Kanal

Aktualisasi Madihin dan Lawak (Mengenang John Tralala)

Jhon Tralala - banjarmasinpost.co.id/khairil rahim

Ahmad Barjie B
Penulis buku ”Mengenang Ulama dan Tokoh Banjar”
(Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel)

DUNIA seni budaya Banjar Kalimantan Selatan kembali kehilangan salah seorang tokohnya. HM Yusran Effendi bin H Asin yang lebih populer dengan nama John Tralala meninggal dunia Selasa 26 Juni 2018 dalam usia 59 tahun. Almarhum yang lahir di Lampihong HSU 13 Juni 1959, meninggal di RS Polri Hoegeng Imam Santoso Banjarmasin karena sakit jantung. Jenazah dimakamkan Rabu 27 Juni di alkah keluarga Pasar Arba Pemangkih Kabupaten Banjar.

Ribuan pelayat datang silih berganti begitu mendengar kepergian almarhum. Mereka mendoakan dan mensalatkan jenazah secara bergantian di rumah duka. Sejumlah karangan bunga duka cita berjejer di sekitar kediaman almarhum, begitu juga berita dan ucapan duka cita tersebar di media massa.

Berita meninggalnya John cepat tersebar tidak hanya melalui media online dan grup WA dalam daerah, tetapi juga melalui grup-grup komunikasi online Banjar Lintas Negara. Ketika saya menghubungi Zakaria Anshari, tokoh Banjar di Kuala Tungkal Jambi yang biasa mendampingi John dalam lawatannya di Provinsi Jambi dan Kepulauan Riau, masyarakat Banjar di sana juga sudah mendengar dan turut berbela sungkawa dan mendoakan arwahnya.

John Tralala dikenal luas oleh masyarakat, mulai dari kelas awam hingga pejabat, pengusaha dan kalangan ulama, dari anak-anak hingga orang tua. Tidak hanya di Kalimantan Selatan, tetapi juga di seluruh penjuru Kalimantan, Sumatra, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam.

Kita yang mengenal dan bersimpati kepada John tentu berduka cita atas meninggalnya tokoh seniman Banjar ini. Sebab tidak banyak seniman, apalagi pemadihin dan pelawak kondang sekaliber John Tralala, yang mampu mengangkat nama dan daerahnya ke atmosfer yang lebih luas. Wajar banyak kalangan merasa kehilangan.

Sultan Haji Khairul Saleh dari Kesultanan Banjar yang 2014 lalu memberikan Anugerah Astaprana bidang seni tradisi kepada John Tralala mengaku kehilangan dengan perginya seniman-budayawan yang satu ini. Sultan berharap akan ada pengganti yang bisa meneruskan kiprah John dalam seni budaya madihin, baik dari kalangan keluarga, murid atau kadernya maupun generasi muda umumnya. Banjar membutuhkan seniman-budayawan yang mampu menggali khazanah kesejarahan, kebudayaan dan keagamaan untuk diaktualisasikan dalam bentuk seni, termasuk madihin yang sudah makin langka saat ini.

Aktual dan Kontekstual
Bila kita tengok ke belakang, rekam jejak John Tralala di bidang seni budaya sudah cukup lama. Sejak era 1980-an ia sudah terjun sebagai penyiar radio-radio siaran swasta niaga di Kota Banjarmasin dan sekitarnya. Pada tahun yang sama ia juga membentuk John Tralala Group. Belakangan, John juga rutin tampil dalam acara-acara televisi. John tak hanya mengandalkan karya sendiri, tetapi juga suka menampilkan karya budayawan senior, seperti Datu Mangku Adat (DMA) Adjim Arijadi (alm) melalui acara “Baturai Pantun”. John juga tak ingin maju sendiri, ia menyertakan beberapa seniman potensial, seperti anaknya Hendra, Anang Rusli dan beberapa lainnya.

Banyak acara yang diasuh oleh John, yang ujung-ujungnya tentu membuat orang tertawa dan terhibur. John sering tampil di acara-acara rakyat seperti walimah perkawinan, acara di pemerintahan, saprah amal pencarian dana keagamaan, hingga acara-acara budaya lainnya. Ia juga sering tampil dalam iklan layanan masyarakat dan iklan komersial untuk mengenalkan produk-produk banua. Meskipun di puncak kariernya, John memperoleh imbalan yang makin signifikan, namun bersama grupnya bisa menyesuaikan diri. Ketika kegiatan bersifat sosial keagamaan, pencarian dana untuk keagamaan, John lebih mengedepankan sifat sosialnya.

Di antara kelebihan John ialah kemampuannya bertutur dengan meniru bahasa-bahasa daerah, yaitu bahasa Banjar dengan beragam dialek dan subdialek yang ada di Kalimantan Selatan, bahkan juga bahasa etnis lain. Ia juga mampu menuturkan bahasa Inggris, Arab, Mandarin dan Jepang dengan nada humor. Memang madihin adalah seni tradisi yang mengandalkan olah kata dan bahasa, teka-teki (cucupatian), plesetan, dan joke-joke lainnya.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Satu Keluarga di Bekasi Tewas, Tetangga Dengar Korban Telepon Bahas Uang dan Mobil dengan Nada Keras

Berita Populer