Kanal

Canda Rasulku

KH Husin Naparin - Kaltrabu

KH HUSIN NAPARIN, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

Canda adalah kelakar, senda gurau, seloroh; Bolehkah dalam Islam? Hanzhalah Al-Usaidi RA dan Abubakar RA menemui Rasulullah SAW dan menceritakan bahwa keduanya merasa munafik, karena ketika berada di sisi Rasulullah SAW, beliau menceritakan tentang surga dan neraka. Keduanya sama, merasa seperti melihatnya dengan mata kepala. Sesudah kembali ke rumah bersenda gurau dengan istri, anak-anak dan pekerjaan, sehingga lupa.

”Mendengar hal itu, Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya kalian seperti itu niscaya para malaikat selalu menjabat tangan kalian kendati kalian berada di atas tempat tidur atau di jalan, tetapi sekali-sekali (sa’ah wa sa’ah) bolehlah.” Kalimat ini beliau ulangi sampai tiga kali.” (HR Muslim). Lewat riwayat ini dapat kita petik kebolehan bercanda sewaktu-waktu.

Zahir bin Haram, seorang sahabat dari udik (Badwi), perawakan dan wajahnya kurang tampan. Rasulullah SAW menyayanginya. Ia selalu mengunjungi beliau dan membawakan oleh-oleh. Suatu hari ia menjual barang dagangannya di pasar Madinah; Rasul memeluknya dari belakang. Ia terkejut dan berteriak, ”Siapa ini? lepaskan aku.” Ia memalingkan wajahnya ke arah belakang.

Setelah tahu bahwa yang memeluknya adalah Rasulullah, ia berusaha agar punggungnya tidak lepas dari dada Rasul. Rasulullah SAW berkata,” Siapa yang mau membeli budak ini?” Zahir berkata,” Wahai Rasul, tidak akan laku, kalau laku harganyapun murah sekali.” Rasulullah menyahut,” Tidak wahai Zahir, kamu mahal di sisi Allah.” (HR Tarmidzi). Lewat riwayat ini kita tahu, Rasulullah SAW bercanda dengan umatnya.

Seorang perempuan tua berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, doakan aku kepada Allah agar aku masuk surga.” Rasul menjawab,”Wahai ibu, surga tidak dimasuki perempuan tua.”

Mendengar ucapan Rasul, perempuan itu pun menangis. Melihat hal itu Rasulullah pun menerangkan bahwa orang tua tidak masuk dalam keadaan tua, tetapi ia masuk surga dalam keadaan muda kembali.” (HRTarmidzi). Lewat riwayat ini kita tahu Rasulullah SAW bercanda, tetapi selalu mengatakan yang benar (hak, tidak bohong).

Suhaib ar-Rumi sedang sakit mata. Ia berkunjung ke rumah Nabi SAW dan disuguhi suguhan roti dan kurma masak. “Ayo kemari makanlah,” kata beliau. Suhaib pun memakannya. Lalu Rasul berkata,” Suhaib, kau makan kurma? bukankah matamu sakit.” (Ada mitos di masyarakat Arab, orang sakit mata tidak boleh menyentuh buah kurma).

Suhaib menjawab, “Tidak apa-apa wahai Rasul, aku mengunyahnya dengan gigi yang lain.” Mendengar kelakar Suhaib, Rasulpun tersenyum. (HR Ibnu Majah). Lewat riwayat ini kita tahu, betapa segarnya suasana bergaul dengan Baginda Rasulullah SAW. Rasul bersabda, ”Aku adalah orang Arab pertama masuk surga, Suhaib orang Rum pertama masuk surga, Bilal orang Habsyah pertama masuk surga dan Salman orang Persi pertama masuk surga.” (HR Tabrani).

Anas bin Malik, di waktu kecil diserahkan oleh ibunya kepada Nabi SAW untuk berkhidmat kepada beliau. Suatu ketika, ia disuruh pergi oleh Rasulullah untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya, Anas melewati pasar. Ia berhenti menyaksikan anak-anak sebayanya sedang bermain-main.

Tiba-tiba Rasululah SAW sudah berada di belakangnya dan memegang bahunya, seraya berkata,” Unais aku suruh ke mana kamu ?” Anas berpaling arah ke belakang, kelihatan wajah Rasul tertawa. Anas menjawab,” Baik wahai Rasulullah aku penuhi perintahmu.” (HR Muslim). Lewat riwayat ini kita tahu betapa lembutnya Rasulullah menegur kelalaian pembantunya. Beliau memanggil nama anak itu menggunakan isim tashgir, Unais, panggilan kesayangan di kalangan masyarakat Arab. Anas RA pernah berkata, “Sembilan tahun aku melayani Rasulullah SAW, aku tidak pernah mendengar cemoohan dari beliau.” (HR.Muslim).

Demikianlah, dibolehkan bercanda dengan ucapan atau perbuatan untuk menyegarkan situasi, menghibur hati dan mencerahkan pikiran, serta mengeratkan silaturahmi; Tetapi tidak boleh bohong dan menyinggung perasaan orang lain, apalagi membahayakan fisik, merugikan harta dan merendahkan martabat seseorang. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Sebelum Tewas, Anak Korban Pembunuhan di Bekasi Tulis Surat: Mama Papa Maafin Kakak Sudah Buat Marah

Berita Populer