Kanal

Olah Sisa Makanan jadi Pupuk Cair, Hasil Karya Jarkasi Dipesan Petani di Manado

-

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Berawal dari sisa-sisa bahan makanan tidak terpakai, Jarkasi (45), warga Desa Mandala Kecamatan Telaga Langsat Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) berinovasi membuat pupuk organik cair dan alat pembuatanya.

Hasil karya Jarkasi bahkan sukses mengantar dirinya meraih juara 1lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kabupaten HSS. Dia juga menjadi juara 1 lomba inovasi TTG tingkat Provinsi Kalimantan Selatan yang dilaksanakan di aula BLK Banjarbaru pada 25 April 2018 lalu.

Saat ini, Jarkasi sedang mempersiapkan diri mengikuti lomba TTG tingkat nasional yang rencananya diselenggarakan di Bali, Juli mendatang.

"Mulai menekuni membuat pupuk organik cair sejak 2011 lalu. Namun sebelumnya sudah membuat pupuk organik padat sejak 2007,” ujar Jarkasi, Senin, (11/6/2018).

Baca: Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri, Istri, Anak dan Keluarga dalam Bahasa Arab, Latin dan Artinya

Untuk membuat pupuk cair dia hanya menggunakan sisa-sisa limbah yang tidak digunakan lagi. Mulai dari nasi, rebung, akar bambu, air kelapa, air cucian beras, gula merah hingga air seni kelelawar atau sapi.

"Ide awalnya pembuatan pupuk organik cair karena sering melihat bahan-bahan itu terbuang percuma, jadi saya berinovasi membuat sesuatu dari bahan-bahan itu," lanjutnya.

Untuk alat pembuatannya berupa bambu dibentuk seperti roket. Alat inilah yang mengantarkannya menjadi juara di tingkat Kalsel. Dengan alat sederhana itu dia digunakan meracik bahan-bahan bekas sehingga menjadi pupuk organik cair.

Dia menyebut, lama pembuatan pupuk organik cair perlu proses permentasi hingga 14 hari hingga 21 hari.

Persiapan dia untuk lomba di tingkat nasional, Jarkasi mengaku sudah menyiapkan peralatan, hanya tinggal uji laboratorium yang belum dilakukan.

Baca: 21 Ucapan Selamat Idul Fitri 2018 Untuk Sahabat, Teman, Pacar di Lebaran Ini

"Lomba tingkat nasional penilaiannya Juli mendatang, Minggu keempat. Persiapan terus kita lakukan," ujarnya.

Selain ikut lomba, hasil karyanya juga menghasilkan pundi-pundi uang. Satu liter pupuk organiknya olahannya dijual Rp 45 ribu. Sudah banyak para petani dan perkebunan membeli pupuk organik cairnya. Pupuk cainya baik juga untuk tanaman palawija, tanaman multikultura, tanaman perkebunan dan kehutanan, hingga tanaman hias.

"Untuk satu hektare lahan pertanian bisa menggunakan dua hingga empat liter," beber bapak dua anak ini.
Pupuk cair olahannya sudah dijual di toko toko pertanian baik di wilayah Kandangan, Banjarbaru, Paringin, hingga ke Kaltim. Bahkan, pemesannya petani dari Manado.

Baca: Bukan Minal Aidin Wal Faizin, Ini 20 Ucapan Lebaran, Idul Fitri 2018 yang Benar

Kendala yang dihadapi dari karyanya saat ini terkait lisensi dan uji laboratorium yang belum dilakukan.
Pemerintah Kabupaten HSS sendiri mengapresiasi inovasi warganya di bidang pertanian. Jarkasi juga sudah bertemu langsung dengan Plt Bupati HSS Ardiansyah beberapa waktu lalu pascadirinya meraih juara 1 lomba Inovasi TTG tingkat Kabupaten HSS, dan huara 1 tingkat provinsi.

Ardiansyah mengaku sangat mengapresiasi atas prestasi yang yang telah dilakukan Jarkasi.

"Karyanya membawa nama baik dan mengharumkan Hulu Sungai Selatan, baik di tingkat kabupaten, provinsi dan sampai berlomba ke tingkat nasional," katanya. (banjarmasinpost.co.id/ryn)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Jelang Pernikahan Mantan, Pria di Kalimantan Tengah Mengamuk Bunuh Bibi dan Ibu Kandungnya

Berita Populer