Kanal

Tradisi Mudik Menurut Ketua MUI Kalsel KH Husin Nafarin MA

Ketua MUI Kalsel KH Husin Nafarin - banjarmasinpost.co.id/salmah

BANJARMASINPOST.CO.ID - Setiap tahun, berbulan-bulan kita ribut membicarakan, mempersoalkan, menghadapi dan memikirkan bahkan melakoni masalah mudik. Mudik adalah perjalanan menuju arah ke hulu sungai, lawannya labuh arah perjalanan ke hilir sungai.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis, mudik adalah berlayar, pergi, ke udik (ulu sungai, pedalaman).
Zaman now, mudik menjadi istilah populer pulang kampung bagi perantau di negeri orang. Mudik sepertinya suatu keharusan untuk menyambut hari raya. Merantau itu sendiri diistilahkan dengan madam, migran barangkali istilahnya sekarang.

Penduduk desa kelahiran penulis bernama Kalahiang (sekarang Hujanmas, Balangan, 200-an kilometer dari ibu kota Kalsel, Banjarmasin) tergolong perantau, sejak dulu mereka madam atau merantau ke Sapat Tembilan di Sumatera, Kotabaru di Pulau Laut, ke Jakarta di Betawi, ke Samarinda di Kaltim; dan ada yang ke Tamban dan Gambut di Kalsel saja, dan ada juga yang ke tanah Arab (Saudi).

Biasanya, kepulangan para pemudik selalu membawa beragam oleh-oleh, menunjukkan kesuksesan kiprah dan usaha mereka di negeri orang. Di balik itu kadang-kadang dibocengi sifat manusiawi negatif, yaitu pamer dan rasa hebat (sedikit kesombongan).

Demikian, dulu sewaktu penulis masih kecil; seorang wanita desa saya pulang kampung setelah dua tahun merantau di Samarinda; di sana ia dan keluarganya hidup bertani di Sempaja, pinggiran kota Samarinda, sebut saja namanya Isah. Rambutnya dikerol (dikriting) tanpa kerudung, memakai rok pendek di atas lutut.

Suatu pagi, seperti kebiasaan penduduk desa duduk ngeteh (minum teh) di warung ibu saya. Ibu saya berjualan pisang goreng dan saat itu sedang menggoreng pisang. Tiba-tiba datang seorang ibu pelanggan lainnya seraya bertanya, “Sudahkah masak guguduhnya?” Lalu si Isah bertanya, “Apa itu guguduh?”

Ibu saya menjawab dengan nada marah, “Pisang basanga bungulai, hanyar dua tahun madam sudah kada tahu lagi diguguduh. (maksudnya, pisang goreng, bodoh amat, baru dua tahun merantau sudah lupa dengan pisang goreng).” Rupanya si Isah masih memperlihatkan gengsinya dan berkata, “Oh, kalau kami di sana, itu namanya sanggar.”

Ada pemuda-pemuda perantau pulang kampung mondar mandir di desa dengan celana ketat, open cape memakai kacamata hitam sambil bersiul dan bersuit, ugal-ugalan pamer sepeda motor baru. Ada pula famili penulis pulang kampung setelah tinggal di Jakarta beberapa tahun membawa keresahan; apa pasal, ia membawa paham bid’ah, tahlil dan talqin bid’ah, jamuan orang meninggal haram dan lain sebagainya.

Yang hendak penulis katakan, apapun istilahnya, inti pulang kampung jangan dilupakan adalah untuk menjalin silaturrahmi, berbagi kasih sayang. Bagi yang berkelebihan (materi) setelah sukses kiranya menyantuni yang berkekurangan, bukan pamer kesuksesan.

Usai Ramadan (banyak orang menjadi dermawan, tidak salah memang), tapi yang dikehendaki dermawan sepanjang tahun sesuai kemampuan masing-masing. Jangan sampai usai Idulfitri, kita kembali bersitegang leher, berebut lahan kekayaan, pangkat dan jabatan, pengikut dan apa saja yang bisa menunjang kekuatan.
Menurut KH Gusti Abdul Muis, seorang Ketum MUI Prov Kalsel (alm) beberapa waktu lalu berkata, “Di masyarakat Banjar yang katanya agamis ini sebenarnya terjadi silent negatif competation (persaingan jelek secara tertutup); padahal agama mengajarkan persaingan sehat, fasytabiqul-khairat (ayatnya), berlomba dalam berbuat kebaikan, istilahnya open positif compatation (persaingan sehat secara terbuka).”

Inilah inti Idulfitri. Bila ini yang bisa berjalan di sepanjang tahun, barulah terwujud umat Islam menjadi rahmat. Kita tidak mampu seperti Rasulullah SAW rahmatan lil-alamin, yaitu membawa rahmat bagi dunia, ya rahmat dimana kita berada sudah memadai, bukan membawa onar dan petaka atau menjadi backing kemaksiatan.

Selamat Idulfitri 1439 H, dengan iringan doa taqabballaahu minna wa minkum, wa kullu sanah wa anta thayyib, semoga Allah SWT menerima ibadah kita semua; dan sepanjang tahun kita semua dalam kebaikan. Amin. (OLEH: KH HUSIN NAPARIN, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel)

Tulisan ini dimuat di harian Banjarmasin Post edisi hari ini Jumat (22/6/2018)

Editor: Ernawati
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Video detik-detik Vicky Prasetyo Gerebek Angel Lelga sedang Selingkuh di Kamar Pukul 2 Dinihari

Berita Populer