usaha.

Sejatinya apa yang diinginkan pak menteri itu, tidak sedikit yang sudah dilakukan sekolah-sekolah kejuruan di Banua. SMKN 4 Banjarmasin, misalnya, yang memiliki usaha perhotelan yang selain menjadi ajang pembelajaran bagi para siswa, unit usaha itu juga memberikan revenue.

SMKN 5 yang dulu dikenal sebagai sekolah teknik andal di daerah ini, memiliki banyak fasilitas dan kemampuan untuk sebuah unit usaha. Sebenarnya, ketersediaan fasilitas dan tenaga (ahli) yang ada di sekolah-sekolah kini menjadi nilai tambah untuk menjadi unit usaha. Bukan tidak mungkin, layanan atau produk-produk yang dihasilkan memberikan kesejahteraan tidak saja bagi sekolah tapi juga bagi siswa atau lulusan yang menjadi bagian dari perusahaan tersebut.

Dan, kita percaya ada banyak sekolah kejuruan di banua yang memiliki spesialisasi khusus --yang jika benar-benar diberdayakan bisa memberikan sesuatu yang bernilai. Setidaknya bagi para lulusannya yang tidak lagi harus antre keluar-masuk instansi atau perusahaan memasukkan surat kerja! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Gadis di Sumbar Diperkosa Teman Pacar saat Kelelahan Mendaki Gunung hingga Akhirnya Tewas

Berita Populer