Kanal

Kantor Air Asia digeledah, bos Tony Fernandes diselidiki terkait dugaan suap

Teknisi Air Asia saat memeriksa kondisi pesawat - Blomberg

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kantor Maskapai Penerbangan Malaysia, Air Asia di Delhi dan Mumbai, India, digeledah kepolisian India, atas dugaan terkait suap pada bos perusahaan itu, Tony Fernandez.

"Kami telah mengajukan kasus terhadap direktur AirAsia Tony Fernandes, kolega-koleganya, dan sejumlah pejabat pemerintah mengenai didapatnya izin secara ilegal," ujar pejabat Biro Pusat Investigasi (CBI) India, RK Gaur kepada kantor berita AFP.
Tak pernah bergulir ke kejaksaan, kasus gurauan bom di pesawat terus berulang
Empat tahun pencarian MH370 berakhir, tapi tidak misterinya
Pesawat AirAsia Indonesia tujuan Bali, terpaksa kembali ke Australia karena 'masalah teknis'
CBI menuding AirAsia melanggar aturan penanaman modal asing langsung di India dan menyuap sejumlah pejabat pemerintah saat berupaya memperoleh izin terbang ke tujuan internasional.
Dalam pernyataan resmi, pada Selasa (29/05), AirAsia India membantah semua tuduhan yang diarahkan aparat India. Lebih lanjut maskapai tersebut menegaskan sedang bekerja sama dengan semua pihak regulator "untuk menyajikan fakta-fakta yang benar".

Grup AirAsia, pada Rabu (30/05), mengalihkan semua permintaan komentar ke AirAsia India. Adapun Tony Fernandes tidak merespons segala permohonan wawancara.
airasia
Reuters
AirAsia India memiliki 14 pesawat pada akhir 2017, namun berencana menambah jumlahnya hingga mencapai 60 unit selama lima tahun ke depan.
'Ingin langsung terbang'
Dalam dokumen penyelidikan sebagaimana dipaparkan kantor berita Reuters, CBI menuding AirAsia, Fernandes, dan lainnya "memilih untuk mengalahkan kerangka hukum dan kebijakan sektor penerbangan India" dan melobi sejumlah pejabat pemerintah "demi mengamankan persyaratan wajib, beberapa di antaranya melalui cara-cara non-transparan".
Maskapai asal Malaysia ini mulai beroperasi di India pada 2014 dengan menggandeng perusahaan setempat, Tata Sons.
Pada saat itu, aturan penerbangan mengharuskan AirAsia India beroperasi di pasar domestik selama lima tahun dan memiliki armada 20 pesawat sebelum diperbolehkan melayani rute internasional.
Namun, tahun lalu, klausul itu dihapus.
CBI menuduh ada uang suap yang dialirkan ke sejumlah pejabat pemerintah "demi mengamankan perizinan untuk layanan tranportasi udara terjadwal tujuan internasional".
Kongkalikong itu, menurut CBI, melibatkan lima individu, sebuah perusahaan berbasis di Singapura, dan beberapa pejabat pemerintah yang tidak disebutkan namanya.
Pada Kamis 31 Mei 2018, kami mendapat email dari AirAsia Indonesia. Berikut kami muat tanggapan Air Asia dalam pernyataan berjudul 'Pengumuman Bursa.'
Pengumuman Bursa
Kami mengacu pada permintaan yang diajukan oleh Bursa Malaysia Securities Berhad ("Bursa Malaysia") pada 30 Mei 2018 terkait dengan berbagai Artikel Media tentang Investigasi oleh Biro Investigasi Pusat terhadap kantor AirAsia India.
Kami telah mengetahui tuduhan yang disampaikan melalui media serta penyelidikan oleh Biro Investigasi Pusat di kantor AirAsia India di Bengaluru. AirAsia secara tegas menyangkal semua tuduhan dan perselisihan, dan percaya bahwa tuduhan palsu ini tidak berdasar dan dimotivasi oleh pertimbangan yang belum diketahui.
Tuduhan sehubungan dengan adanya kontrol asing secara tidak langsung terhadap AirAsia India Limited telah sepenuhnya diselidiki dan Direktur Jenderal Penerbangan Sipil telah secara efektif memutuskan bahwa operasional dan manajemen AirAsia India Limited ("AAIL") berlangsung sesuai dengan FEMA (Foreign Exchange Management Act) dan juga Peraturan FDI (Foreign Direct Investment).
AirAsia sepenuhnya menyangkal tuduhan-tuduhan ini, dan secara gigih akan membela diri terhadap hal tersebut secara tegas. Tindakan hukum yang bertujuan untuk melindungi AirAsia dan kepentingannya terhadap tuduhan ini akan diambil terhadap siapa pun yang diketahui telah melakukan hasutan negatif dan gegabah, dan atau mencoreng reputasi baik dari individu dan pemegang saham AAIL.
Pengumuman ini tertanggal 30 Mei 2018.
Baskoro Adiwiyono, Communications, PT Indonesia AirAsia & PT Indonesia AirAsia Extra
Penyelidikan di India merupakan kasus kedua bagi Fernandes. Pria itu juga tengah diinvestigasi di Malaysia sehubungan dengan pembatalan 120 penerbangan pada masa pemilihan umum awal Mei lalu.
Pada Januari lalu, AirAsia Group Bhd, tengah mempertimbangkan untuk menawarkan saham maskapainya secara perdana di India.
AirAsia India memiliki 14 pesawat pada akhir 2017, namun berencana menambah jumlahnya hingga mencapai 60 unit selama lima tahun ke depan.

Editor: Royan Naimi
Sumber: Tribunnews

Video Mesumnya Diputar di Kelas dan Tersebar, Siswi Berprestasi di Karawang Terpaksa Pindah Sekolah

Berita Populer