Kanal

Kentut Sosial

Mujiburrahman - Bpostonline

Oleh: Mujiburrahman Rektor UIN Antasari

MENURUT berita Kompas.com, Sabtu, 2 Juni 2018 kemarin, Densus 88 Anti-Teror telah menangkap tiga terduga teroris, alumni Universitas Riau. Densus 88 juga menemukan 4 bom rakitan dan 8 jenis serbuk bahan peledak di gelanggang mahasiswa kampus itu. Kasus ini mungkin membuktikan pernyataan Kepala BIN, Budi Gunawan, bahwa sekitar 39 persen mahasiswa kita telah terpapar radikalisme.

Radikalisme rupanya laksana angin yang bisa menyusup ke mana-mana. Seperti dipaparkan oleh Charles Kurzman dan Ijlal Naqvi (2013) dalam artikel “Who Are the Islamists?”, data tentang kaum Islam radikal di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa kaum radikal itu bisa siapa saja: berpendidkan agama atau sekuler, kelas menengah atau bawah, terpelajar atau awam, orang kota atau desa.

Mengapa radikalisme memiliki daya tarik? Radikalisme lahir dari kekecewaan terhadap kenyataan, baik yang bersifat pribadi, lokal, nasional ataupun global. Jika Anda punya rumah yang bolong di sana sini, mungkin Anda ingin menutupi bolong-bolong itu. Namun jika Anda radikal, Anda memang sudah muak dengan rumah itu, sehingga ingin membongkarnya, lalu membangun rumah baru sesuai impian Anda.

Kenyataan yang mengecewakan itu adalah seperti demokrasi yang belum menghasilkan kesejahteraan yang merata, maraknya politik uang, korupsi, penegakan hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas, serta aneka kemaksiatan. Di tingkat global, krisis Irak, Suriah, Mesir, Libya hingga konflik Israel-Palestina membuat kekecewaan itu menggunung. Dunia seolah sudah gelap gulita tanpa kebaikan sama sekali.

Anak-anak muda yang masih mencari jati diri dan waswas tentang masa depan, sangat mudah dimasuki pandangan yang serba negatif itu. Jika dunia penuh masalah, apa solusinya? Kaum radikal menjawab tegas: “Agama!” Agama pasti benar karena berasal dari Tuhan. Dunia diatur oleh kekuasaan. Karena itu, untuk menerapkan agama secara total, kuasai dunia ini dengan jihad, dan kalau perlu bom bunuh diri!

Jadi, sudut pandang yang ekstrem melahirkan solusi yang ekstrem pula. Pandangan yang sepenuhnya negatif terhadap kenyataan, memberikan pembenaran atas solusi yang dianggap mutlak benar. Padahal, seburuk-buruknya seorang manusia, apalagi masyarakat, mesti ada pula kebaikannya. Semulia-mulianya agama, jika diterapkan oleh manusia seperti kita, mesti ada penyelewengan dan dosa pula.

Karena itu, wajar jika siswa/mahasiswa, guru/dosen yang berlatarbelakang ilmu eksak, yang biasanya memiliki kecerdasan cukup tinggi, juga bisa tertarik pada radikalisme. Mereka mungkin mengira, tafsir ajaran agama sama pastinya dengan rumus matematika. Bahan bacaan kaum radikal juga eksklusif. Mereka biasanya hanya membaca karya-karya ‘imam’ mereka tanpa perbandingan dengan yang lain.

Di sisi lain, para pemimpin gerakan radikal cukup banyak yang berlatarbelakang pendidikan agama. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang mendalami ilmu keagamaan tanpa diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora sehingga cenderung bersikap literlik dan tidak kontekstual. Pergaulan mereka juga terbatas seputar jemaah pengajian dan orang-orang yang seagama bahkan sealiran.

Di lihat dari sudut sosial, ekonomi dan politik, para pemimpin gerakan radikal biasanya orang-orang yang masih berjuang mendaki tangga ke posisi yang lebih tinggi dalam strata sosial. Para pendukung mereka yang dari kelas menengah, kurang lebih juga demikian. Mereka sudah mulai menikmati kesejahteraan, tetapi belum benar-benar aman, sementara ada keinginan menggebu untuk terus naik menanjak.

Mungkin ada benarnya Masdar F. Masu’di yang mengatakan, radikalisme itu ibarat kentut, kentut sosial. Baunya busuk dan banyak orang terganggu. Namun, kentut adalah gejala bahwa ada masalah mendesak yang perlu diselesaikan. Konon para terduga teroris alumni Universitas Riau itu berniat membom kantor DPRD Riau dan DPR RI. Rupanya, mereka tidak hanya marah pada polisi dan non-Muslim, tapi juga DPR!

Alhasil, tugas berat melawan radikalisme bukan sekadar menangkap dan menghukum para teroris, tetapi menghapuskan berbagai kenyataan pahit yang menghantui demokrasi kita yang belum sehat, sembari menyebarkan paham keagamaan yang ramah dan moderat! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

VIDEO John Kei, Sosok Pembunuh Sadis Penghuni Sel Khusus Nusakambangan yang Kini Bertobat

Berita Populer