Kanal

THR dan Puasa

Mujiburrahman - Bpostonline

OLEH: MUJIBURRAHMAN
Rektor UIN Antasari

TUNJANGAN Hari Raya (THR) untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan honorer tahun ini sempat menjadi berita ‘seksi’. THR ASN mencakup gaji pokok dan aneka tunjangan, termasuk tunjangan kinerja, tetapi sebagian pemerintah daerah tidak mampu membayar tunjangan kinerja. Sebaliknya, para honorer tidak menerima THR, tetapi sebagai penghibur, sebagian kantor memberi mereka gaji ke-13 di bulan ini.

Mengapa perlu THR? Mungkin karena keperluan menjelang lebaran meningkat. Orang perlu membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan hari raya hingga biaya mudik. Bukankah puasa mengajarkan agar kita mengurangi dan mengendalikan konsumsi? Bukankah fenomena ini menunjukkan kontradiksi? Belum tentu! Baik buruk pelaksanaan ajaran agama sangat tergantung kepada si penganut agama.

“Kuping saya panas. Para ASN yang sudah menerima THR bahkan termasuk tunjangan kinerja, masih saja menyindir-nyindir agar diberi paket lebaran pula. Mereka meminta saya untuk ‘mencarikan jalan’-nya,” kata orang keuangan di sebuah kantor. Di sisi lain, adapula ASN yang berbagi zakat dan sedekah untuk para honorer di kantornya, meskipun jumlahnya tak seberapa. Dia mensyukuri rezeki yang diterimanya.
Demikian pula, ketika puasa, untuk beberapa jam, kita menahan diri dari makan dan minum. Pada saat lapar dan haus mencekam, secara alamiah nafsu makan-minum kita meningkat. Tema pembicaraan yang paling menarik adalah makanan dan minuman kesukaan. Bahkan, makanan dan minuman yang di hari-hari biasa tidak menarik perhatian, saat lapar dan haus, semua itu terbayang amat lezat dan nikmat.

Dalam keadaan demikian, sebenarnya kita dihadapkan kepada dua pilihan sikap yang bertolak belakang. Pertama, karena nyaris semua makanan dan minuman terbayang nikmat, maka kita pun membeli semua yang kita inginkan untuk balas dendam saat berbuka. Kedua, bisa pula sebaliknya, yakni apa yang selama ini kita anggap biasa-biasa saja, sesuatu yang rutin dan lumrah, sekarang bisa kita hargai dan syukuri.

Mari kita cermati sikap pertama lebih jauh. Tak sedikit orang berduit yang meningkatkan konsumsinya berlipat-lipat justru di bulan Ramadan. Bahkan di bulan puasa ini ada orang yang makan-minum sepuas-puasnya sepanjang malam sehingga di hari raya berat badannya naik drastis. Nafsu konsumtif ini terus menjalar kepada rupa-rupa keinginan berbelanja yang membuat pusat-pusat perbelanjaan berjejal.

Memang, tingginya konsumsi di bulan Ramadan tidak otomatis karena nafsu berlebihan kaum berduit. Di bulan ini, orang-orang miskin juga menaikkan konsumsi karena daya beli mereka meningkat berkat sedekah dan zakat yang mereka terima. Di sisi lain, ada juga orang yang mengalami penurunan nafsu makan saat puasa sehingga dia membeli makanan yang lebih mahal guna membangkitkan seleranya.

Adapun sikap kedua, kiranya adalah sikap yang lebih bijak. Sesuatu yang rutin dan terulang seperti jadwal makan tiap hari cenderung dianggap biasa. Dengan merasakan lapar dan haus, orang selayaknya menyadari betapa penting setiap butir nasi dan setiap tetes air yang selama ini dia konsumsi tiap hari. Dari situ terbit rasa syukur pada Tuhan dan empati pada kaum papa yang belum tentu makan tiap hari.

Selain itu, ketika tubuh mulai lemah di siang hari puasa, ada suatu kesempatan bagi manusia untuk merasakan dan menghayati sisi terdalam dari dirinya, yaitu ruhaninya, dunia spiritualnya. Kesibukan hidup yang tinggi untuk mengejar materi seringkali membuat orang lalai akan ruhaninya. Puasa membuat manusia berjarak dari tubuhnya, sehingga hakikat dirinya yang ruhaniah akan lebih terasa.

Alhasil, hidup manusia selalu dihadapkan kepada pilihan moral, termasuk di bulan Ramadan ini. Puasa bisa membuatmu sangat konsumtif dan serakah, bisa pula membuatmu penuh syukur dan berbagi. Pilihan inilah yang akan menentukan apakah hidupmu galau atau damai, bahagia atau menderita. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

8 Pengakuan Tersangka Pembunuhan di Bekasi: Sakit Hati Dibangunkan saat Tidur Pakai Kaki

Berita Populer